Masih dalam momen Festival Literasi saya kembali ingin menulis soal menulis. Dari seluruh keriaan Festival Literasi, yang mungkin masih tercecer adalah perkara menulis. Padahal menulis adalah puncak atau tingkatan tertinggi dalam ranah aktivitas literasi. Setidaknya itulah yang saya pahami dan saya tangkap dari serial kuliah terbuka tentang Kelisanan dan Literasi yang sempat saya ikuti di Salman ITB. Sudah cukup lama memang, saya tidak ingat tahun berapa saya mengikutinya.
Yang saya ingat betul dari kuliah tersebut adalah bahwa peradaban-peradaban besar adalah peradaban yang budaya menulisnya kuat. Bangsa-bangsa di mana perpustakaan-perpustakaan besar ditempatkan jadi salah monumen kemajuan bangsa tersebut dan mendapatkan tempat istimewa di tengah progresi perkembangan bangsa tersebut.
Di dalam sebuah komunitas intelektual, menghasilkan sebuah karya tulis juga jadi capaian tertinggi dari sebuah proses belajar atau bisa jadi sebuah indikator hidupnya sebuah komunitas akademik. Itulah sebabnya calon sarjana diminta menuliskan skripsi, tesis atau disertasi sebagai bukti kompetensi akademik yang sudah dicapai. Jurnal dan catatan penelitian juga ditempatkan di posisi yang tinggi dan terhormat.
Semi Palar sudah mencoba ke arah sana. Setidaknya di dalam berbagai proses dan tahapan pembelajaran. Bagi teman-teman smipa saya pikir ini sudah dicoba terus difasilitasikan. Walaupun di sisi lain, kakak dan orangtua - yang diharapkan ikut berproses dan belajar, saya pikir ini masih jadi tantangan besar buat kita. Padahal sejak awal, literasi sudah disepakati sebagai salah satu komponen dasar pembelajaran. Entah kenapa. Padahal ruang penulisannya sudah tersedia dan bisa dimanfaatkan setiap saat. Hal ini yang masih terus dicari jawabannya dan didorong pemunculannya.
Sepertinya kutipan di atas ini adalah salah satu jawabannya. Menulis itu memang tidak mudah, karena menulis menuntut kita berpikir - setidaknya saat kita merangkai kata dari berbagai buah pikiran, perasaan dan imajinasi kita. Saya menduga ini kendala besarnya. Apakah ini menggambarkan keengganan berpikir atau lebih ke kemalasan kita, saya pikir keduanya sangat disayangkan. Mudah-mudahan tidak sampai ke sana. Tapi kembali ke apa yang saya tuliskan di paragraf pertama, mudah-mudahan warga Semi Palar masih menempatkan budaya literasi sebagai sesuatu yang penting - dalam arti yang seutuhnya. Tidak berhenti di keseruan bertukar buku dan membaca buku-buku yang dihasilkan orang lain, tapi juga menghasilkan tulisan-tulisan, dari hasil pemikiran kita sendiri - sesederhana apapun itu. Bukan hanya mengonsumsi, tapi juga berkreasi. Salam.