AES338 My Views on Leadership and Followership
Andy Sutioso
Wednesday April 20 2022, 2:57 PM
AES338 My Views on Leadership and Followership

Judul di atas ini sengaja dituliskan dalam Bahasa Inggris - karena sekali lagi saya menjumpai kata yang belum saya temukan padanan katanya dalam Bahasa Indonesia. Bukan sok keminggris - tapi mudah-mudahan bisa ditangkap maknanya. 

Pertama-tama adalah leadership dan followership itu semestinya dibahas satu paket. Karena tidak ada leader kalau tidak ada followernya. Sempat saya bahas juga bahwa di Semi Palar kita bisa memaknai leadership lewat Pepatah (Pedoman Empat AH). AH yang pertama adalah Arah, lalu Langkah, Gairah dan berJamaah. Followership tentunya terkait dengan AH yang ke empat (Berjamaah). 

Lepas dari segala teori menjelimet tentang kepemimpinan - yang konon katanya ada miliaran hasil pencarian di Google untuk kata Leadership, empat AH ini mudah2an menyederhanakan semuanya - membantu kita menyadari esensi tentang Kepemimpinan. Lebih jauh menjelaskan tentang 4 AH ini, Arah adalah tentang tujuan, ke mana kita akan menuju, arah mana yang kita jadikan tujuan bersama. Arah tentunya terkait dengan VISI (vision) atau pandangan. AH yang kedua adalah bagaimana kita bisa sampai ke sana. Langkahnya apa? Ini masalah teknis, atau How To. Pemimpin harus punya bayangan jelas bagaimana rombongan bisa sampai ke sana. AH ke 3 adalah soal gairah, passion, spirit atau semangat. Ini bicara soal enerji. Kalau kita tahu mau ke mana, tahu bagaimana caranya sampai ke sana tapi tidak punya semangat, ya omong kosong juga jadinya. AH yang ke empat adalah BerjamaAH : Babarengan. Ini yang terkait Followership, bagaimana rombongan yang dibawa bergerak memahami arah yang dituju, tahu bagaimana caranya menuju ke sana dan juga sama-sama bersemangat melangkah ke sana. 

Lebih jauh tentang Followership, saya sering menganalogikan tentang nahkoda kapal atau konduktor sebuah orkestra. Kapal atau orkestra yang beranggotakan banyak anggota tentunya harus bekerja sama dalam sebuah harmoni. Arahannya dari mana, tentunya dari sang pemimpin. Pemimpin harus mendapatkan kepercayaan dari para anggota kelompoknya. Ke mana arah yang dituju dan bagaimana ritme yang harus diikuti oleh segenap anggotanya. Pemain drum atau biola misalnya tentu harus memainkan instrumen sesuai ketukan yang dibuat oleh sang konduktor. Awak ruang mesin ga bisa dengan seenaknya berpikir, ah lambat amat nih kapten kapal, aku percepat aja sendiri - karena yang bisa melihat ke depan dan mengamati seluruh situasi di sekitar kapal adalah sang kapten kapal. Ini penting dipahami. 

Sederhananya, kalau arahnya ga cocok atau merasa kapalnya terlalu pelan - ya pindah aja cari kapal yang lain. Daripada bikin kacau perjalanan. Seperti juga halnya, aduh ini konduktor kok senengnya musik klasik - padahal aku sukanya dangdutan, ya silakan cari orkes musik yang lain daripada bikin kacau musiknya. Semacam itu 😊. 

Poin lain lagi adalah bagaimana setiap awak kapal atau pemain instrumen fokus memainkan instrumen atau pekerjaan di kapalnya sebaik-baiknya. Orkestrasinya secara keseluruhan adalah tugas pemimpinnya. Kalau pemain biola sibuk mengamati dan mengomentari pemain perkusi - sudah pasti permainan musiknya jadi kacau... 

Demikianlah saya memaknai leadership dan followership. Jadi bagaimanapun sebuah tim harus jadi sebuah harmoni dan keselarasan bekerja sama. Perlu ada rasa percaya buat para pemimpinnya. Sebaliknya pemimpin juga harus jadi individu yang memang mampu dan punya kemampuan memimpin, menerapkan empat AH di atas tadi. Jadi leadership atau kepemimpinan - dalam versi Smipa bisa disederhanakan dalam satu esai ini saja. Tidak perlu ikut seminar mahal yang harganya jutaan rupiah. Hahaha... Salam Smipa. 

Photo by Thirdman: https://www.pexels.com/photo/person-in-red-long-sleeve-shirt-wearing-silver-ring-5684382/

msetya2015
@msetyamukti   4 years ago
Tulisan yang bagus, mudah di mengerti dan bisa menjadi panduan dalam kehidupan , terutama di keluarga besar Smipa..