Meski aku sudah beberapa kali menguap, aku paksa mataku terbuka untuk cepat-cepat menyelesaikan novel aksi pertama yang sudah hampir 2 minggu aku baca. Agak lama memang, agak tersendat karena rupanya aku belum bisa menikmati buku yang isinya baku hantam. Dimana harus membayangkan tokoh-tokoh berhadapan entah satu lawan satu, atau satu lawan lima, bergerak lincah nan lihai kanan kiri atas bawah dengan tangan kosong maupun senjata-senjata mematikan, yang biasanya hanya aku saksikan dalam layar 2 dimensi.
Namun pagi ini pukul 00.56, aku telah berhasil menutup lembar akhir epilog dari novel ini. Seperti biasa, puluhan lembar terakhir dari suatu novel memang paling seru, rasanya tidak bisa berhenti membaca. Dari beratus-ratus halaman, klimaksnya berada hanya pada tumpukan terakhir kertas-kertas warna krem terang itu. Seperti membaurkan semua informasi yang didapat dari ratusan halaman sebelumnya, pelan-pelan disusun menjadi satu kesatuan lengkap untuk disebut cerita yang epic.
Ada satu dua kalimat yang membekas, saat sang tokoh utama sedang terpuruk kehilangan dirinya sendiri karena kerabat terdekatnya meninggal. Ia disuguhkan nasehat dari seorang yang terhormat sehingga ia bisa menggapai dan mendekap diri kembali.
Berikut sepenggal nasehat dari orang tersebut,
"Ketahuilah, Nak, hidup ini tidak pernah tentang mengalahkan siapapun. Hidup ini hanya tentang kedamaian di hatimu. Saat kau mampu berdamai, maka saat itulah kau telah memenangkan seluruh pertempuran..."
Awalnya aku hanya mencerminkannya saja kepada apa yang terjadi dalam diriku sendiri beberapa bulan lalu. Dimana aku menyalahkan diri sendiri atas keputusanku, usahaku, kegagalanku. Dimana aku memaki diriku sendiri hingga merusaknya. Dimana pertempuran di dalam diriku terasa sangat sengit, secercah damai sedikitpun tidak tercium aromanya. Tapi itu yang sudah lalu, sekarang aku telah menang. Setidaknya damai merebut kuasa dan tanpa ragu aku biarkan dia merebah disana.
Aku rayakan hal tersebut dengan mengunggah penggalan nasehat itu pada story Instagram-ku pukul satu lewat sepuluh pagi. Tak ku sangka, salah satu teman terdekatku langsung merespon dengan emoticon tangis yang banyak seraya memanggil namaku. Ia bercerita bagaimana ia sedang merasa kalah dari temannya sendiri karena teman itu yang terpilih lolos suatu wawancara perusahaan, sedangkan ia tidak. Padahal ia merasa semua jawabannya atas pertanyaan yang diberikan tidak jauh berbeda dengan apa yang dijawab oleh temannya itu. Ia juga merasa sangat layak untuk berhasil lolos atas usahanya yang ia kerahkan untuk kesempatan ini. Pun merasa bersalah karena harus bersaing dengan teman baiknya.
"Dari tadi, aku menyalahkan diriku sendiri. Aku sama sekali gak kesal dengan temanku, tapi dengan diriku sendiri. Apa iya aku gak bisa lebih baik? Apa iya cuma itu yang aku punya?" ujarnya.
Pemikiran seperti ini disaat kegagalan mengambil alih memang wajar. Meski bukan pada situasi yang sama, akupun merasakan apa yang dirasakannya. Semua keraguan atas diri sendiri muncul mendadak terlepas dari peluh kerja keras pada proses yang dijalani. Namun, memang sudah sepatutnya merasa bangga terhadap proses tersebut. Semua orang pasti berproses, entah itu dianggap mudah atau sulit melewati rintangan yang begitu rumit. Juga ada satu hal yang kadang luput dari berproses, yaitu bagaimana menerima dan menyikapi hasil yang didapat.
Jika takdir sudah berkata, tidak ada hal didunia ini yang bisa merubahnya. Berpasrah diri kepada Yang Maha Penentu Takdir, ini juga nasehat dari orang terhormat dalam buku itu. Tidak ada bentuk atau materi dihidup ini untuk disalahkan jika menerima kegagalan, apalagi diri sendiri yang berada pada ruang sedemikian rupa yang sangat mengetahui bagaimana susah payahnya berusaha. Tinggal bagaimana cara menyikapinya.
"Coba lihat, kalau posisinya terbalik. Kamu yang diterima, temanmu yang gagal. Teman kamu mungkin akan merasakan hal yang sama dengan apa yang kamu rasakan sekarang. Tapi kamu jadi gak dapet pelajarannya, kamu gak bisa ambil makna dari situasi ini. Kamu seperti ini, ngobrol topik ini denganku, itu tuh rezeki untuk kamu. Teman kamu gak dapet kan?" hiburku. Lalu ia balas dengan lebih banyak emoticon tangis lagi.
"dan Insya Allah yang gini nerap seumur hidup, pola pikir kamu pun ikut berubah. Dengan ini, kamu bisa mengalahkan dirimu sendiri dari segala ketakutan dan keraguan kamu. Karena kegagalan juga merupakan bentuk dari keberhasilan dengan kamu menang atas dirimu sendiri. Kamu berhasil menemukan kedamaian dalam dirimu" lanjutku.
Memang, berdamai itu sulit. Tidak mudah berdamai dengan diri sendiri saat menerima kegagalan, perlu waktu. Namun yang harus diingat adalah bagaimana caranya mencari untuk melihat celah dimana titik terangnya. Apa dari si pahit itu yang bisa diambil manisnya, pasti akan selalu ada, meskipun manisnya agak hambar :D
Tulisan keren kak Shafa. Banget! 👍😊🙏
hatur nuhunn ka Andy🙏😊
Terima kasih Kak Shafa atas tulisannya. Saya jadi punya ide untuk dibagikan dikaitkan dengan pengalaman saya sendiri. Salam!