Saya pernah menulis, bumi memang sedang sakit. Meriang, panas tiris. Demam tinggi yang sering kita sebut dengan global warming. Planet bumi dalam pemahaman yang lebih holistik memang hidup - karenanya bumi bisa sakit juga. Dalam pemahaman ini planet bumi disebut sebagai Gaia. Kalau dilihat di Merriam-Webster Dictionary (online), Gaia dijabarkan sebagai berikut:
the hypothesis that the living and nonliving components of earth function as a single system in such a way that the living component regulates and maintains conditions (such as the temperature of the ocean or composition of the atmosphere) so as to be suitable for life
also : this system regarded as a single organism
Jadi ya begitulah seperti kalau manusia sedang tidak sehat, badannya menggigil, bergetar, ini muncul sebagai gempa bumi, kalau bumi batuk-batuk dan memuntahkan laharnya, kita melihatnya sebagai lewat letusan gunung berapi. Di banyak bagian bumi muncul cold front (cuaca dingin yang melanda) atau sebaliknya heatwave (gelombang panas). Ya planet bumi itu mirip seperti manusia. Dia hidup, karenanya dia punya siklus iklim, punya sumber enerji (panas bumi), seperti manusia punya aliran darah, bumi juga punya arus laut yang berputar di seluruh permukaan bumi - karena perbedaan suhu, kadar garam dan lain sebagainya. Bumi juga punya paru-paru. Hutan belantara di seluruh dunia adalah paru-paru bumi yang memungkinkan siklus kehidupan semua spesies di dalamnya berjalan.
Beberapa hari lalu, bencana alam gempa bumi kembali melanda wilayah Cianjur. Kita pun yang di Bandung merasakan goncangannya, juga warga Jakarta. Dalam skala Reichter tidak terlalu besar, tapi kondisi di lokasi ternyata cukup parah. Korban jiwa juga cukup banyak. Mendengar berita itu saya hanya membatin, ya inilah tanda-tanda bumi yang sedang sakit, karena manusia membuat begitu banyak kerusakan dari berbagai siklus alamiah yang ada.
Hari ini pak Iwan berangkat ke lokasi bencana di Cianjur karena ada anggota keluarganya yang tinggal di daerah Cugenang. Daerah ini kabarnya salah satu daerah yang terdampak paling parah - dan cukup sulit dijangkau lokasinya. Pak Iwan membawa serta bantuan yang dikumpulkan oleh warga Smipa, diinisiasi gagasannya oleh pengurus OSIS SMP Smipa. Betul, rumah-rumah di sana pada hancur, seperti bisa dilihat dari foto di sebelah ini yang dikirimkan pak Iwan dari lokasi. Bersyukur keluarga pak Iwan semua selamat. Tapi bagaimanapun kita bisa membayangkan kondisi di sana sangat memprihatinkan.
Beberapa hari yang lalu saya membaca sebuah artikel dari New York Times online. Judulnya membuat kita mengerenyitkan dahi, karena dituliskan sangat jelas bahwa kita sudah memasuki
Age of Constant Disaster... Jaman di mana bencana akan terus berdatangan... Mengerikan sekali ya.
Tautan ke artikelnya ada di sini.
Bagaimanapun saya pikir bencana adalah konsekuensi dari apa yang dilakukan oleh peradaban manusia sampai hari ini. Memang bencana alam sudah ada dari jaman dulu. Tapi pemanasan global memperburuk segalanya. Pemanasan global adalah dampak dari aktivitas kehidupan manusia modern. Jadi ya manusia juga yang harus menerima konsekuensinya, karena manusia adalah bagian dari siklus alam. Saat manusia membuat siklus alam jadi kacau, dampaknya ya manusia kembali yang harus menerimanya. Semoga kita semua semakin menyadari hal ini. Salam.