Sabtu kemarin, kami berangkat mengunjungi Kampung Adat Prai Ijing di Kabupaten Sumba Barat - sekitar 2 jam perjalanan darat dari Weetebula. Terasa perjalanan lintas kabupaten ini membawa kami ke daerah yang lebih subur - lebih hijau. Di sini bisa terlihat sawah yang membentang, kuda dan kerbau banyak terlihat di ladang - bahkan menghalangi pengguna jalan karena rombongan kerbau melintas di jalan raya.
Di sepanjang perjalanan rumah adat Sumba banyak terlihat di mana-mana - karena bentuknya yang memang sangat khas. Walaupun materialnya sudah bervariasi. dari yang masih tradisional menggunakan bahan alang-alang, hingga yang sudah modern menggunakan seng atau genteng. Kampung adat Prai Ijing didominasi bangunan yang atapnya masih menggunakan alang-alang. Begitu masuk ke area perkampungan, pemandangannya sangat menakjubkan. Saya ingin menggunakan istilah captivating. Mungkin bahasa Indonesianya mempesona ya... tapi ya memang sangat mempesona. Di dalam kesederhanaannya ada keagungan yang sangat terasa bagi saya. Keren... keren...
Deretan atap tinggi rumah adat Sumba yang dibuat dari alang-alang memenuhi ruang pandang kita - karena proporsi atap bangunan rumah adat Sumba ini sangat dominan. Kalau dibahas filosofinya akan jadi cerita tersendiri. Warna coklat alang-alang tampil kontras dengan warna biru langit Sumba yang selalu mempesona. Beberapa waktu kami di Sumba, kami memang selalu disuguhi panorama langit dan awan yang selalu luar biasa. Belum lagi pohon-pohon besar yang juga jadi latar lingkungan rumah-rumah di sana.
Tapi saat ini, kampung adat ini bagi saya adalah sebuah setting - sebuah konteks ruang dari proses belajar anak-anak di kampung ini. Ini pertanyaan yang paling besar dalam benak saya, seperti apa semangat belajar anak-anak kita yang ada di berbagai sudut / pelosok di Indonesia - di salah satu daerah yang disebut sebagai paling miskin dan tertinggal di bumi Indonesia ini. Segera kami berjumpa dengan beberapa anak-anak yang ada di sana - menyambut kami dengan wajah-wajah gembira. Kampung adat Prai Ijing ini memang sebuah kampung yang dibina dan dipertahankan sebagai objek wisata. Warga di sini jadi sudah cukup terbiasa menerima kedatangan pengunjung yang ingin melihat kehidupan mereka.
Setelah makan siang, mahasiswa STKIP Weetebula dan mahasiswa UNPAR akan berkolaborasi menyelenggarakan kegiatan Literasi dan Festival Sains untuk anak-anak di Kampung ini. Ini akan jadi kesempatan luar biasa untuk menemukan jawaban dari pertanyaan di atas tadi.
Belum kegiatan dimulai - anak-anak Prai Ijing sudah ramai berkumpul di sekitar tempat kegiatan. Mereka duduk berjajar di teras sebuah rumah, sambil mengamati apa yang kami lakukan. Yang datang berkumpul ternyata dari anak-anak usia pra TK hingga ada yang sudah di SMA.
Kak Lyn dan pak Agus mendekati mereka dan mengajak mereka bernyanyi. Segera pertanyaan saya di atas mulai mendapatkan jawabannya. Mereka segera merespon ajakan bernyanyi. Bersama pak Agus dan Aris yang memainkan ukulele, mereka menyanyikan lagu-lagu dengan suara lantang! Mereka tampak begitu senang, percaya diri, antusiasme mereka meluap-luap... Enerjinya begitu besar terasa. Tidak sadar saya tersenyum lebar menyaksikannya. Duh ini anak-anak memang luar biasa. Mereka menyanyikan lagu demi lagu, ada lagu yang dibawakan dalam bahasa Sumba, tapi mereka juga dengan bersemangat menyanyikan beberapa lagu-lagu dalam Bahasa Inggris.
Tidak lama tim mahasiswa sudah siap, membagi kelompok dan mulai memfasilitasi anak-anak ini untuk masuk ke dalam sebuah kegiatan Literasi. Seperti yang diceritakan pak Agus, kemampuan literasi anak-anak di Sumba memang masih sangat rendah. Memang memprihatinkan. Ada anak yang sudah di jenjang SMP masih terbata-bata membaca buku cerita sederhana.
Kami juga mengamati bahwa ada anak-anak yang sudah bisa membaca, tapi sepertinya dia tidak paham makna kalimatnya. Ini adalah catatan besar bagi pendidikan kita - potret nyata pendidikan di Indonesia. Di luar catatan tadi, satu hal yang sangat luar biasa adalah semangat mereka belajar. Saya tidak bisa menjabarkannya dengan kalimat - tapi foto-foto yang saya sematkan lewat jurnal-jurnal ini mudah-mudahan bisa bercerita lebih banyak.
Satu anak yang saya amati cukup lekat adalah Ita. Kalau tidak salah Ita duduk di kelas empat SD. Di kelompoknya, Ita didampingi membaca bukunya oleh kak Eddrick. Tampak betul fokus dan usahanya untuk bisa membaca. Dengan seksama Ita mendengarkan arahan kak Eddrick dan melakukannya. Senyum mengembang di wajahnya saat ia bisa membaca kalimat-kalimat dalam buku tersebut dan menangkap maknanya. Ita adalah gambaran anak kita - di salah satu sudut Nusantara yang punya semangat membara untuk mendorong dirinya untuk maju...
Prai Ijing adalah tempat pertama yang saya kunjungi dan mengenali anak-anak kita ini. Seminggu ke depan - saya akan punya beberapa kesempatan untuk melihat tempat-tempat lain, mengunjungi beberapa SD dan kampung-kampung, juga berjumpa dengan para guru, para dosen STKIP yang mempersiapkan para guru dan lain sebagainya. Seperti saya ceritakan di jurnal sebelumnya, ini adalah kesempatan luar biasa untuk mendapatkan gambaran, potret dari Pendidikan Indonesia lebih utuh.
Senarai Jurnal Sumba :