AES166 Sepenggal Kisah dari Dusun Ngadiprono : Trasah
Andy Sutioso
Wednesday October 27 2021, 9:17 PM
AES166 Sepenggal Kisah dari Dusun Ngadiprono : Trasah

Tulisan ini masih rangkaian dari tulisan tentang Revitalisasi Desa yang diprakarsai mas Singgih dan Spedagi di Temanggung, Jawa Tengah. Karena ini tulisan-tulisan pendek, topik-topiknya tidak berurutan. Saya akan menuliskan dari apa yang saya pikir menarik untuk dituliskan. Kali ini saya akan menulis tentang Trasah. 

20170511_160354.jpgTrasah, menurut mas Singgih adalah sebentuk kearifan lokal di daerah Temanggung sana. Gunanya untuk memperkeras tanah yang akan dimanfaatkan untuk jalanan atau keperluan lainnya. Trasah ini pertama kali saya lihat di area Pasar Papringan, di Dusun Ngadiprono. Mas Singgih, penggagas Pasar Papringan ini mengajak saya berkunjung ke sana sehari sebelum dibukanya Pasar Papringan Ngadiprono yang pertama. 

Untuk membuatnya masyarakat setempat memanfaatkan batu kali yang diambil dari sungai dari daerah setempat. Batu kali yang biasanya bentuknya bulat dalam berbagai ukuran dibelah dan ditata dalam berbagai ukuran dengan permukaan batu yang rata menghadap ke atas. Saat saya perhatikan sepertinya ada tekniknya bagaimana dan dimana menempatkan batu dengan ukuran tertentu yang kemudian dipukul menggunakan martil (palu besar) agar tertanam ke dalam tanah. Celah di antara batu-batu berukuran besar, diisi dengan pecahan batu yang berukuran lebih kecil. Hasil akhirnya adalah permukaan tanah yang bisa cukup rata untuk diinjak dan sepertinya cukup kuat menahan beban yang cukup berat seperti kendaraan bermotor. Menariknya, pasangan batu Trasah ini masih bisa menyerapkan air ke dalam tanah karena celah-celah di antara batu memungkinkan air untuk tetap masuk ke dalam tanah. Di sisi lain, saat sudah dibersihkan, Trasah ini menurut saya sangat estetis. Bagus sekali. Mungkin juga karena diberi sentuhan oleh Mas Singgih - yang notabene adalah seorang desainer.  

Dari cerita Rico, sebelum Trasah dipasang, mas Singgih dan tim memetakan dulu aliran air permukaan (air hujan) di area tersebut, dan kemudian Trasah yang dipasang di sana dirancang mengikuti aliran air permukaan yang alamiah ada di sana. Menurut saya ini keren banget. Salah satu contohnya ada di gambar di bawah ini. 

20170513_160625.jpg

20170513_160548.jpg

Mas Singgih juga menempatkan pola-pola tertentu di area Pasar Papringan menggunakan variasi batu besar dan kecil, dan ini jadi elemen estetis di area yang dinaungi rumpun bambu yang luar biasa alami suasananya. 

Sejauh saya tahu juga, Mas Singgih dan tim Spedagi juga melakukan pendekatan ke pemerintah daerah setempat - bukan proses yang mudah untuk mengalihkan dana pembuatan jalan - yang saat ini semua menggunakan beton atau aspal - untuk kembali ke Trasah. 

Para pekerja dibuatkan kaos oleh mas Singgih - bertuliskan Laskar Trasah. Saya sempat beberapa waktu mengikuti mereka mengerjakan Trasah di area Pasar Papringan. Saya bahkan sempat diundang oleh bapak-bapak di sana untuk duduk bersama dan makan pagi. Wolon namanya, sarapan jam 9. Saya ditawari kopi dan roti oleh Bapak-bapak di sana dan diajak berbincang. Padahal saya orang asing bagi mereka. Saat mereka tahu saya ayahnya Rico - yang sudah di sana selama kurang lebih dua bulan, saya merasakan kehangatan penerimaan mereka bertambah. Suasana ini - keramahan ini sudah lama tidak saya rasakan, dan sepertinya, hanya di tempat-tempat seperti inilah - contohnya di Dusun Ngadiprono, hal ini masih hidup di dalam keseharian masyarakat di sana.  

admin
@admin   5 years ago
Luar biasa ya, Kak... Semoga makin banyak muncul gerakan revitalisasi desa seperti ini.