Yang sangat berbekas dan ingin kuperbaiki (terhadap anak-anakku) dari cara parenting orang tuaku salah satunya adalah soal kepatuhan. Mungkin memang saat itu penegakan disiplin dengan kekerasan/tekanan, hukuman, teriakan dsb dianggap wajar dan normal dalam pengasuhan anak-anak, karena tujuannya baik. Hingga kini generasiku juga tampak meromantisasi perilaku keras orang tua jaman dulu (sebagaimana orang tuaku meromantisasi perilaku keras orang tua mereka juga, mengamini bahwa itu cara terbaik untuk mendidik anak, dan mereka mereka merasa sekarang pun mereka baik-baik saja).
Sebenarnya banyak juga orang tua generasiku yang ingin memutus rantai kekerasan dalam pengasuhan, tapi banyak juga yang salah kaprah, atau hanya memahami cara-cara pengasuhan lembut di permukaan saja, tak menyentuh akarnya. Ketika mereka menganggap cara tersebut tak berhasil, malah menghasilkan generasi yang “lembek” dan tak mau “ikut aturan”, mereka melihat kembali gaya parenting ala VOC sebagai cara mendidik yang tepat.
Sebagai orang tua muda, aku giat belajar tentang parenting. Tapi dari sekian banyak metode parenting yang kupelajari, aku masih merasakan ada sesuatu yang sangat mendasar yang jarang disentuh. Secara teori kita setuju, menjadi orang tua yang tenang akan menenangkan sistem saraf anak yang sedang overwhelm. Lalu kita sebagai orang tua akan berusaha menjadi orang tua yang tenang, karena kita tahu efeknya sangat baik untuk anak. Sewaktu anak masih bayi mungkin ini cukup mudah untuk dilakukan. Namun semakin anak beranjak besar, menjaga agar diri ini bisa tetap tenang menghadapi anak yang semakin kompleks jadi cukup menantang.
Dalam rangka berusaha menjadi orang tua yang tenang, yang kita lakukan biasanya adalah menenangkan diri, menekan emosi, atau berusaha mengalihkan agar fokus pada tujuan jadi orang tua yang tenang. Stok sabar perlu diperbanyak. Hingga pada suatu titik stok sabar habis dan meledak lah amarah kita. Kemudian kita merasa gagal menjadi orang tua yang tenang dan sabar. Tak jarang juga timbul rasa bersalah telah memarahi anak. Lambat laun, kita menjadi orang tua yang ingin kita hindari sebelumnya. Kita mulai menerapkan disiplin dengan tekanan dan hukuman, karena kita ingin cepat melihat hasil. Toh cara itu dulu berhasil kan?
Anak yang patuh karena takut, yang taat karena tekanan atau kemarahan orang tuanya, memang akan terlihat baik di permukaannya. Siapapun akan senang melihatnya. Mudah diatur, tidak membantah, selalu mengikuti aturan. Namun di bawah permukaan, ada harga yang diam-diam harus dibayar tanpa kita sadari. Beberapa di antaranya:
Kebanyakan tindakan orang tua dalam pengasuhan berasal dari luka, bukan cinta tanpa syarat, meskipun tujuannya baik. Dan luka innerchild ini kembali diturunkan ke generasi berikutnya karena kita belum bisa menyadari dan memeluk luka ini. Hurt people hurt people. Tentang luka innerchild memang sudah sering disinggung dalam parenting, dan itu memang berpengaruh besar terhadap bagaimana kita bereaksi dalam pengasuhan, dalam berelasi, dan aspek kehidupan lainnya. Tapi kemudian kita jadi terobsesi menyembuhkan luka innerchild ini, atau selalu kita jadikan pembenaran akan kesalahan kita. Aku kan sekarang begini, karena aku ada luka ini. Ada identifikasi pada label tersebut. Tak jarang kita jadi “menyalahkan” orang tua kita atas apa yang terjadi pada diri kita saat ini.
