Begitu tiba di kantor saya langsung angkat telepon yang terletak di meja kerja dan pijit speed dial. "Good Morning Lauren, I don't have my cellphone today. I left it by accident in the car and my wife has the car. Could you call me on my desk phone today if you need anything?" Kata saya.
"Oh thank you for letting me know. What is your desk phone number?" Tanya Lauren.
"Oopsy! I don't remember. It's on my email signature, for sure." Jawab saya.
Ini percakapan pertama saya pagi ini. Tadi pagi sepulang dari kolam renang saya tergesa-gesa karena harus "ceklok" kehadiran sehingga lupa bahwa telepon genggam saya masih ada di mobil. Pekerjaan saya memang mobilitasnya lumayan tinggi karena saya harus seringkali berada di berbagai tempat, sehingga penggunaaan telepon genggam sangat esensial. Bukan tidak bisa dilakukan tanpa HP, tapi akan amat sangat memudahkan berkomunikasi mengenai pekerjaan menggunakan alat komunikasi yang mobile!
Sekian tahun saya menggunakan alat komunikasi cellular, seingat saya sejak awal tahun 90-an ketika saat itu yang namanya telepon genggam beratnya dapat mengalahkan botol minuman dan karena besar agak sulit dimasukkan saku hahaha.. Saat itu telepon genggam hanya digunakan untuk texting dan berbicara, pada saat itu juga masih ada pager dan sangat keren jika dipinggang ada pager dan kemana-mana menggenggam telpon. "Gengsi" langsung naik hahaha.. tapi memang penggunaan telepon genggam memudahkan saya untuk berusaha. Saya bisa dihubungi kapan saja dan jadi salah satu pendukung kesuksesan.
Sekitar 10 tahun kemudian saya menggunakan Palm PDA, Personal Digital Assitance. Segala sesuatu saya simpan di sana, daftar nomor telepon, kalender, jadwal meeting, bahkan catatan-catatan kecil yang berhubungan dengan pekerjaan. PDA tidak terlalu lama digunakan karena kemudian diganti dengan Blackberry. Saya meggunakan Blackberry paling lama, mungkin sekitar 15 tahun sejak pertama kali keluar dengan ukuran raksasa hingga yang flip phone yang kemudian saya gunakan hinggga benar-benar menjadi almarhum dan saya buang. Lalu mulai dengan android dan Iphone saling bergantian hingga sekarang.
Hari ini ketika saya tidak mempunyai telepon genggam di saku, saya merasa ada yang tidak lengkap. Saku celana terasa ringan dan kosong, seperti ada sesuatu yang hilang. Ini mengerikan! Apakah saya begitu tergantung pada seperangkat teknologi?
Teknologi mengubah hidup manusia. Ini sebuah fakta yang tidak bisa ditentang lagi. Jaman sekarang tidak ada lagi anak-anak yang berteriak di depan rumah seperti jaman saya kecil ketika mengajak teman bermain, saling menjemput karena semua janji-janji hanya bisa digunakan dengan mulut. Jika tidak ada janji maka harus "nyamper" ke rumah dan berteriak,"Adiiiiiii.... maen layangan yuuuuu!" Kalau Adi ada di rumah maka dia akan nongol sambil nyengir dengan membawa layangan dia dan segulung senar dan gelasan. Jika tidak ada di rumah maka ibunya yang keluar,"Adi sedang main di lapangan dengan Hendra! Ke sana saja!" Sekarang semuanya dengan chat di telepon! Gerak manusia menjadi minimal. Dari rumah sudah dapat mengetahui akan bisa bermain atau tidak, tidak perlu jalan kaki menuju rumahnya. Lebih parah lagi, sekarang permainannya online. Hanya duduk di depan monitor, yang bergerak hanya jari sambil bersumpah serapah. Akhirnya saya menginjinkan anak saya membeli VR Quest, karena dengan itu dia sedikit bisa lebih banyak bergerak sampai berkeringat, daripada hanya bermain dengan console! Tapi tetap tidak terlalu banyak bergerak dibandingkan dengan bermain petak umpet, boy-boyan, gatrik atau benteng-bentengan! Permainan tradisional semakin langka karena diganti dengan teknologi.
Itu anak-anak, bagaimana kita yang dewasa? Coba jawab ini:
Masih banyak pertanyaan lain. Tapi saya berpendapat jika kita menjawab "Iya" lebih dari 2 atau 3 pertanyaan di atas, maka hidup kita sudah mulai dikendalikan oleh teknologi. Buat saya, jika tidak ada komputer dan internet, maka saya tidak punya pekerjaan. Departemen saya ditutup dan dihapus dan team saya dipecat! Atau apakah kita panik jika telepon tertinggal di rumah? Nah itu namanya gejala nomophobia atau No-Mobile-Phone-Phobia! Hayooo... Jadi kita harus bagaimana?
foto: uopeople.edu
Duh banyak 'iya' nya pak.. pingin diet gawai mumpung libur, ternyata ga bisa juga.. 😑