Tulisan ini masih terkait dengan #JurnalSumba yang sebelumnya dan esai lain yang akan saya tuliskan. Salah satu perjumpaan saya dengan Suster Mathilde yang menjadi pembuka jalan sampainya saya ke tanah Sumba. Pertama kali saya berjumpa dengan Suster Mathilde kira-kira sudah 4 tahun yang lalu. Waktu itu beliau diajak berkunjung ke Semi Palar oleh pak Agus dan bu Winna – yang saat ini jadi rekan kami berkolaborasi di proyek Sumba ini.
Perjumpaan yang segera membawa kesan mendalam buat saya – sekaligus membuat saya merasa malu – dan terpicu untuk terus mencari cara berbagi kebaikan lewat apa yang kita miliki di Rumah Belajar Semi Palar. Betapa tidak, saat saya berjumpa dengan suster, beliau berusia 69 tahun. Beliau adalah seorang suster kelahiran Jerman dan sudah sejak lama memperjuangkan banyak hal – terutama pendidikan bagi anak-anak di Sumba Barat Daya. Beliau adalah anggota konggegrasi (ordo) suster-suster ADM yang sejak tahun 1938 berkarya di Indonesia – di Jawa Tengah. Tahun 1958 tiga orang suster ADM, dua orang dari Jerman dan satu dari Indonesia pergi ke Sumba begitu saja dengan membawa misi kemanusiaan – (kesehatan, pendidikan dan lainnya) di wilayah Sumba. Luar biasa ya. Beliau bukan orang Indonesia, tapi kecintaannya bagi anak-anak, masyarakat dan tanah Sumba begitu besar.
Mendengarkan kisah beliau – saya tidak bisa membayangkan apa yang dihadapi saat itu. Saat ini saja di Sumba Barat Daya – segala sesuatu masih sangat sederhana – dilihat dari standar kehidupan kita hari ini. Pak Agus mengibaratkan bahwa sekolah-sekolah di Sumba ini seperti sekolah-sekolah di Bandung, mungkin 40 – 50 tahun yang lalu. Tertinggal mungkin 4 – 5 dekade.
Saya jadi teringat apa yang dikatakan mas Singgih (Spedagi) tentang desa-desa atau daerah-daerah tertinggal di Indonesia bahwa desa adalah masa depan (dunia) yang tertinggal di masa lampau. Saya memberi tanda kurung untuk kata dunia karena kita bicara dalam konteks Indonesia. Jadi ya memang jadi tugas kita yang mampu melakukan sesuatu untuk membawa mereka selangkah demi selangkah kembali ke masa sekarang.
Beberapa hari di Sumba, saya bisa segera merasakan, melihat apa yang dilihat Suster Mathilde di dalam diri anak-anak Sumba. Semangat mereka yang begitu besar. Saya juga melihat betapa banyak hal yang perlu dan bisa dilakukan untuk ikut membangun Indonesia – tidak hanya di Sumba – tapi juga di berbagai daerah di Indonesia. Sumba Barat Daya dalam hal ini hanya satu titik yang kebetulan terbuka pintu kesempatannya untuk bisa kita telaah dan kenali lebih mendalam bernagai potensi dan kendalanya. Sebuah tempat di mana kita bisa, sangat bisa melakukan sesuatu – berbagi dari segala kebaikan dan kebercukupan yang kita punya terutama melalui Rumah Belajar Semi Palar sebagai sebuah lembaga pendidikan.
Di berbagai sudut Indonesia yang kerap luput dari perhatian kita semua. Indonesia adalah bangsa yang sangat besar, tanah air yang sangat-sangat luas. Masih banyak potensi sekaligus juga masih begitu banyak kendala untuk menjadikan segala potensi tersebut mewujud jadi kebaikan bagi semua.
Kembali ke judul di atas, bagi saya pribadi, Suster Mathilde adalah sosok yang sangat menginspirasi sekaligus memotivasi kita semua untuk terus mencari cara melakukan sesuatu – sejauh kita bisa. Di Rumah Belajar Semi Palar kita sudah meyakini bahwa proses belajar – di dalam tujuan akhirnya adalah membawa kebermanfaatan, menjadi kebaikan.
Sejak 2 hari yang lalu Suster Mathilde yang datang lagi ke Sumba dari Jerman berada di antara kita di Weetebula. Di usianya yang sudah lanjut – masih tampak jelas semangat dan kebahagiaan beliau saat berjumpa dengan kita di sana. Ekspresi wajahnya, bahasa tubuhnya, kata-katanya, senyumannya semua menggambarkan itu. Berjumpa dengan kami, dengan mahasiswa Unpar dan anak-anak Sumba di berbagai lokasi, di LC, di desa Lendonara beliau tampak sangat bergembira. Hari ini beliau ikut kami pagi-pagi untuk pergi ke LC dan siang nanti kami akan beliau akan mengantar saya dan kak Lyn ke PAUD di STKIP – melihat pembelajaran di sana dan berjumpa dengan para dosen dan staff PAUD.
Salah satu motivasi saya berangkat ke Sumba kali ini adalah untuk berjumpa kembali dengan beliau. Beliau yang bukan orang Indonesia – tapi spiritnya jauh lebih besar dari kita semua. Beliau menempatkan diri sebagai ibu bagi anak-anak Indonesia di Sumba Barat Daya melalui segala apa yang sudah beliau lakukan sejak puluhan tahun yang lalu. Respek yang sangat mendalam bagi beliau. Semoga enerji yang terasakan bisa juga merembes kepada kita semua.
Senarai Jurnal Sumba :