Sore kemarin kak @innocentiaine mengirim WA menanyakan kalau saya punya foto yang pas untuk dijadikan ilustrasi dari proses pembekalan kakak-kakak baru sore hari ini. Saya cari-cari dan entah kenapa ingatan saya selalu kembali ke foto di atas ini.
Foto ini kemudian saya kirimkan ke kak Ine dengan catatan bahwa foto ini adalah salah satu foto favorit saya yang menggambarkan foto guru dan murid - bagaimana relasi mereka satu sama lain dalam proses pembelajaran holistik di Rumah Belajar Semi Palar. Menurut saya foto di atas ini sangat menggambarkannya.
Kalau disebutkan bahwa foto di atas ini adalah foto kegiatan belajar di sebuah sekolah, yang sebelah kiri murid dan di sebelah kanan guru, tidak banyak yang akan dengan mudah menangkap / memahaminya demikian. Tapi hal inilah yang sedang terjadi, proses pembelajaran di sebuah sekolah yang berpijak pada konsep Pendidikan Holistik. Gambar di atas menggambarkan sebuah proses pembelajaran.
Dari sisi guru, guru seperti inilah yang diharapkan untuk menjadi pendamping proses belajar. Dari perspektif lain, kata GURU yang seringkali dijabarkan sebagai diGugu dan ditiRU mendapatkan pemaknaannya yang mendalam. Guru juga melakukan apa yang dilakukan muridnya, guru melebur dalam prosesnya dan ikut di dalam arus, di dalam proses yang berjalan. Di dalam proses inilah, para murid yang sedang belajar melihat bagaimana para guru juga masuk dan terlibat dalam prosesnya.
Guru tidak selalu paling tahu atau serba tahu, guru berperan mendamping, menemani proses teman-teman belajar dalam membangun pemahaman tentang diri dan dunia sekitarnya, melalui berbagai pengalamannya. Dalam prosesnya guru juga perlu menjadi inspirasi atau sebaliknya memberikan motivasi atau dorongan bagi para muridnya. Inilah hakikat guru yang juga dituangkan menjadi tiga baris frasa terkenal yang diwariskan oleh Ki Hadjar Dewantara.
Jadi guru memang bukan sesuatu yang mudah. Ada tanggung jawab dan sebaliknya kehormatan yang sangat besar yang harus dihayati dalam diri seorang guru. Kata-kata di atas - setidaknya di Semi Palar bukan sekedar kata-kata hampa belaka. Hal ini harus dimaknai sedalam-dalamnya oleh kita semua - sebagai pendidik. Secara khusus para kakak yang memilih untuk menghadirkan diri sebagai kakak fasilitator di Smipa. Semoga catatan ini bermanfaat. Salam.