AES404 : JurnalSumba #4 Mananga Aba
Andy Sutioso
Thursday August 11 2022, 8:10 PM
AES404 : JurnalSumba #4 Mananga Aba

Sekolah pertama yang saya kunjungi di Sumba adalah SD Negeri Mananga Aba. Sekolah ini adalah satu dari dua sekolah yang dijadikan tempat teman-teman mahasiswa Unpar melaksanakan praktik mengajar. Belajar berinteraksi dan berbagi apa yang dipunya kepada anak-anak Sumba yang belajar di sekolah ini. 

Bis STKIP yang mengantar kami berhenti di tepi jalan dan kami menapak jalan kecil menuju ke sekolah ini. Sebuah plang kayu sederhana menandai jalan masuk ke sekolah yang kami tuju. Mananga Aba memiliki 2 bangunan utama sebagai kelas dan ruang-ruang penunjang lainnya. Dibangun berjajar disebelah kiri lapangan / area bermain sekolah yang ditumbuhi beberapa pepohonan. Mananga Aba terletak di daerah pesisir. Panas dan kering. Tanah yang coklat kering berpasir menjadi latar sekolah tersebut. 

Berjalan kaki menuju ke sekolah kami beriringan dengan beberapa murid yang pergi ke sekolah. Satu pemandangan yang menarik adalah mereka membawa botol-botol air mineral besar berisi air. Sewaktu ditanyakan ternyata itu adalah air untuk keperluan mereka ke toilet dan untuk menyiram tanaman. Sekolah ini sebetulnya punya sumber air, tapi sudah lama tidak berfungsi. 

Lebih miris lagi botol-botol air itu ditempatkan di depan tugu nama sekolah yang didirikan di samping tiang bendera - seakan berbicara, "Ya beginilah sekolah kami ini". Setelah berkumpul, pukul 7.30 guru mengumpulkan muridnya untuk upacara bendera. Anak-anak berbaris di depan tiang bendera. Saya mengamati barisan yang paling kanan tampak gambaran kesahajaan sekolah dan warganya - beberapa anak berbaris mengenakan sendal jepit - bukan karena pilihan, tapi kemungkinan karena mereka tidak punya sepatu.

Saat upacara dimulai pukul 7.30 entah kenapa baru ada satu guru yang hadir memimpin upacara. Yang sudah hadir di Mananga Aba hanya kami, tim dari Unpar, beberapa mahasiswa KKN dari STKIP Weetebula, sebagian murid dan satu guru tadi. Barisan murid kelas 4 - baru ada 4 orang siswa. Beberapa murid tampak datang berlarian karena melihat upacara sudah dimulai. Ibu guru menegur mereka, kenapa datang terlambat. Belakangan kami baru tahu bahwa biasanya kegiatan sekolah dimulai sekitar jam 8.00. Jadi mereka terlambat bukan karena terlambat - tapi karena kegiatan dimulai 30 menit lebih awal. 

Melihat dari dekat, sekolah ini memang memprihatinkan. Bangunan yg sederhana juga kotor dan tidak terpelihara. Lantai keramik dan kaca jendela yang pecah tampak di banyak sudut sekolah. Tidak bisa dihindarkan kesan kumuh yang akhirnya muncul. Dalam keseharian seperti itulah pembelajaran dilangsungkan. Kalaupun rumah dan kehidupan mereka sederhana, sekolahpun masih belum berhasil menyajikan situasi di mana di sanalah sebetulnya terletak harapan akan masa depan yang lebih baik. 

Kami juga sempat berbincang dengan salah satu guru di sana. Pak Ragil - kelahiran Banyumas yang ikut program Guru Garis Depan. Beliau akhirnya ditempatkan di SD Mananga Aba. Pak Ragil banyak bercerita tentang situasi di sekolah ini. Tentang sistem-sistem yang dirancang kementerian yang tidak bisa diakses oleh banyak sekolah dan para guru di Sumba. Bagaimana tidak, akses internet masih sangat terbatas. 

Apa yang tersaji di depan mata, bagaimanapun adalah sebuah potret pendidikan Indonesia - di salah satu sudut Nusantara yang mungkin nyaris tidak terlihat atau terperhatikan. Kehadiran kakak-kakak mahasiswa Unpar di sana sejak satu bulan lalu, saya kira cukup berdampak untuk membongkar persepsi bahwa kami-kami di Mananga Aba ini memang sekolah di pelosok yang seakan terlupakan. 

Di sisi lain, ini adalah situasi yang kita hadapi. Saya dan semua dari kita yang diberi berkelimpahan sungguh patut bersyukur. Selanjutnya kita yang sudah mendapat lebih dari cukup, perlu memikirkan dan mengupayakan apakah yang kita bisa kita bagikan kepada mereka yang masih membutuhkan. Entah kenapa Semi Palar dibukakan pintu untuk bisa melihat dan bersentuhan dengan situasi ini - dari tanah Sunda ke tanah Sumba. 

Saya tutup esai saya di sini. Masih banyak yang bisa dikisahkan. Sampai jumpa di tulisan selanjutnya.



Senarai Jurnal Sumba : 

msetya2015
@msetyamukti   4 years ago
Saat upacara dimulai pukul 17.30, ka Andy, mungkin maksudnya 7.30 ya?