Saya yakin ada dorongan besar dalam diri setiap manusia untuk memikirkan tentang hal ini, tentang Spiritualitas. Topik yang tidak banyak dibahas di dalam percakapan sehari-hari. Tapi manusia sejatinya adalah makhluk spiritual - sehingga hal ini sebetulnya tidak terhindarkan. Kalaupun tidak banyak terpikirkan, hal ini dikarenakan manusia dalam menjalani kehidupannya terlalu disibukkan dengan hal-hal yang sifatnya material, keduniawian. Kesadarannya terbenam dan bisa jadi terlupakan (forgotten).
Walaupun demikian dimensi kesadaran ini tidak mungkin hilang dan dalam berbagai prosesnya akan terus berusaha menyeruak keluar dan membuat manusia setidaknya bertanya-tanya, tentang makna, tentang tujuan hidupnya akan eksistensi dirinya. Sejauh saya pelajari, hal ini memang tidak terhindarkan, atau tidak bisa dinegasi, bagaimanapun caranya. Jadi cepat atau lambat, kesadaran manusia akan mendorong spiritualitas
Dalam bentuknya yang paling ekstrim, seseorang bisa jadi merasa sangat gelisah, atau bahkan masuk ke tahapan depresi, karena jiwanya ingin berontak dan keluar dari sisi dalam dirinya untuk kemudian mendapatkan pengakuan dan kemudian diterima sebagai esensi kesejatian diri seorang individu. Dalam perpektif deep psychology nya Carl Gustav Jung. Hal inilah yang disebut sebagai The Dark Night of The Soul. Salah satu dari tahapan penemuan diri manusia menjadi manusia seutuhnya. Proses yang disebutnya sebagai Individuation - menjadi seorang individu. Sebagai catatan, individual - akar katanya berasal dari bahasa latin yang masing-masing adalah in dan dividuus, yang maknanya adalah tidak bisa dipisahkan. Ini yang sangat berhubungan dengan konsep pendidikan holistik di Semi Palar.
Di titik ini, kita semua berhadapan dengan hal ini, setelah proses panjang Rumah Belajar Semi Palar (dua dekade) mencoba memahami apa dan bagaimana manusia holistik itu. Di titik ini, pemikiran apapun tentang Spiritualitas menjadi penting bagi kita semua, bagi kita para pendidiknya, orangtua dan para kakak, tentunya kemudian untuk anak-anak kita. Contoh sederhananya, "Menemukan Bintangku Masing-masing" yang jadi pemahaman belajar bagi anak-anak di Smipa adalah sejatinya sangat spiritual. Siapa saya, Who Am I?, apa makna atau tujuan hidup saya di dunia ini, adalah hal-hal yang spiritual yang hanya muncul dari ruang kesadaran diri. Literasi Diri mendapatkan konteksnya di sini.
Dan saat kita atau anak-anak kita mulai menelaah ke dalam diri? Di sanalah kita akan menemukan ruang kedirian manusia yang pada dasarnya tak berbatas. Hal inilah yang sepertinya terabaikan di peradaban manusia hari ini. Hal yang menyebabkan segala sesuatu jadi serba kacau, serba bergejolak, terlepasnya kesadaran manusia, dimensi keIlahian manusia, dimensi yang sesungguhnya bisa dijangkau oleh setiap individu manusia saat manusia ingat kembali akan kesejatian dirinya, sebagai kepingan keSemestaan. Semoga tulisan ini bermanfaat.
Photo by Ruslam Espinosa: https://www.pexels.com/photo/silhouette-of-a-person-on-red-background-14706912/