AES47 AI dan Moksa
matheusaribowo
Monday July 10 2023, 7:48 PM
AES47 AI dan Moksa

TP19 dimulai dengan cuaca pagi yang cerah pada Senin, 10 Juli 2023. Wajah-wajah akrab kembali saling bertukar sapa. Seketika mengundang senyum dan rasa syukur di batin ini. Seperti seorang anak yang baru saja pulang dari pergi bermain dan bertualang sejenak untuk kemudian kembali pulang. Kak Andy membuka dengan banyak hal dan cerita yang menarik raut wajah kami mengkerut. Salah satu yang mengena ialah percepatan kemajuan teknologi. Kemajuan yang dipuja-puja ini selalu saja menawarkan imajinasi utopis. Meski juga melahirkan kubu lain yang memandang ini sebagai distopia. Di tengah pembahasan ini, Kak Leo menawarkan "entropi" sebagai sebuah jalan tengah. Menawar ketakutan akan dampak dari AI yang tak mampu lagi diukur (kalau menurut kak Leo, entropi ini "melegakan"). Bagi saya sendiri, yang terbersit dari segala macam kemajuan ini ialah upaya manusia mengabadikan kesia-siaan. Saya lupa dari mana dapat kalimat ini, kurang lebih begini bunyinya, "kejarlah sesuatu yang tak dapat diindrai". Ajakan untuk mencari segala sesuatu yang tak dapat "dibuktikan" dengan apapun yang "ada". Yang hanya bisa dibuktikan dengan "iman", dengan "keyakinan". 

Teringat juga pada perbincangan dengan beberapa teman penghayat kepercayaan. Bahwa teknologi yang kita kenal sekarang ini, adalah perwujudan dari kemampuan batin leluhur kita. Sesuatu yang sebenarnya ada di dalam diri setiap manusia dan kemudian dibawa keluar dalam bentuk "alat". Sehingga nantinya manusia memandang apa saja sebagai alat mencapai kehendaknya. Sementara leluhur kita bertindak sebaliknya, meredam segala keinginan dan kehendak diri sendiri agar "ngajadi". Kemudian cuplikan video yang menampilkan seorang gadis yang mengimplan gawai ke dalam tubuhnya. pada episode berikutnya bahkan ia ingin melepas tubuhnya, memindahkan memori dirinya ke dalam sistem komputer atau cloud. Hal ini sudah dilakukan oleh leluhur kita pada batu-batu, dalam konsep "moksa". 

Seorang kawan menceritakan insight yang ia dapat. Ia bercerita setelah saya menceritakan pengalaman spiritual saat meditasi di atas batu-batu di situs Gunung Padang. Sangat terasa energi yang berbeda dari tempat-tempat lain. Dari sanalah ia ceritakan bahwa di dalam batu-batu itu, ada "memori-memori" atau data dari leluhur kita yang moksa. Apa itu moksa? Dari penuturannya, dahulu para leluhur yang "telah selesai" melakukan "tugas"nya di dunia (alam materi), akan mentransfer data atau memori (ilmu dan kebijaksanaan) yang dimilikinya kepada batu. Sehingga menjadi manunggal dengan semesta, dengan batu dan unsur bumi lainnya. Dalam aliran tertentu disebut juga dengan "kembali ke rahim ibu" dengan bahasa sunda. Sehingga raganya ditinggal oleh ruhnya yang kemudian manunggal, sementara memori dan ilmunya berpindah pada batu. Raganya adalah "alat" yang perlu dikembalikan kepada tanah. Selaras dengan pernyataan Rumi, bahwa manusia dalah ruh yang memiliki raga. Bahkan sejalan juga dengan penjelasan Tesla perihal elektromagnetik dan bahwa manusia adalah enerji, yang pernah juga ditampilkan video ulasannya oleh Kak Andy pada TP sebelumnya. 

Lantas apa bedanya Bethany dengan moksa yang sama-sama melepas raga dan memindahkan memori? Bethany mendasarkannya pada ketidaknyamanan akan tubuhnya. Bethany mengimplan dengan sangat mudah (membeli teknologi) dan dalam waktu yang singkat. Sementara moksa adalah akhir dari proses panjang kehidupan manusia yang utuh. Lahir (raga) sebagai proses menerima kehidupan, mencari dan menerima ilmu dan kebijaksanaan yang tidak mudah, tidak bisa dibeli, tak bisa diukur, dan melepas kehendak diri sendiri. Kemudian ilmu, kebijaksanaan, dan tubuh digunakan untuk menjalankan tugas (peran) di dunia. Setelah itu, barulah proses melepaskan ilmu dan kebijaksanaan (transfer ke batu dan unsur alam lainnya), diakhiri merelakan raga, yaitu dengan "kematian".

Semoga dapat ditangkap esensinya, dan kembali lagi, yang benar-benar kita miliki adalah percaya. Dan kita bebas memilih apa yang kita percaya.

Andy Sutioso
@kak-andy   3 years ago
Baru saja saya nonton Ancient Apocalypse di Netflix. Episode pertamanya membahas Gunung Padang. Perspektif yang menarik dan saya cukup yakini. Peradaban jaman dulu punya kecanggihannya tersendiri menggunakan media yang berbeda. Toh yang diolah sama juga, enerji... Nuhun kak Mamat. 😊
matheusaribowo
@matheusaribowo   3 years ago
Nah, setuju dengan media atau pendekatan yg berbeda pada sang objek, enerji.