AES001 Selesai!
shafa
Sunday July 24 2022, 10:26 PM
AES001 Selesai!

Halo, aku Shafa. Seorang mahasiswi yang baru saja dinyatakan lulus dari kampus yang aku habiskan waktuku selama empat tahun di sana. Aku memasuki kampus itu lewat jalur undangan, dengan menyantumkan banyak sertifikat-setifikat kompetisi baseball dan softball yang aku ikuti. Kampusku mungkin memang mencari calon mahasiswa yang berbakat dibidang lain, karena hampir semua teman-temanku yang diterima lewat jalur undangan mencantumkan sertifikat-sertifikat mereka. Masa pengenalan kampus hingga wisuda (yang waktunya sedang aku hitung mundur) terasa sangat cepat sekali, hampir tidak terasa. Tentu, sebelum wisuda aku melewati beberapa proses yang menurutku sangat menguras otak, energi, dan juga mental. Disini dengan tulisan pertamaku, aku akan menceritakan ingatanku yang masih segar tentang bagaimana aku menyelesaikan Sidang Akhirku.

Diawali dengan pengumuman dosen pembimbing pada sore hari yang di-share melalui grup kelas bersama Ketua Program Studi. Saat aku buka pengumuman yang berupa file PDF tersebut, aku langsung mencari namaku dan nama dosen yang akan menjadi pembimbing untuk pengerjaan skripsiku. Aku menemukan namaku, dikolom sebelahnya tertulis nama dosen pembimbingku, Pak Destian. Setiap jurusan pasti mempunyai dosen yang tidak disukai caranya dalam mengajar kepada para mahasiswanya, beliau merupakan salah satunya. Memang pada saat beliau mengajar, teman-temanku terkadang merasa kesal karena sering kali maksud kami dan maksud beliau berbeda sehingga ekspektasi satu sama lain tidak bertemu di tengah jalan, maklum usia beliau sudah menginjak kepala enam. Serta cara mengajar beliau yang terkesan keras dan terkesan banyak menuntut kami para mahasiswa untuk serba bisa dan mengerti kemauan beliau. Tetapi menurutku, cara mengajar beliau masih bisa diterima daripada beberapa dosen lain yang tidak bertanggung jawab akan statusnya sebagai dosen. Ada kalanya dimana kita harus menerima perbedaan orang lain karena kita tidak terbiasa, dan pasti sering kali mengucapkan kalimat ini dalam hati, "Ah gapapa, dia memang seperti itu."

Zaman sekarang banyak mahasiswa yang menggunakan konsep Sistem Kebut Semalam (SKS), begitu pula aku (tolong jangan ditiru ya sad-4). Konsep lalai diawal menderita diakhir. Awalnya aku bersemangat untuk mengerjakan Latar Belakang pada Bab 1-ku yang kalau kata Kakak Tingkat, latar belakang adalah tahap yang paling sulit dalam membuat skripsi karena harus mencari dimana dan apa permasalahan yang akan diteliti. Tiba saat bimbingan, Pak Destian memujiku kalau apa yang aku kerjakan sudah bagus, hanya direvisi sedikit. Akan tetapi, karena perkataan beliau, akupun menjadi terlalu percaya diri, "Kerjainnya nanti aja deh, lagian Pak Destian bilang latar belakangku udah bagus.". Aku terlampau santai sehingga skripsiku tidak aku sentuh. Aku bahkan pergi berlibur dua minggu sebelum Seminar Proposal (sempro) dengan hanya baru menyelesaikan Bab 1. Sempro ini merupakan seminar atau sidang untuk mempresentasikan hasil dari proposal skripsi, jadi penguji hanya menguji dan merevisi Bab 1 hingga Bab 3 dahulu. Selanjutnya Sidang Akhir yang mempresentasikan isi seluruh skripsi, dijadwalkan enam bulan setelah sempro selesai.

