AES431 Lagi, Tentang Narasi
Andy Sutioso
Tuesday November 1 2022, 9:17 AM
AES431 Lagi, Tentang Narasi

Narasi yang kita genggam dalam pikiran kita masing-masing memang sangat menentukan bagaimana kehidupan kita berjalan. Saya sempat menuliskan tentang bagaimana sistem pendidikan kita justru membangun narasi-narasi negatif dalam diri kita masing-masing. Saya menulis tentang ini dalam esai saya yang judulnya Membongkar Narasi Negatif dalam Diri Kita.

Beberapa waktu lalu di dalam salah satu sesi evaluasi yang saya ikuti, mendengar bagaimana kakak-kakak saling mengoreksi bagaimana menyampaikan pesan (narasi) kepada teman-teman kecil sehari-hari di kelas. Salah satu contohnya, bagaimana mengingatkan teman-teman untuk tidak berlari... Caranya bermacam-macam. Narasinya bisa berbeda-beda. Ini yang jadi menarik. Kita bisa bilang, "Teman-teman, jangan lari-larian ya." 

Memahami cara berpikir manusia, ternyata kata-kata atau narasi yang kita simpan di dalam benak itulah yang lebih menentukan. Jadi kalau kata-kata di atas yang diucapkan, yang terekam di benak anak-anak adalah lari-larian... Tentunya ada cara lain yang lebih baik ya, misalnya, "Teman-teman, tolong berjalan perlahan ya". Tentunya harapan kita adalah bagaimana narasi ini yang lebih direkam oleh teman-teman kecil ini - tidak berlari tapi berjalan perlahan. 

Dari contoh di atas ini, kita semestinya paham bagaimana pentingnya narasi. Menggambarkan juga kuatnya pikiran kita. Dari sini akhirnya pengelolaan diri jadi penting banget ya. Kalau kita bisa mengendalikan pikiran kita, menata agar pikiran kita senantiasa positif, lebih besar kemungkinan kehidupan kita jadi baik. Kalau diri kita dipenuhi narasi yang negatif, penuh kekhawatiran atau perasaan kegagalan, kita bisa membayangkan bagaimana kehidupannya berjalan. 

Sekali lagi menggaris bawahi beberapa tulisan saya tentang narasi. Manusia memang mahluk naratif. Kehidupan manusia memang ditentukan oleh narasi yang digenggamnya. Hal ini juga yang ditekankan oleh Yuval tentang bagaimana manusia bisa jadi spesies paling dominan di muka bumi ini - manusia punya kemampuan untuk membangun narasi. Semoga kita semua semakin paham tentang pentingnya narasi. Kalau kita ingin memperbaiki perjalanan peradaban kita ke arah yang lebih baik, kita perlu membangun narasi baru - yang diistilahkan oleh Charles Eisenstein sebagai New Story... Salam.