Di sinilah aku merasa ada akar yang belum tersentuh dari sekian banyak metode parenting, yaitu spiritualitas. Memang sudah ada yang suka mengupasnya, seperti Gobind Vashdev, dan aku resonan dengan pemaparannya. Meskipun dulu belum benar-benar bisa menghidupi apa yang sering beliau sampaikan, tapi lewat gerbang parenting inilah aku masuk lebih dalam ke ranah kesadaran.
Lalu bagaimana kesadaran itu bisa hidup dalam diri seorang anak? Titik awalnya jelas dari diri orang tuanya terlebih dahulu, yang hadir utuh. Ini bukan artinya menjadi orang tua yang sempurna, atau harus bijaksana, harus berwawasan, bahkan harus sabar, tapi dari kehadiran yang tidak tercerai. Anak tahu meski kita merasa lelah atau marah, mereka tetap diterima. Kita hanya perlu menjadi manusia, dan memandang anak sebagai manusia yang sama-sama sedang bertumbuh. Dari situ, peran mengalir melalui kita. Kadang kita bisa sangat dekat layaknya teman, kadang memberi arahan karena kita memiliki jam terbang di dunia lebih banyak, kadang mengakui bahwa kita salah dan lelah. Tidak perlu harus merasa selalu kuat. Kita menyadari apa yang sedang terjadi di dalam diri, tanpa urgensi harus mengubahnya dulu.
Ketika anak tantrum, kita tidak langsung bereaksi otomatis mendiamkan atau membentak anak, atau berusaha tenang. Kita berhenti sejenak dan mengenali, “ada rasa marah terpicu”, “ada rasa ingin mengendalikan anak”, “ada rasa malu dengan orang di sekitar” dsb. Kita juga mengenali ada pikiran melintas, “Kenapa dia selalu begini?”, “Sampai kapan dia kaya gini?”, “Kenapa sih kamu ngga tenang aja kayak anak lain?” dsb. Dan semua itu boleh hadir, tapi tanpa kita follow up. Kita tidak lagi segera menutupinya dengan afirmasi dan positive thinking. Kita menerima semua nuansa batin kita, yang nyaman maupun yang ngga nyaman. Ketika kita bisa tetap ajeg di tengah badai, sistem saraf anak bisa ikut stabil. Keajegan itu lahir bukan lahir dari manipulasi pikiran dan menahan emosi, tapi dari kesadaran yang mengenali bahwa perasaan dan pikiran boleh mampir tapi bukanlah diri sejati kita. Dari keajegan itu, kita bisa memilih respon, bukan menjadi reaktif. Anak juga akan belajar meregulasi dirinya sendiri dari meyaksikan orang tuanya.
Anak yang merasa dihargai, diterima seapa adanya, dan sistem sarafnya aman, ia lebih cenderung mengikuti batas yang ada. Jadi kelembutan pun perlu batas, bukan berarti dibiarkan seenaknya. Batas di sini tidak hadir untuk mengendalikan anak, tetapi memberikan rasa aman dan struktur yang nyata. Jika anak melakukan kesalahan, alih-alih memberikan hukuman, apalagi sambil disertai kemarahan, anak akan lebih banyak belajar melalui konsekuensi logis akibat tindakannya. Konsekuensi logis membantu anak memahami hubungan sebab-akibat secara langsung sehingga pembelajaran lebih alami dan nempel.
Memang jalan ini tidak memberikan hasil yang instan dan cepat terlihat, karena kesadaran bukan sesuatu yang dibentuk dari luar, melainkan ruang dalam yang diizinkan untuk tumbuh pelan-pelan. Pelan, tapi dalam, karena ia menumbuhkan akar terlebih dahulu. Tapi setiap kali kita memilih jalan lembut, kita juga sedang menyembuhkan diri kita sendiri yang dulu pernah merasakan tekanan itu. Ini adalah proses dua arah. And that’s how we heal generational wounds. ❤️
--