Kalau ada rekaman ulang, aku pasti tetap bakal ketawa atau minimal senyum-senyum gemes lah!
Pertama kalinya aku menyaksikan debat Calon Ketua Osis SMP di Smipa, awalnya aku pikir suasananya bakal sangat serius dan tegang, terutama untuk para calon, karena judulnya saja sudah debat. Tapi waktu aku amati, bawaan para kandidat, ini keren nih, santai banget! Tentunya mereka pasti sudah percaya diri sama kemampuan masing-masing dan juga penguasaannya dalam mencerna pertanyaan-pertanyaan yang sudah mantep (all cheers for you, Asya & Hayaa! and also get well really soon, Kinang
).
Nah, satu hal yang menarik dari debat Caketos tadi adalah bahwa 2 dari 3 kandidat ini bersahabat, suatu kejadian langka yang belum pernah aku lihat didebat-debat lainnya. Biasanya, sahabat mendukung dari kursi penonton saat yang lain berdebat, tapi sahabat yang ini mendukung dari kursi samping menjadi lawan debatnya.
Tadi pun saat salah satu penonton bertanya, "Kalian kan bersahabat ya, gimana perasaan kalian kalau ternyata salah satu dari kalian menang? Apa yang akan kalian lakukan kepada satu sama lain?". Menariknya, kedua kandidat menjawab dengan jawaban yang sama, yaitu akan sangat sangat sangat mendukung siapapun yang nantinya terpilih sebagai Ketua OSIS. Malah salah satu seolah berkata, "Nih, take my win. It's all yours." Seakan mematahkan pola pikir: dahului kepentingan masing-masing, baru kepentingan orang lain.
Hmm.. waktu aku mengulang kembali skenario ini, bingung mulanya saat aku merasa "Kok famiilar banget ya kisahnya?". Ternyata memang mirip seperti yang aku alami, walaupun tidak persis sih. Bulan November nanti akan digelar kompetisi Pekan Olahraga Provinsi Jawa Barat yang nanti aku dan adikku ikuti. Mungkin memang wajar kalau kakak adik berada ditim yang berbeda. Dan benar saja, pada Porprov nanti kami bertanding mewakili daerah yang berbeda, dan semua (pemain, pelatih, officials) yakin sekali kalau tim adikku pasti Juara 1.
Entah kenapa, sedari adikku SD, dia yang paling beruntung dalam baseball/softball dari pada aku. Cabor ini juga benar-benar membantu pendidikannya. Kalau ditanya aku iri atau enggak, yaaa kalau ditanya gitu aku jawab iri dong! Tapi, aku tahu Tuhan memberi porsi dengan sangat rata kepada masing-masing manusia, jadi rasa iri itu harus hilang (apalagi untuk adik sendiri). Dari situ, aku memilih untuk terus mendukung adikku dan segala prestasinya. Tentu saja, aku ingin yang terbaik untuk diriku, tapi aku juga ingin yang terbaik untuk dirinya walaupun harus aku berkorban.
"Nih dek, take my win. It's all yours."
Wow. Bagus banget tulisannya kak @shafa. Terima kasih banyak. Semoga berlanjut terus ya ke tulisan-tulisan berikutnya. 🏼
Terima kasih kembali kak
Saya ikut jd penggemar ah. Ini tulisan reflektif yg keren. Ditunggu kak tulisan yg berikutnya
Wow kak Shafa tulisan kedua sdh dapat penggemar. Apalagi pak Joe sdh menjelang 500 tulisan. Semangat kak. Hayu nulis lagi.
Siap pak Joe, terima kasih