AES402 JurnalSumba#2 | Umma Manganne
Andy Sutioso
Sunday August 7 2022, 9:00 PM
AES402 JurnalSumba#2 | Umma Manganne

Catatan kedua dari Sumba adalah tentang Umma Manganne. Seperti Rumah Belajar Semi Palar, Umna Manganne membawa spirit yang sama. Umma Manganne - bisa diterjemahkan bebas ke dalam bahasa Indonesia sebagai 'rumah tempat tumbuhnya kebijakan". Umma dalam bahasa Sumba artinya rumah, dan Manganne mengandung makna pintar - yang bukan sekedar pintar, tapi cerdas dalam arti yang lebih luas. Saya mencoba menggunakan istilah bijak.

umma 0.jpg

Umma Manganne Learning Center adalah tempat yang pertama kali kami kunjungi setibanya kami di Sumba Barat Daya. Tempat ini dibangun oleh Yayasan Nayalakan Harapan Anak Nusantara untuk menjadi tempat di mana yayasan ini mengelola aktivitas mereka di Sumba Barat Daya. Umma Manganne sendiri bertempat di kampus STKIP Weetebula. Sekolah guru yang jadi tempat pendidikan bagi para calon guru di Sumba Barat Daya. Umma Manganne - selanjutnya akan saya sebut sebagai LC (Learning Center) agar lebih memudahkan. 

Setibanya kami di LC kami melihat dua bangunan kecil yang terdiri dari beberapa buah container yang dimodifikasi menjadi 2 bangunan sederhana yang berseberangan. Di antaranya tampak aktivitas anak-anak yang sedang bermain dan belajar - bersama beberapa rekan mahasiswa jurusan matematika Unpar yang sedang menjalankan program mereka di sana. Pemandangan yang sangat menyejukkan mata - di tengah teriknya panas matahari dan gersangnya alam Sumba Barat Daya. 

Umma 00.jpg

Umma Manganne dipilih jadi tempat bergiat Yayasan ini karena Sumba Barat Daya (SBD) adalah wilayah termiskin di Sumba di bandingkan kabupaten lainnya - bahkan di Indonesia. Tanahnya sangat gersang dan kering. Saya lihat sendiri, di mana-mana tanah di SBD adalah batuan karang yang membuat tanaman sulit tumbuh di sana. Sebelum mendarat, dari pesawat terlihat tanah SBD berwarna coklat kemerahan. Tetumbuhan juga tampak gersang.

Sejauh saya ketahui, tingkat kemiskinan di SBD juga sangat tinggi - karena penghidupan di sini sangat sulit. Akibatnya tingkat perhatian masyarakat di SBD untuk pendidikan anak-anaknya juga sangat rendah. Hari ini kami sempat mampir ke salah satu Panti Asuhan di SBD - tempat di mana sebuah kongregasi suster menyelenggarakan sebuah tempat untuk membantu anak-anak yang tidak mendapatkan penghidupan dan pengasuhan yang semestinya dari orangtuanya. Usia pernikahan juga sangat rendah di sini. Jadi banyak sekali pasangan muda yang sudah punya anak walaupun masih belum punya kemampuan ekonomi untuk menyokong kehidupan keluarganya. Anak-anak yang saya jumpai di LC pada umumnya posturnya kecil-kecil, kurus. Saya dengar juga dari teh Pupu - salah satu aktivis di sini bahwa tingkat Stunting di kalangan anak-anak SBD sangat tinggi - mencapai 40%.

Walaupun begitu saya melihat bahwa semangat belajar dan antusiasme mereka sangat tinggi. Mereka sangat aktif - tidak bisa berhenti bergerak, rasa ingin tahu juga sangat besar. Anak-anak ini ekspresif, percaya diri, dan sepertinya penasaran terhadap kami - wajah-wajah baru di sana. Beberapa dari mereka mendatangi saya dan kak Lyn dan mengulurkan tangan untuk menyalami kami. Beberapa di antara mereka tampak malu-malu tapi kami bisa melihat mereka ingin tahu siapa kami dan kenapa kami hadir di sana. 

umma 3.jpg

Mereka merespon dengan semangat setiap ajakan kakak-kakak mahasiswa Unpar. Apa yang saya saksikan memantik rasa gembira sekaligus mengharukan. Saya berdiri di sana menyaksikan berbagai interaksi yang terjadi - sepertinya tanpa disadari banyak senyuman muncul menyaksikan rangkaian peristiwa yang terjadi di sana. 

umma 1.jpg

umma 6.jpg

Saya kira tidak berlebihan untuk menganalogikan LC sebagai oase di tengah keringnya tanah Sumba Barat Daya. Terbayang apa yang mereka lakukan tanpa kehadiran LC - yang dari hari ke hari menjadi tempat mereka terus belajar dan membangun diri di bawah dampingan kakak-kakak LC - juga kakak-kakak mahasiswa Unpar yang sudah nyaris 4 minggu hadir di sana. 

Anak-anak ini memang hanya butuh ruang, butuh kesempatan, butuh disapa dan diberikan ruang berekspresi. Mereka butuh diapresiasi dan diakui kehadirannya. LC memberikan itu kepada mereka. Sorot mata, gelak tawa, senyum lebar bertebaran di sana. Pemandangan yang luar biasa. Umma Manganne saya lihat memberikan makna pada setiap ketukan waktu yang mereka lalui di sana. Saya sangat bersyukur bisa hadir di sana. 

Hari pertama saya di tanah Sumba - membukakan cakrawala yang baru bagi saya tentang pendidikan, tentang kehadiran kita, tentang kebaikan yang bisa kita bagikan bagi anak-anak kita di satu sudut kecil Indonesia. Bagaimanapun mereka adalah anak-anak kita juga. Hari pertama ini menjadi catatan pembuka yang begitu manis bagi beberapa hari ke depan yang akan saya lalui di sini. Lebih jauh, semoga saya juga bisa menemukan apa yang kita - Semi Palar bvisa lakukan lebih jauh lagi untuk berbagi kebaikan di sini, di tanah Sumba - supaya anak-anak di sinipun bisa Semi Palar : bertumbuh menjadi harapan.

Sampai jumpa di tulisan berikutnya 🙏🏼.



Senarai Jurnal Sumba :