Mendengar istilah Olah Raga, kita sudah biasa. Olah Rasa bisa jadi sesuatu yang baru buat kita atau setidaknya tidak banyak kita dengar. Mana yang lebih penting? Nah ini bisa jadi bahasan menarik. Oh iya ada juga ya istilah Olah Pikir. Yang ini mungkin lebih sering kita dengar.
Saya ingin mengaitkan dengan empat dimensi kedirian manusia : badan, pikiran, emosi dan enerji. Sejauh saya pelajari sampai saat ini konsep di atas ini paling mudah dipahami, dan tiga dari ke empat dimensi tadi nyambung dengan olah-olahan di atas tadi. Olah Raga nyambung dengan dimensi fisik / jasmani, Olah Rasa berhubungan dengan dimensi Emosional manusia, Olah Pikir ya tentunya nyambung dengan Dimensi Pikiran manusia.
Lalu bagaimana dengan dimensi ke empat, Enerji? Ini tentunya lebih abstrak, karena olah enerji seperti yang banyak dilakukan oleh peradaban timur, tidak banyak dikenal oleh peradaban barat. Istilah-istilah seperti chi atau prana adalah istilah yang muncul karena hal ini banyak sekali dipelajari oleh kebudayaan timur, seperti di China, Jepang, India dan lain sebagainya. Berbagai teknik yang ada memang semua dikembangkan oleh peradaban timur berupa teknik-teknik seperti Tai chi, Chi gong, meditasi, yoga juga pengobatan berbasis enerji seperti Reiki atau Longevitology. Kalau ditelusuri, Indonesia pasti punya berbagai metode Olah Enerji yang tumbuh dari kearifan lokal kita sendiri.
Pendidikan kita di Indonesia memang tidak banyak mengolah rasa. Kenapa begitu? Tujuan utamanya tentu agar peserta didik pintar secara intelektual. Banyak pengetahuannya. Hasilnya banyak orang-orang pandai yang perasaannya tumpul. Ahli ekonomi atau sarjana bisnis tidak peduli kalau usahanya merusak hutan atau menghasilkan limbah. Aktivitasnya mengganggu masyarakat adat atau bahkan merugikan orang banyak. Dalam perpektif holistik, cerdas pikiran saja tidak cukup, manusia juga perlu 'cerdas' hatinya.
Bagaimana kita bisa sampai ke situasi seperti ini? Ya bagaimana tidak, kita dijajah Belanda. Segala macam sistem kehidupan kita dibangun dari pola pikir mereka. Sistem hukum, sistem ekonomi, sistem politik juga sistem pendidikan kita dibangun atas pola pikir barat. Padahal sejatinya kita manusia Indonesia hidup dalam pola pikir Timur.
Kang Aat dalam kesempatan berbagi dalam forum Pertemuan Orangtua Smipa (Literasi Diri) di Selasar Soenaryo beberapa waktu lalu, juga menggaris bawahi tentang ini. Kerja Akal dan Kerja Rasa harus saling melengkapi.
Beberapa tulisan saya membahas tentang ini. Yang pertama apa yg saya tangkap dari seniman lukis Jeihan Sukmantoro. Judulnya Antara Etika dan Estetika.
Yang kedua berjudul Antara Terasa dan Terukur, merujuk pada apa yang sempat disampaikan Kang Aat kepada kakak-kakak Smipa, beberapa tahun silam.
Dalam waktu dekat, Smipa Disada akan menyelenggarakan ruang belajar yang tujuannya mengolah Rasa, bekerja sama dengan bude Ratna (Semesta Tari). Semoga kita semua semakin paham pentingnya Olah Rasa dan juga paham bagaimana caranya mengolah rasa kita. Salam.