Daun-saunnya sudah sangat kering walau warnanya masih hijau. Batang-batangnya juga sangat rapuh dan mudah sekali patah. Karena saya tidak mau ruangan menjadi kotor karena daun atau jarum-jarumnya rontok (Dalam bahasa Inggris disebut needle), saya buka pintu geser belakang apartemen saya dan pohon itu saya gotong keluar. Terasa sangat ringan sebab sudah kering walau dibagian bawah getahnya masih banyak dan lengket di tangan.
Hari ini saya memutuskan untuk membongkar pohon Natal. Mungkin teman-teman tertawa sebab saat ini sudah lebih dari satu bulan dari hari Natal. Biasanya di awal Januari sudah saya bongkar, entah mengapa tahun ini rasanya enggan sekali membongkarnya. Mungkin karena saya sudah menyadari ini akan menjadi yang terakhir. Atau juga karena saya suka sekali dengan baunya yang semerbak membuat seluruh ruangan harum. Bau pohon Natal apalagi karena yang saya miliki itu sejenis Frasier, maka aromanya sangat harum. Ini alasan mengapa hampir setiap tahun saya membeli pohon Natal segar. Jangan khawatir, ini pohon yang memang dibudidayakan untuk tujuan Natal, jadi bukan yang ditebang dari hutan!
Telapak tangan saya mulai tampak hitam-hitam dan lengket. Sengaja saya biarkan dan sesekali sambil melepaskan hiasan serta lampu natal, saya mencium tangan saya sendiri karena ingin menikmati aroma pohon ini. Saya sangat mencintai harumnya pohon pinus jenis Frasier ini. Sangat khas baunya dan selalu mengingatkan saya pada perayaan Natal dan Akhir tahun.
Hiasan-hiasan kami masukkan ke dalam kantong, juga lampu-lampunya. Kami berencana akan mendonasikan kepada orang yang membutuhkan. Kami hanya menyimpan beberapa yang mempunyai nilai emosional dan memang sengaja kami beli demi pemperingati suatu kejadian dalam hidup kami. Itupun sesudah semua terkmupul enjadi 1 doos besar.
Ada perasaan sedih di relung hati ketika melepaskan satu demi satu hiasan dari pohon ini. Setidak-tidaknya sudah 6 kali kami memiliki pahon, kecuali tahun pertama karena Kano dan saya baru tiba. Waktu itu akhir tahun 2016. Kano dan saya baru tiba, serta kami belum memiliki kendaraan sehingga sangat sulit membawa pohon natal ke apartemen. Sesudah kami memiliki kendaraan, baru setiap tahun kami membeli pohon natal lalu mengikatnya dengan tali khusus di atas kendaraan. Ini menjadi salah satu acara yang seru, pergi dari satu tempat ke tempat lain, melihat-lihat serta memilih pohon Natal yang ukurannya cocok serta keindahan yang kami inginkan. Entah di tahun berapa kami diguyur salju ketika sedang mebeli ohoh dan membawanya pulang. Pengalaman yang seru!
"Cuci tangan engga ya?" Tanya saya sambil menyodorkan tangan saya di depan hidung Nina.
Nina mengendusnya dan saya perhatikan bagaimana dia mulai tersenyum. Nina juga seperti saya, sangat menyukai aroma pohon Natal.
"Hmm.. enaknya baunya." Kata Nina
Ini terakhir kali kita punya pohon segar. Nanti Natal yang akan datang sepertinya kami akan kembali ke pohon palsu. Mengingat ini saya langsung merasa sedih. 8 Natal sudah kami lewati dengan berbagai keseruan yang berbeda-beda. Rasa sedih langsung menyelubungi saya. Natal yang akan datang tidak akan lagi sama. Oleh sebab itu sekarang teman-teman mengerti mengapa kami baru membongkar pohon Natal ini sekarang. Pada dasarnya kami tidak ingin waktu cepat berlalu, masih ingn menikmati suasananya. Tapi saya juga tahu bahwa cepat atau lembat semuanya harus berakhir, jadi itu yang hari ini kami putuskan.
Foto credit: msu.edu