Kurikulum Indonesia hari ini tidak lagi merdeka. Karena Kurikulum Merdeka yang sekian lama diperjuangkan oleh kementrian Pendidikan di bawah mas Nadiem, diubah lagi setelah pergantian presiden dan para pembantunya. Menggaris bawahi bahwa selama ini ganti menteri, ya otomatis ganti kurikulum.
Menyedihkan, setelah entah berapa besar pajak rakyat yang digunakan untuk mengawal pergantian Kurikulum - padahal kementrian pendidikan memegang anggaran paling besar di dalam struktur anggaran APBN di Indonesia. Yang jadi bingung tentunya para birokrat di lapangan, Dinas Pendidikan Kota dan Kabupaten, yang lebih bingung dan bahkan jadi apatis adalah para kepala sekolah dan guru. Korban terbesar adalah anak-anak kita yang sedang belajar di atas kendaraan yang berubah-ubah pengemudinya dan entah akan membawa mereka ke mana.
Jarang disadari bahwa anak-anak kita belajar dalam proses panjang yang makan waktu belasan tahun, setidaknya 12 tahun meliputi Pendidikan Dasar dan Pendidikan Menengah. Proses ini meliputi hampir dua setengah kali masa periode jabatan Presiden dan masa kerja kementrian. Setiap pergantian akan perlu proses untuk struktur birokrasi pendidikan mulai dari DirJen hingga pengawas sekolah untuk memahami arah perubahan dan mentransferkan perubahan yang digariskan agar bisa diimplementasikan di ruang kelas. Lagi pula, Indonesia adalah negara besar yang jumlah penduduknya tersebar dari ujung Aceh hingga ujung Papua sana. Mengelola ini tidak mudah dan kompleksitasnya tinggi. Pengelolaan Kurikulum Nasional mutlak mempertimbangkan hal ini.
Entah, tapi sepertinya hal-hal ini tidak pernah dipertimbangkan. Akhirnya guru bingung, apatis dan lelah berubah, Yang paling parah, entah apa yang disampaikan pada murid di kelas-kelas di Indonesia. Murid-murid jadi korban terakhir kepentingan politik para politisi, birokrat dan penguasa. Setidaknya ini yang jadi hasil amatan saya selama lebih dari 25 tahun mengamati pengelolaan pendidikan di Indonesia.
Mari melirik ke negara lain. Saya pernah baca bahwa Finlandia mempertahankan konsep besar pendidikannya selama 25 tahun. Tidak banyak diubah - yang dilakukan hanyalah perubahan-perubahan kecil untuk memperkuat implementasi kurikulumnya. Pendidikan gurunya ditangani serius, guru-guru lulus dalam kondisi paham betul bagaimana menerapkan kurikulum di ruang kelas. Ada grand design dan ada rangkaian proses yang dipersiapkan secara serius agar pembelajaran berjalan dengan baik di ruang kelas. Tidak heran Finlandia memegang status sebagai negara yang sistem pendidikannya terbaik di seluruh dunia. Kuncinya satu, konsistensi.
Negara lain, Jepang contohnya. Dari yang saya tangkap karena saya sempat berkunjung ke Jepang untuk melihat ke berbagai sekolah dan pendidikan guru di Chiba University di tahun 2014. Catatan singkat perjalanan saya ke sana ada di tulisan ini : 10 Tahun Silam di Jepang. Jepang mengelola arah kurikulumnya dalam periode yang cukup panjang. Evaluasi besar dari kurikulum pendidikan di Jepang dilakukan dalam periode 10 tahunan. Hal ini saya lihat langsung dari bagaimana guru-guru dipersiapkan, dan bagaimana pembelajaran di sekolah-sekolah di Jepang diselenggarakan. Keren. Tidak heran bahwa Jepang adalah salah satu negara maju karena sistem pendidikannya terkelola dengan baik.
Lalu bagaimana dengan Smipa? Dalam perjalanannya yang ke dua puluh tahun, kurikulum Semi Palar tidak pernah mengalami perubahan yang mendasar. Yang dilakukan hanyalah perbaikan demi perbaikan, dan penyesuaian terhadap berbagai perubahan situasi. Bahkan dalam perjalanan 20 tahun ini, kami merasakan ada yang masih perlu membenahi kurikulum yang sudah berjalan bertahun-tahun. Secara esensial tidak ada yang berubah. Pendidikan holistik sudah kami yakini betul. Tujuan pembelajaran bahwa anak-anak perlu didampingi menemukan bintangnya masing-masing juga sudah jadi keyakinan kami, mengamati para alumni yang sudah mulai masuk ke masyarakat. Saat sudah menemukan dan berpijak pada esensi, semestinya tidak banyak yang berubah, yang terjadi adalah bagaimana semakin mendekat ke esensi tersebut. Manusia holistik, manusia yang berkembang seutuhnya, sebagaimana Sang Pencipta memberikan anugerah kehidupan, kepada kita, kepada anak-anak kita, tidak berubah - apapun situasi peradaban yang ada. Semoga catatan pendek ini jadi catatan penting buat kita semua. Salam.
Photo by Simon Migaj: https://www.pexels.com/photo/empty-road-between-trees-1237528/