AES200 Esai ke Dua Ratus
Andy Sutioso
Tuesday November 30 2021, 9:25 PM
AES200 Esai ke Dua Ratus

Di Pendopo AES terakhir, saya sempat mengungkap pandangan saya tentang apa yang sepertinya jadi kendala menulis bagi kebanyakan dari kita. Pendapat ini muncul dari pengamatan (dan pengalaman) sejauh ini dan akhirnya berani saya munculkan sebagai sebuah kesimpulan. Kesimpulannya kurang lebih begini: Menulis Esai seperti AES ini adalah sesuatu yang sangat mengintimidasi. Mudah-mudahan saya salah ya 🙏🏼😊.

Mengintimidasi, bukan hanya karena rutinitas menulis atau frekuensinya, tapi lebih karena kontennya. Dalam esainya, Jo, Ahkam dan saya sempat menulis - dari perspektif masing-masing - bahwa menulis adalah proses reflektif yang sangat kuat. Tidak mudah bagi kita untuk melihat diri kita sejujurnya, apa adanya. Perlu keberanian dan kejujuran tersendiri untuk bisa menulis esai (bercermin) setiap hari. Karena sampai jumlah tertentu, tulisan-tulisan kita akan sangat menggambarkan seperti apa diri kita. Bagaimana cara berpikir kita, perasaan kita, kegalauan kita dan lain sebagainya. Setelah mencapai jumlah tertentu, kita tidak bisa lagi jaim, kita hanya bisa menampilkan diri kita apa adanya. Justru karena inilah, menulis Atomic Essay ini adalah media pengenalan diri yang luar biasa kuat. 

Dari sisi lain, kalau kita berani jujur, kita memang sangat pandai menemukan berbagai alasan untuk tidak menulis. Segala teori dan filosofi dan pembenaran bisa kita munculkan untuk menghindari dari menulis. Ya memang begitulah kerja intelektualitas manusia. Walaupun dari pengalaman teman-teman dan kesadaran kita bicara bahwa menulis adalah sesuatu yang penting buat kita - terutama dalam konteks pengenalan diri. Kita tahu bahwa kerja intelektualitas dan kerja kesadaran seringkali bertentangan.  

Dari perspektif di atas ini bisa dimaklumi juga kenapa media sosial jadi sesuatu yang sangat menarik, karena saat berinteraksi di media sosial, orientasi kita adalah ke luar. Kita lebih mudah melihat apa yang ada di luar diri kita. Karena saat kita melihat ke dalam diri, kita harus berhadapan dengan segala kekurangan kita. Apalagi seperti yang saya tuliskan di atas tadi, sampai di titik tertentu, kita akan dengan jelas bisa melihat cerminan diri kita apa adanya.   

Kembali ke soal keberanian, saya sangat mengapresiasi tulisan-tulisan Saskia, yang dengan berani dan jujur menampilkan kedirian Saski apa adanya, segala kebingungan dan kegalauannya. Buat saya ini keren banget. Saya yakin juga bahwa Saski dengan menuliskan apa yang sudah dituliskannya, sudah melampaui hal-hal negatif yang disampaikannya melalui baris-baris kalimat dalam esainya. Ia sudah menerima itu semua. Mudah-mudahan juga, proses menulis ini jadi proses 'healing' buat Saski. Saya yakin betul kejujuran ini akan sangat mendewasakan diri Saski... Saya kira, bahkan bagi banyak dari kita yang lebih dewasa, guru dan orangtua, ini juga bukan hal yang mudah... 

Saya juga ingin mengapresiasi apa yang dibawakan Rico dalam tulisan-tulisannya - karena saya tahu betul proses Rico juga tidak mudah dan penuh tantangan. Kalau dibaca jejak narasi yang ditinggalkannya, dengan keunikan situasi dan prosesnya Rico juga berani jujur dengan prosesnya. Saya sendiri berharap, dengan menulis, Rico juga menerima betul apa yang menjadi kendala diri dan proses bertumbuhnya. Proses bertumbuh memang tidak pernah mudah dan nyaman. Tulisan terakhirnya AES193 Privilege, saya kira adalah bentuk refleksi diri Rico setelah dialog saya, ibunya malam tadi. Bagi saya ayahnya, tulisan-tulisan ini jadi hadiah yang luar biasa indah buat saya pribadi sebagai seorang ayah. Dalam obrolan Pendopo kemarin, saya harus bersepakat dengan Joe bahwa saya sangat beruntung bisa mengenal Rico lebih dalam dari ratusan tulisan yang sudah dituliskannya di ruang ini. 

Tulisan ini saya sajikan sebagai bentuk rasa syukur saya bisa menuliskan esai saya yang ke 200 - yang bagi saya pribadi adalah juga pencapaian luar biasa. Saya bersyukur bisa mengalami ini bersama teman-teman dekat yang sudah saya anggap keluarga. Tribe yang betul-betul bisa saya percaya sepenuhnya dan bisa dijadikan ruang bertumbuh sebagai pribadi. Sesuatu yang sangat langka ditemukan di tengah alam peradaban yang sudah semakin egoistis juga individualistis. 

Saya berharap teman-teman lain yang belum bergabung bisa merasakan keindahan dari proses ini. Keindahan yang hanya bisa dirasakan dari dalam dengan menjalani dan mengalaminya secara langsung. Bagaimanapun menulis esai-esai ini adalah jalan menuju penemuan - pengenalan diri yang merupakan salah satu hakikat proses pembelajaran yang kita hayati di Semi Palar - menemukan bintang kita masing-masing. Salam Smipa. 

Photo by Pixabay from Pexels

joefelus
@joefelus   5 years ago
Selamat kak Andy! Semoga banyak yang menyusul :)
admin
@admin   5 years ago
Selamat untuk esainya yang ke-200, Kak Andy. Semangaaat! 🤟😎