AES214 Murninya Air Gunung
Andy Sutioso
Tuesday December 14 2021, 10:00 PM
AES214 Murninya Air Gunung

Kapankah terakhir kita minum air yang betul-betul murni? Air yang masih betul-betul alami, secara harfiah memang betul berasal dari alam? Bukan yang disebutkan dalam berbagai promosi iklan-iklan air mineral dalam botol yang diproduksi oleh pabrik-pabrik... Kalau diproduksi pabrik, mana bisa air itu alami ya?

Rabu kemarin saat survey ke Gambung saya kembali mendapat kesempatan mencobanya. Perjalanan kemarin cukup jauh, dari titik berangkat hingga kembali lagi ke lokasi, kami berjalan kaki hampir 13km. Sedikit, eh koreksi, jauh lebih dari apa yang diperkirakan. Lokasi yang biasa saya tuju di sana kira-kira berjarak tempuh 4,5 km. Jadi kalau bolak balik, jarak keseluruhan kira-kira 9 kilometer. Kemarin perjalanan kami mencapai 13 km untuk mencapai satu kebun kopi yang ingin kita lihat kondisinya. Cukup melelahkan. Akibatnya, bekal air minum kita cepat habis. 

Akhirnya dalam perjalanan pulang, kamipun mengisi ulang botol air minum kami dengan air gunung. Kebetulan kebun kopi yang kami kunjungi dialiri sebuah sungai. Sungai inilah berasal dari sebuah mata air - jauh di dalam hutan. Hutan lindung ini sendiri letaknya langsung berbatasan dengan kebun kopi yang kami kunjungi ini. Jadi air ini memang air murni, air yang berasal dari hujan yang turun di daerah sini lalu meresap ke dalam tanah, dan dengan segala ke alamiannya, hutan dan tanahnya menyaring air hujan yang turun, memurnikannya dan kemudian mengalirkannya ke sungai ini. 

20211208_122802.jpgKak Fitri dan kak Gina yang sudah kehabisan air minum segera turun ke tepi sungai dan mengisi botol air minum mereka dengan air ini. Saya segera menyusul, membuang air yang masih tersisa sedikit dalam botol dan mengisi botol minum saya. Foto di kiri ini adalah foto kak Fitri waktu sedang mengisi botol minumnya, di sungai yang saya ceritakan tadi. Bisa terlihat ya betapa jernihnya air yang mengalir di sungai itu - karena air itu nyaris belum terkena polusi atau pencemaran apapun. Saya pinjam fotonya ya kak Mpit untuk ilustrasi tulisan ini. 

Saya juga segera meneguk air yang baru saya tampung dan wow, luar biasa segarnya. Dinginnya luar biasa menyegarkan. Sulit ya menggambarkannya dengan kata-kata. Intinya air seperti ini tidak pernah bisa kita dapatkan di kota. 

Saya sempat menonton sebuah dokumenter Youtube yang menjelaskan bagaimana rusaknya molekul air yang mengalir di kota. Karena air yang kita temukan di kota sudah keluar masuk aliran pipa, melalui berbagai mesin, pompa, penjernih dan lainnya. Berbeloknya air dalam pipa-pipa yang ada di dalam pabrik atau di rumah kita, sangat berpengaruh pada struktur molekular air tersebut. 

Secara kimiawi, air itu masih tetap H2O, tapi karena air adalah zat yang sangat peka dan sangat mudah menyerap enerji, getaran, tekanan, suhu, dan lain sebagainya sangat mengubah struktur alami air tersebut. Itulah sebabnya air di kota dengan air yang di ambil di alam - yang tampak secara visual sama - bisa sangat berbeda struktur molekulnya. Struktur molekul inilah yang akhirnya sangat mempengaruhi penyerapan air di dalam tubuh kita. Air yang murni karenanya bisa terasa sangat 'energizing' karena memang secara molekular air ini sangat mudah diserap oleh tubuh manusia, sampai di level selular. 

Jadi ini juga menjelaskan kenapa masyarakat yang tinggal di pedesaan jauh lebih sehat. Walaupun saat ini yang sangat menyedihkan adalah bahwa warung-warung di berbagai tempat di desa-desa juga sudah berjualan air mineral dalam botol yang diproduksi di pabrik.

Sewaktu saya menginap di Bumi Langit Institute, Imogiri, air minum mereka juga diambil dari sumur dalam yang masih sangat murni. Mereka minum air itu tanpa harus dimasak lagi, karena memang kualitas airnya masih sangat baik. 

Kesempatan lain adalah sewaktu saya mendampingi teman-teman kelas 7 nyaba lembur ke Desa Babakan Ranca, di kaki gunung Wayang, Citarum kilometer nol. Situ Cisanti, hulu sungai Citarum mendapatkan airnya dari 7 mata air di sekitarnya. Kami sempat datang ke salah satu mata airnya dan juga minum air langsung dari mata airnya. Air yang masih sangat alami. Begitulah cerita saya malam ini. Salam.  

Photo by Samad Deldar from Pexels

Andy Sutioso
@kak-andy   5 years ago
@tatha-wu terima kasih likenya. Ka Andy liat kamu mulai banyak baca2 tulisan di Ririungan. Ayo ikutan nulis boleh topik apapun. https://ririungan.semipalar.sch.id/smipa/group_page/4/atomic-essay-smipa
Ajak juga teman2 lainnya - lumayan kan mengisi waktu liburan. Ditunggu ya. 🙏🏼😁
Tatha Wu
@tatha-wu   5 years ago
Sama-sama Kak, ok nanti kalo ada waktu aku cobain bikin blog