'Bawa jerigen untuk air kelapanya ya' Begitu pesanku sebelum si bapak pergi. Sesampainya di rumah, kulihat jerigen itu terisi tak sampai setengahnya. 'Kok sedikit ya?, tumpah ya waktu dituang?' Sembari bertanya kubuka satu-persatu kelapa yang sudah dibelah itu. 'Wah, ketuaan ternyata, batal deh bikin klaapertartnya' kulihat daging kelapa yang baru dibeli si bapak itu semuanya tebal dan mulai mengeras.
Sambil memikirkan penganan lain yang mau kubuat sebagai penggantinya aku jadi teringat tentang esaiku dan segera aku berkata-kata (sendiri), 'Berarti memang betul ya, elemen tanah asalnya dari air. Buktinya kelapa ini. Saat kelapa masih muda airnya banyak, daging buahnya tipis, semakin tua airnya memadat jadi daging kelapa yang kian tebal dan kian keras lalu airnya kian berkurang'.
Mungkin saja itu analisa abal-abalku, tapi pastinya para rishi tidak begitu. Mereka menuliskan tentang Five Great Elements di dalam kitab-kitab kuno berdasarkan wahyu yang mereka peroleh lewat intuisi mereka. Pengetahuan semacam itu disebut paradharma, pengetahuan yang disebut sebagai sumber pengetahuan yang lengkap (complete), berlaku untuk semua orang, tak tergantikan, tak terbandingkan dan tak lekang oleh waktu.
Pengetahuan itu didapatkan sebagai wahyu dari Atas melalui kemampuan bernama intuisi. Intuisi adalah sejenis kepekaan untuk mengetahui sesuatu tanpa kejelasan pengetahuan itu berasal dari mana.
Berdasarkan daya tangkapnya, kemampuan yang dinamakan 'intuitive gifts' itu bisa dibedakan menjadi beberapa yaitu claircognizance, clairsentience, clairvoyance, clairaudience, clairalience dan clairgustance.
Claircognizance berarti 'clear knowing', adalah kemampuan seseorang untuk menerima informasi dalam pikirannya, dan menjadi tau lewat pemahaman, logika atau deretan kata-kata tanpa bisa menjelaskan darimana itu diperoleh.
Selanjutnya clairsentience atau 'clear feeling', adalah kemampuan seseorang untuk menerima informasi dalam bentuk perasaan, ini sering disebut juga sebagai 'gut feelings'. Perasaan yang tiba-tiba muncul tanpa kejelasan dari mana asalnya ini bisa diartikan suara dari hati kecil, misalnya tiba-tiba ingin bawa payung, lalu ternyata benar-benar hujan, atau tiba-tiba enggan pergi lalu benar ternyata ada sesuatu hal terjadi, sehingga informasi itu jadi seperti petunjuk 'halus' yang mengarahkan seseorang selain dari kemampuan nalar biasa.
Yang ketiga clairvoyance atau 'clear vission', yaitu kemampuan untuk melihat di luar jangkauan penglihatan normal pada umumnya. Pada seseorang dengan clairvoyance, informasi itu diterima berupa vision atau gambaran. Bisa seperti tiba-tiba melihat sebuah potongan gambar yang mengingatkan pada suatu memori atau tempat atau yang lainnya sehingga potongan gambar tersebut bisa bercerita dan jadi petunjuk sesuatu.
Yang keempat clairaudience atau 'clear hearing'. Sesuai namanya, kemampuan ini ditangkap dalam bentuk suara, bisa seperti seolah mendengarkan musik atau percakapan di dalam kepala. Suara itu jadi sumber informasi yang menjadi pemahaman atau petunjuk ke hal lain.
Yang kelima clairgustance atau 'clear tasting' adalah kemampuan untuk merasakan sesuatu padahal rasa itu tidak benar-benar ada. Seseorang dengan kemampuan ini berbakat alami menjadi chef.
Yang keenam clairalience atau 'clear odor' yaitu kemampuan untuk mencium bau tanpa keberadaan sumber bau yang jelas. Bau-bau itu bisa membawa memori tertentu pada tempat tertentu atau keberadaan seseorang melalui aroma khasnya.
Jika diperhatikan lagi, semua jenis 'clair' itu mengingatkan pada tipe-tipe kecerdasan seseorang. Maka jadi kian jelas keterkaitan elemen yang dominan pada diri seseorang dengan potensi dirinya. Jelas juga bahwa ketika kita bisa memahami siapa diri kita dengan kacamata itu, kita tak hanya bisa mengelola keseimbangan diri dengan baik dalam konteks kesehatan secara menyeluruh namun sekaligus juga bisa menggali potensi terbaik yang kita miliki. Tap into our greatest potential.
Pernahkah kita menyadarinya? Baiklah, sekarang daging kelapa muda yang keras ini kujadikan susu kelapa dulu saja, dibikin es kopi susu enak juga kok...
Baru sempat komen pagi ini... Yuli ini yang belum lama ini saya pahami sebagai perbedaan antara intelegensi dan intelektualitas. Manusia modern sangat tidak menyadari intelegensi (yang dimiliki seluruh sel tubuhnya) dan sangat bersandar pada pikirannya belaka. Terima kasih atas insightnya tentang 'Clear Knowing'. Sangat menarik. 🙏🏼😊
Ah, terima kasih juga atas 'penerang' nya dalam intelegensi dan intelektualitas. Ini jadi menghubungkan juga bagaimana postur seseorang juga bisa menjelaskan kecenderungan seseorang yang bersandar pada inelektualitasnya (otak depannya) dan lagi-lagi sejatinya hidup ini adalah soal keseimbangan belakan. How good we dance in between two poles. Manusia itu sungguh sangat menarik kak Andy... Mungkin karena sejak kecil kita diajari dengan 'fakta' bahwa kita punya panca indera yang menyebutkan indera kita hanya 5 padahal nyatanya ada indera ke 6 dan ke 7 yang justru sangat penting untuk kemampuan keseimbangan kita. Semesta kecil di dalam diri manusia itu sungguh mengagumkan. 😁
https://ririungan.semipalar.sch.id/kak-andy/blog/320/aes019-antara-intelegensi-dan-intelektualitas 🙏🏼😊