Pertama-tama, sebetulnya topik bahasan ini sudah tidak lagi relevan, karena Kurikulum Merdeka di jenjang SMA sudah beranjak meninggalkan pendekatan di atas ini - spesifiknya jurusan IPA dan IPS. Dulu sempat ada juga jurusan Bahasa - dan sudah terlebih dahulu dihilangkan. Entah kenapa, mungkin karena tidak terlalu laku juga.
Setidaknya sejak saya duduk di bangku SMA, jurusan IPA dan IPS sudah jadi bagian dari sistem belajar di jenjang SMA. Sejak dulu juga, jurusan IPA adalah primadona. Konon katanya anak-anak yang pandai itu masuk di jurusan IPA atau eksakta. Ilmu Pasti. Di SMA saya dulu ada 5 kelas jurusan IPA dan satu kelas jurusan IPS. Tempatnya juga nyelempot di sudut terjauh dari lorong sekolah kami. Ada persepsi bahwa anak-anak IPS atau Sos (sosial) itu semacam warga sekolah kelas dua. Saya sendiri ga merasa nyaman ada pengkelas-kelasan seperti itu. Tapi suasana itu terasa.
Untuk masuk jurusan-jurusan yang favorit di universitas, masuk jurusan IPA jadi keuntungan tersendiri. Pilihan lebih terbuka lebar. Anak IPA bisa masuk jurusan IPS - tapi tidak sebaliknya. Ya begitulah... Saya sendiri tidak pernah merasa pandai - tapi saya masuk jurusan IPA. Mungkin gara-gara itu saya bisa kuliah di jurusan arsitektur. Ga tau kalau saya dulu sekolah di jurusan IPS, mungkin nasib saya akan berbeda.
Belasan tahun bergelut dengan pendidikan holistik, saya punya perspektif yang sangat berbeda. Karena di Semi Palar, setidaknya, olahan program pembelajaran yang berbasis proyek banyak berpijak dari konteks sosial. Akhirnya kami jadi banyak bersentuhan dengan isu-isu sosial budaya, antropologi dan kemasyarakatan. Bahkan juga sejarah ataupun kalau masuk ranah sains, banyak bersentuhan dengan isu-isu lingkungan atau geografi. Dalam prosesnya saya menemukan bahwa ranah ilmu sosial justru jauh lebih kompleks daripada sains alam. Sains alam - yang disebut juga ilmu pasti - ya begitulah karakternya, sudah pasti. Sangat deterministik sifatnya. Lebih sederhana karena variabelnya terbatas dan pasti, terukur, akurat. Tidak begitu halnya dengan ilmu sosial. Ilmu sosial itu variablenya sangat banyak dan saling memengaruhi - karena bicara tentang interaksi manusia dengan lingkungannya.
Jadi Sains sosial itu sangat rumit, jadi sebetulnya paradigma yang dulu kita pegang bahwa anak-anak pandai masuk di jurusan IPA itu sebetulnya keliru. Karena jurusan IPS justru membutuhkan manusia dengan kecerdasan dan daya analitis tinggi. Nah kan, ketemu lagi sesuatu yang salah dipahami dan jadinya salah kaprah. Karenanya Indonesia susah maju. Indonesia punya kompleksitas sosial budaya yang sangat tinggi karena keberagamannya. Semestinya Indonesia punya lebih banyak ahli ilmu sosial budaya - dibandingkan saintis dan teknokrat... Begitu pendapat saya. Semoga pemikiran ini bermanfaat. Salam.
Photo by Alex Knight from Pexels: https://www.pexels.com/photo/high-angle-photo-of-robot-2599244/