Tulisan ini nyambung dengan beberapa tulisan sebelumnya - mengenai Human Design. Tulisan pertama adalah tulisan dari @yulitjahyadi yang berkisah tentang perkenalan Yuli dengan Human Design. Beberapa waktu lalu saya menuliskan juga tentang ini setelah menelaah lebih jauh, apa itu Human Design.
Selasa lalu saya bersama beberapa kakak dan teman-teman KPB (Rico, Milo dan Saski) mulai sesi pertama belajar daring tentang Human Design bersama teman berbagi Irwin Pontjo yang domisilinya di Bali. Irwin sendiri ternyata bukan kenalan baru. Kami sudah sempat berinteraksi sebelumnya di sekitar tahun 2000-an - kalau saya tidak salah ingat. Irwin juga sama-sama alumni jurusan Arsitektur Unpar. Jadi saya, Irwin dan Yuli sama-sama satu almamater.
Sesi ini, sesuai judulnya adalah langkah awal kami berkenalan dengan Human Design - supaya kami semua - setidaknya kakak-kakak yang ikut belajar di sini, lebih paham apa itu Human Design. Sekilas berkenalan dan membaca bukunya, (e-book) saya sangat terkesan dengan pendekatan pengenalan diri yang disebut Human Design. Sesuatu yang sebetulnya sangat ilmiah karena pendekatannya berpijak dari apa yang terjadi di tata surya kita.
Memang problemnya, manusia karena secara inderawi sangat terbatas, pemahaman kita tentang hal-hal semacam ini juga sangat terbatas. Banyak hal yang akhirnya disimpulkan atau disebut sebagai pseudosains - karena tidak / belum bisa sepenuhnya dibuktikan secara empiris. Di sisi lain, fisika kuantum sudah mendobrak keterbatasan fisika klasik karena di tataran yang sub atomik, yang dipelajari adalah dinamika enerji (getaran dan gelombang). Dari sinilah pijakan logika terhadap pendekatan-pendekatan seperti Human Design bisa dipahami lebih baik. Saya juga pernah menuliskan tentang ini dalam catatan saya yang berjudul Beralih dari Fisika Newtonian ke Fisika Kuantum
Secara sederhana, Human Design memetakan cetak biru kedirian kita terhadap simpul-simpul enerji (Energy Centers) yang ada di dalam diri kita. Jadi apa yang sedang terjadi di alam semesta - lewat konstelasi tata surya saat kita dilahirkan menentukan keunikan diri kita masing-masing. Keunikan diri kita datang dari cetak biru (blueprint) yang dibuat oleh alam semesta - semenjak 3 bulan sebelum kita lahir sampai saat ibu kita melahirkan kita ke dunia. Karena itu jugalah, bahkan di kearifan lokal di Indonesia kita mengenal yang disebut Buana Alit dan Buana Ageng (Micro Cosmos dan Macro Cosmos). Karena memang pada dasarnya diri kita adalah versi kecil dari alam semesta yang sedemikian jembarnya. Saya juga sudah sempat menuliskan tentang ini di sini : Makro Kosmos dan Mikro Kosmos.
Bicara simpul enerji, memang pola pikir/kebudayaan Timur-lah yang sangat dalam pemahamannya soal ini - lewat apa yang disebut Prana, atau juga dikenal sebagai Chi. Kita juga mengenal 7 simpul enerji yang disebut Cakra. Ilmu kedokteran Barat karena sangat analitikal dan juga sangat materialistik - tidak banyak memahami soal ini.
Buat saya pribadi, setelah menelaah bacaan Human Design terhadap diri saya berdasarkan waktu kelahiran saya membuat saya semakin paham, kenapa saya - sebagai seorang Andy - begini dan begitu. Banyak hal menjadi lebih jernih dan terjelaskan. Karena saya jadi tau, rancangan saya sebagai seorang Andy - dari sononya - ya memang begitu. Saya jadi kenal diri saya sendiri. Sangat menarik - dan sangat mengesankan buat saya. Saya juga dengar hal yang sama dari kakak-kakak dan teman-teman yang ikut sesi pertama ini. Lalu bagaimana selanjutnya? Mari belajar lagi - supaya lebih paham. Salam.
Mantap, Kak..