Akhir-akhir ini, isu kesadaran bermedia / literasi digital muncul lagi, menguat di dalam berbagai perbincangan kami di tim Smipa. Cukup banyak pemantiknya. Bagi saya pribadi salah satunya adalah kesimpulan yang muncul setelah mengamati pemilihan umum yang baru lalu. Konon katanya, konsultan politik salah satu paslon adalah konsultan politik yang membantu salah satu kandidat presiden saat pemilihan umum di Filipina, dan pemenangnya adalah Bongbong Marcos - putra Ferdinand Marcos yang dulu sempat digulingkan karena korupsi besar-besaran saat Marcos menjabat. Pemenang pemilu terakhir di Filipina adalah putra Marcos. Strateginya, memanfaatkan media sosial.
Kalau mengikuti pemilu di Indonesia, strategi yang sama (karena konsultannya juga sama) diterapkan di pemilu 2024 ini. Dan di luar penalaran saya, paslon yang (sepertinya) akan menang adalah paslon yang sejak awal melaksanakan strategi pemenangan menggunakan media sosial secara intensif - dan sepertinya dengan pendekatan yang pas pula terhadap kondisi masyarakat Indonesia. Hmm, luar biasa ya kekuatan media sosial. Catatan penting, contoh di atas ini bukan soal politik tapi jadi gambaran kekuatan mesia sosial.
Di sisi lain muncul juga pengamatan yang memprihatinkan di masyarakat Indonesia terkait kesadaran bermedia, kemampuan literasi secara umum dan juga kemampuan berpikir kritis. Masyarakat Indonesia sepertinya mudah sekali diperdaya dan 'dikelabui', menggunakan posting-posting kampanye di media sosial dan ini saya amati terjadi di semua lapisan termasuk di kalangan berpendidikan (lulusan sarjana).
Sedikit demi sedikit, kami di tim Smipa mulai mempelajari lagi berbagai hal terkait teknologi dan platform media sosial yang sekarang ada. Perkembangannya juga sangat-sangat cepat. Karena walaupun perangkatnya sama seperti smartphone, tablet atau PC, rancangan platform yang ada semakin lama semakin 'menyeramkan'. Karena para perancangnya sudah sangat memahami cara kerja otak manusia, bagian otak mana yang terpantik bekerja saat mencerap berbagai konten dengan cara penyajian (tampilan User Interface) tertentu. Salah satunya adalah lewat bagaimana pengguna gawai tanpa henti Scrolling konten-konten yang punya karakteristik tertentu dan ditayangkan dalam jangka waktu tertentu. Para pengembang media tentunya sudah mempekerjakan para neurosaintis, dan ahli psikologi supaya adiksi terhadap media sosial mereka tercapai. Bagaimana tayangan konten media yang ditampilkan memantik dilepasnya dopamine yang membuat penggunanya sulit berhenti - dan tentunya kemudian berpotensi menjadi adiksi.
Di atas ini video singkat dari seorang pakar Neurosaintis, Andrew Hubberman yang menjelaskan apa yang terjadi beberapa saat setelah seseorang mengikuti Media Sosial. Mudah-mudahan kita bisa lebih paham.
Lebih jauh di sisi produsen atau kreator platform dan konten, jumlah pemakai, dan durasi pemakaian tentunya jadi angka-angka yang menarik saat berbagai produk bisa memanfaatkan media sosial tertentu untuk pemasaran produk mereka - bahkan dengan imbalan tertentu untuk konten-konten yang bisa mengunci perhatian pengguninya di platform mereka. Sebetulnya ini mengerikan. Inilah yang disebut attention economy. Setahu saya, bangsa kita Indonesia adalah negara dengan jumlah akun dan pengguna terbesar untuk Tiktok dan Instagram.
Dari situ kami berusaha mengingatkan - menyadarkan rekan-rekan orangtua Smipa tentang apa yang saat ini ada sangat dekat dan ada di genggaman tangan kita nyaris setiap saat tapi menyimpan keburukan yang sulit diperkirakan akibatnya kemudian.
FBO Kesadaran Bermedia jenjang KB-TK
Bahasan soal ini tentunya akan berlanjut karena teknologi akan terus berkembang dan kita perlu sangat memahami bagaimana dampak-dampak yang mungkin terutama untuk anak-anak kita karena proses tumbuh kembang mereka tidak bisa diputar balik. Semoga kita bisa.
Photo by Markus Winkler: https://www.pexels.com/photo/screen-time-management-how-to-manage-your-child-s-screen-time-18457885/