Mr. Goro duduk sambil tersenyum. Dihadapannya ada semangkuk nasi panas dengan sedikit butter di tengah-tengah. Dia mengambil sedikit-sedikit nasi dari samping di dalam mangkok lalu diletakkan diatas mentega itu, membiarkan nasi panas itu melelehkan butter dan sambil menunggu dia menangkapkan kedua tangannya di dada sambil menutup matanya menunggu selama 30 detik. Kemudian dia menaruh kecap beberapa tetes, mengaduk-aduk nasinya, lalu menikmatinya dengan mata sedikit terpejam.
Itu adalah salah satu adegan dari film seri Midnight Diner (Shinya Shokudo). Cerita berlanjut. Mr. Goro adalah penyanyi keliling dan mampir untuk makan di sebuah warung yang buka pukul 12 malam hingga pukul 7 pagi. Di situ dia tidak usah membayar makanannya dengan uang, tetapi dia membayarnya dengan sebuah lagu. Lagu yang selalu sama yang dia nyanyikan selama 40 tahun tentang cintanya yang hilang!
Seorang food critic kebetulan ada di warung itu, dan sejak melihat Mr. Goro memesan butter rice, dia memesan yang sama, dia kembali ke warung itu berkali-kali karena berusaha berjumpa lagi dengan Mr. Goro. Kalau teman-teman ada yang bermaksud menonton, silahkan berhenti membaca hingga di sini sebab ini cerita saya merupakan spoil alert!!!
Kakak food critic itu ternyata adalah cinta Mr. Goro yang hilang, yang dulu selalu menjamunya dengan butter rice. Karena cinta yang hilang itu Mr. Goro selama 40 tahun makan butter rice dan menyanyikan lagu yang sama yang dia ciptakan tentang pujaan hatinya.
Makanan bergitu penting dalam hidup, sebagai sumber energi untuk hidup. Kita berbagi dan menciptakan cerita tentang kehidupan yang terjadi di seputar makanan. Makanan memberikan kenyamanan, memelihara tubuh dan juga menyembuhkan kita. Tapi jangan salah, makanan juga sangat erat hubungannya dengan peristiwa hidup. Seperti misalnya ketika saya makan jengkol atau nasi padang, saya merasakan ada semacam kepuasan yang tidak biasa. Dan hal itu meyakinkan saya bahwa makanan dan memory memiliki keterkaitan. Bau dari makanan dapat membangkitkan kenangan yang sudah jauh terpendam di dalam alam bawah sadar kita. Kita dapat menghubungkan suatu makanan dengan peristiwa atau masa lalu yang begitu mengesankan sehingga tertanam dalam otak kita. Begitu pada suatu saat rasa atau keharuman makanan itu kita jumpai, secara seketika memory kita dibangkitkan dari bawah sadar!
Saya mulai menonton film seri Midnight Diner itu karena membaca ulasan dari kak Ine. Sekarang sudah ada 5 seasons. Mungkin total ada di atas 50 episode dan setiap episode seolah-olah menceritakan banyak kenyataan hidup orang-orang yang bersentuhan di seputar warung makan dan makanan yang mereka nikmati di situ. Sangat menarik!
Satu episode yang lain juga alurnya hampir mirip, saya lupa judulnya tapi ada seorang artis yang selau datang ke warung itu dan selalu memesan yang sama, Yakisoba dengan telur setengah matang di atasnya. Dia selalu memesan itu untuk mengingat masa kecil dia ketika ayahnya selalu memasakkan makanan itu. Ya, cerita ini juga semakin memperkuat pendapat saya bahwa makanan dan memory terhadap peristiwa kehidupan tidak terpisahkan.
Yakisoba, ini adalah mie goreng dan dimasak dengan bumbu yang khas ada bau-bau gosong dan rasa asap yang mirip-mirip dengan smoke liquid. Saya masih berusaha mencoba membuatnya dari scratch. Saya penggemar yakisoba dan dulu di perantauan saya kalau kelaparan sering pergi ke sebuah warung Jepang yang buka semalam suntuk dan memesan yakisoba. Nah lagi-lagi makanan mengembalikan saya ke peristiwa hidup yang pernah saya alami, lengkap dengan kondisi saat itu, masa-masa petualangan yang tidak terlupakan. Seringkali saya berharap, berangan-angan untuk kembali mampir ke tempat-tempat tertentu untuk menikmati makanan yang pernah saya nikmati di masa lalu, hanya sekedar menghidupkan kembali kenangan-kenangan hidup yang melekat dalam benak saya.
Satu lagi sebagai penutup. Saya menggemari pork chop, daging yang terletak sedikit di bawah punggung, ada yang bertluang dan ada yang tidak, itu kalau dalam bahasa Inggris di bagian loin. Saya banyak mencoba pork chop dari berbagai tempat, berbagai restoran dan berbagai cara memasaknya dari ala Vietnam, Amerika, Thailand bahkan saya sering ngarang sendiri karena tergantung mood dan kreatifitas jika saya sedang kangen. Tapi ada sekali dalam hidup saya tidak pernah lupa pork chop yang saya makan, yaitu di sebuah rumah di kota Lowell, kota kecil di luar Boston. Itu sekali-kalinya dalam hidup sahabat saya tercinta Anthon masak untuk saya. Hanya sekali-kalinya! Dan itu tidak terlupakan! Saat ini saya kembali mengenang saat itu sambil berdoa agar sahabat saya ini kembali sembuh sebab saya ingin sekali lagi sebelum hidup saya berakhir menikmati pork chop-nya!***
Foto: Pinterest
Yaa, ini serial yang sangat menarik juga, keren sekali, karena bercerita tentang kisah kehidupan beragam manusia yang mampir ke diner kecil itu. Dan ya... doa untuk Aje... ππΌππΌππΌ