AES408 Jurnal Sumba#7 | Merdeka?
Andy Sutioso
Sunday August 28 2022, 7:33 PM
AES408 Jurnal Sumba#7 | Merdeka?

Saya baru menuliskan esai ini pada tanggal 28. Cita-cita untuk menulis jurnal setiap hari selama saya di Sumba ternyata gagal karena banyak hal. Pertama memang kegiatan di sana setiap hari cukup padat dan melelahkan. Kami sudah berangkat jam 7 pagi setiap hari dan sampai kembali ke susteran ADM sekitar enam sore. Kadang lebih awal kadang lebih larut juga. 

Jum'at lalu setelah melewatkan beberapa kali koordinasi Juma'atan, kemarin saya menyempatkan diri untuk berbagi tentang perjalanan saya ke Sumba beberapa waktu lalu kepada kakak-kakak Smipa. Kak Lyn juga sempat berbagi cerita - sekalian berbagi tentang apa yang selama ini sedang dirintis oleh Smipa Disada bersama kak Meita dan kak MJ 

Kali ini saya ingin menulis tentang judul di atas Merdeka? Bukan dengan tanda seru, tapi dengan tanda tanya. Kenapa? Begini ceritanya. Karena sesuatu hal, penerbangan kami yang dijadwalkan tanggal 16 Agustus dibatalkan. Jadi kami baru bisa kembali ke Bandung tanggal 17 Agustus. Bertepatan dengan peringatan hari kemerdekaan Indonesia. Beruntung paginya kami sempat mengikuti upacara bendera di susteran, sebelum bersiap berangkat ke bandara. Saya sampai di rumah sekitar tengah malam.

Keesokan harinya saya pergi ke laboratorium untuk test antigen dan segera berangkat ke Smipa. Setiba saya di Smipa, upacara bendera sudah dimulai. Saya sampai di Smipa tepat sebelum pengibaran bendera. Karena datang terlambat, saya berdiri di belakang supaya tidak mengganggu berjalannya upacara. Upacara sendiri saya rasakan sangat khidmat. Bendera dikibarkan, tidak terasa saya meneteskan air mata.  

Foto jepretan @mark-tukangjait

Hari pertama saya menginjakkan kaki lagi di Semi Palar, memori saya segera kembali ke Sumba Barat Daya. Masih jelas dalam ingatan bagaimana saudara-saudara kita di sana masih belum merdeka dari kemiskinan, masih dijajah - maaf, kebodohan. Silakan telaah tulisan-tulisan saya yang judul depannya JurnalSumba. Tulisan ini adalah catatan saya yang ke tujuh. Mananga Aba adalah salah satu tulisan saya di mana saya bercerita tentang bagaimana menyedihkannya potret pendidikan Indonesia dan tertinggalnya kehidupan saudara-saudara kita di sana. 

Kami juga sempat mengunjungi daerah Kodi - yang katanya adalah daerah termiskin di Sumba. Letaknya di sisi paling barat pulau Sumba. 

Sebetulnya saya tidak suka menuliskan itu, menyoroti sisi buruk pendidikan Indonesia - tapi itu kenyataan yang ada dari satu sudut Indonesia yang panas, berdebu, terlupakan... Gambar di bawah ini saya ambil dari bus - dalam perjalanan menuju kediaman Bapak Alfons yang menyediakan tempat untuk kegiatan literasi di Tanjung Karoso. Silakan tebak bangunan apa itu? 

20220813_091952.jpg

Saya juga nyaris tidak percaya saya saat diberi tahu bahwa dua bangunan sederhana di atas adalah bangunan kelas SMA di Tanjung Karoso. Duh prihatin betul ya. Di dalam ruangan itulah anak-anak kita belajar dan berusaha menemukan jalan menuju ke masa depan mereka. 

Sementara ini kita di Bandung dengan segala keberlimpahan yang kita punya kita bisa bergembira dan berteriak lantang: Merdeka! Pagi itu saya hanya bisa bertanya dalam hati, "Merdeka?" Tulisan ini semoga mengingatkan kita untuk tidak pernah lupa untuk bersyukur.

Di sisi lain, sekembalinya dari Sumba, saya terus bertanya dalam diri, apakah yang bisa kita lakukan untuk saudara-saudara kita di sana. Tidak ada peristiwa kebetulan, saya juga meyakini bahwa diantarnya kita ke sana tentu punya maknanya tersendiri. Saya juga berdoa bahwa kita bisa diberi kesempatan untuk membawa kebermanfaatan bagi saudara-saudara kita di sana. Dari tanah Sunda ke tanah Sumba - karena kita saudara sebangsa dan setanah air... Salam.  



Senarai Jurnal Sumba : 

Andy Sutioso
@kak-andy   4 years ago
Wah kak Maul, udah keburu dibaca. Belum tuntas sebetulnya ini...