AES02 GUNUNG, 'Guru Nu aguNG, Guru Nu LuhuNG'
Diki Muhammad Noor
Thursday October 14 2021, 4:25 PM
AES02 GUNUNG, 'Guru Nu aguNG, Guru Nu LuhuNG'

Teman-teman yang tinggal di Bandung diberi nikmat yang lebih untuk menikmati gunung setiap hari. Hanya sekedar memandangnya sambil perjalanan ke tempat kerja atau bahkan menyempatkan diri untuk menyapanya lebih dekat. Selalu ada perasaan yang timbul saat melihat atau menyapa gunung lebih dekat, dari mulai perasaan sedih, khawatir, bahagia, kagum, dll. Tapi saya terkadang lupa, hanya kagum sama gunungnya, tapi luput gak langsung kagum dan memuji sama penciptaNya. 

Nama gunung sangat lekat dengan aktifitas alam terbuka. Oleh karena itu, saya mulai senang dan dekat dengan gunung ketika jadi fasilitator pendidikan non formal di salah satu lembaga swasta. Gunung dengan segala potensi di dalamnya memang menyediakan banyak hal untuk dipelajari, baik dalam rangka mendidik diri maupun orang lain. Gunung dengan kejujurannya tanpa membedakan satu sama lain menjadi salah satu tempat terbaik untuk berproses dan bertumbuh. Tempat untuk menempa diri dari sisi keilmuan, sisi fisik, maupun hati/spiritual agar lebih bijak dalam menyikapi banyak hal, terutama dalam bermasyarakat. Namun terkadang kita lupa diri, dengan dalih belajar, pendidikan, atau hanya sekedar rekreasi dengan suka hati mendatangi atau mengeksplorasi gunung. Padahal sebetulnya beberapa wilayah gunung mempunyai batasan-batasan tertentu, atau kita dengan sadar yang membatasi diri. Hal ini sebetulnya sudah ada dalam salah satu nilai kearifan lokal sunda yang sampai saat ini dipegang teguh oleh beberapa masyarakat adat. Misalnya saja nilai karifan lokal tentang pembagian wilayah kawasan hutan, yang terdiri dari Leuweung Larangan, Leuweung Tutupan, dan Leuweung Baladahan. Hal ini tentu membawa pengaruh besar dalam kelesatarian kawasan di wilayah kampung adat yang masih memegang teguh nilai tersebut, air yang melimpah, pohon yang tumbuh subur, dan binatang-binatang lain yang berpengaruh terhadap kelesatarian hutan bisa hidup dengan damai. Dengan kondisi tersebut tentu manusianya juga lah yang akan merasakan kebaikannya. 

Gunung dengan segala keistimewaannya tentu perlu kita perlakukan bukan hanya sebatas objek tapi lebih dari itu. Subjek yang banyak menyediakan ilmu, subjek yang pernah ditawari sebagai khalifah namun menolak hingga akhirnya manusialah yang memegang amanah tersebut, subjek yang didalamnya banyak materi yang terus berdzikir kepadaNya dan banyak lagi keistimewaan-keistimewaan lain.

Teman teman punya pemahaman atau pengalaman menarik apa nih tentang gunung?