Untuk esai malam ini saya ingin mulai bercerita tentang pengalaman saya hadir di Pasar Paringan Ngadiprono yang diselenggarakan untuk pertama kalinya. Tahun 2017 setelah Rico menuntaskan proyek mandiri KPB di sana - di bawah bimbingan mas Singgih.
Sepertinya saya dan Rico datang pada momen yang tepat. Saat Rico memulai magangnya di sana, Pasar Papringan yang pertama akan digelar sekitar dua bulan setelah Rico memulai magangnya. Persiapan-persiapan teknis sedang mulai dilaksanakan bersama warga dusun Ngadiprono. Rico sangat beruntung bisa terlibat di sana. Saya sendiri sangat beruntung bisa berkenalan dengan pemikiran-pemikiran mas Singgih tentang Revitalisasi Desa. Ada kata-kata yang menurut saya keren banget di website Spedagi terkait hal ini.
Desa adalah masa depan dunia yang tertinggal di masa lalu.
Saya sangat bersepakat dengan pemikiran ini. Apalagi setelah juga sempat tinggal beberapa malam di Bumi Langit Institute. Kedua pengalaman ini sangat melengkapi satu sama lain.
Saya sendiri jumpa mas Singgih yang merancang Radio Kayu Magno dan Sepeda Bambu di Bumi Langit Institute pada tahun 2014. Tidak lama setelah saya tiba di Bumi Langit, sewaktu berbincang dengan pak Iskandar di kediamannya, mas Singgih mampir ke Bumi Langit untuk mengantarkan Kaede, seorang mahasiswi dari Jepang yang akan tinggal di Bumi Langit dan juga di Desa Kandangan, Temanggung untuk beberapa waktu. Perjumpaan dengan Kaede ini juga memberikan perspektif yang berbeda bagi saya.
Oke, tulisan ini hanya tulisan pembuka, saya akan ceritakan beberapa hal tentang Pasar Papringan di tulisan-tulisan selanjutnya. Salam.