And yes, the reality hits. 7 Januari 2022 merupakan hari dimana aku sempro secara daring. Satu minggu sebelumnya, mental dan tenagaku dikuras habis karena kesalahanku sendiri. Dimana revisianku sangat banyak dan dosen pembimbing yang perfeksionis, sehingga waktu tidurpun harus aku relakan dengan hanya tidur dua jam pada malam hari. Pak Destian, meskipun sudah lanjut usia, beliau sangat teliti. Beberapa kalimat di dalam skripsiku yang rancu, dimana dosen lain pasti tidak akan sadar, dosen pembimbingku selalu sadar akan itu. Aku tidak tahu kalau cara bimbingan beliau memang sangat intens, sehingga aku yang telat ini harus mengejar ketertinggalanku. Selain itu, setiap bimbingan terasa seperti simulasi sidang, aku dibombardir pertanyaan-pertanyaan tentang topik yang aku tulis, ataupun pengetahuan menyangkut topik tersebut. Saat bimbingan selesai, aku berkeringat seperti habis olahraga karena sangat tegang. Aku sangat menyalahkan diriku sendiri, dan selalu bilang dalam hati bahwa kejadian seperti ini tidak mau aku ulangi lagi. Keluargaku selalu menyemangatiku dan sangat mendukungku. Mereka memberiku kejutan berupa kue yang kusukai, aku yang sangat lelah waktu itu langsung menangis di tempat dan mengucapkan terima kasih berulang kali kepada mereka. Istilah 'kena mental' benar-benar terasa waktu itu, bahkan pernah bundaku tiba-tiba memeluk dan mengucapkan, "Kakak bisa!" saja aku langsung mengeluarkan air mata. Aku juga sering kali menangis saat beribadah karena meminta kepada Allah untuk dilancarkan maupun proses serta semproku nanti.

Semalam sebelum sempro, Ketua Program Studi mengirim pengumuman tentang penguji sempro. Aku mendapat dua penguji perempuan yang baik, yang katanya tidak akan menanyakan hal-hal diluar topik skripsiku saat sempro nanti. Hatiku sedikit lega karena aku berpikir itu akan mempermudah semproku. Hingga saat sempro tiba, betul saja, sidangnya santai sekali. Penguji-pengujiku yang baik hati menanyakan hal yang sama dengan yang ditanyakan pembimbingku saat bimbingan waktu itu. Revisi yang aku terimapun sedikit dan tidak susah. Sempronya pun hanya memakan waktu kurang lebih 30 menit. Saat selesai sempro, bebanku seperti hilang dengan tiba-tiba. Aku menangis, menangis lega. Menangis bahwa ternyata aku bisa melewati dan menyelesaikan ini semua.

Memang katanya yang paling berat itu adalah masa-masa sempro. Dan betul, menurutku juga begitu. Karena sempro adalah percobaan pertama sidang, dan biasanya percobaan pertama itu yang membuat kita takut karena tidak ada pengalaman sebelumnya. Saat sempro aku benar-benar kewalahan, tetapi aku mendapat banyak pelajaran dari situ, salah satunya tidak boleh meremehkan waktu. Dalam waktu enam bulan setelah sempro, aku berhasil menyelesaikan skripsiku dengan tuntas, tentu saja dengan persetujuan dosen pembimbingku. Begitu saat sidang akhir secara luring tiba, tanggal 20 Juni 2022, aku lebih merasa tenang, tidak lupa untuk terus-menerus berdoa. Hanya tegang karena ini adalah sidang luring pertamaku yang harus benar-benar menatap muka penguji-penguji serta pembimbingku. Aku memasuki ruangan yang sudah hadir penguji-penguji yang sama seperti saat sempro serta dosen pembimbing. Pertama aku mempresentasikan rangkuman dari skripsiku, selanjutnya sesi pertanyaan dan revisi dari penguji-penguji. Dan ya! Selesai! Kurang lebih sidang akhirku hanya 40 menit, sangat tidak terasa, walaupun sangat haus karena bicara terus. Bahkan kami sempat bergurau sesaat setelah aku menutup sidang akhirku,

"Jadi gimana rasanya sidang akhir offline? Gak menyeramkan kan?" tanya salah satu penguji.
Lalu aku menyegir, menunjukan betapa senangnya aku kalau ini sudah selesai, "Enggak bu, lebih seram waktu bimbingan."
Kedua penguji dan Pak Destian, pembimbingku, pun tertawa. Pak Destian membalas dengan canda, "Wah, bu. Kasih nilai C aja bu."
Kami semua makin tertawa sembari aku mengantar ketiga dosen tersebut keluar ruangan.

Saat itu aku tidak menangis, aku merasa sangat senang. Dadah skripsi! I am finally free.

Tiga hari kemudian diumumkan bahwa nilai sidang akhirku adalah A, nilai tersebut menunjukan bahwa aku lulus sidang. Alhamdulillah. Sidang memang tidak mudah, tapi bisa menjadi mudah kalau persiapannya sudah sangat matang. Akupun sampat berkata dalam hati, "Sidang tuh ternyata gampang ya."

Nah, sekian cerita pengalamanku ini. Mungkin terlalu panjang untuk menjadi tulisan pertamaku di Ririungan. Semoga tidak apa-apa ya, karena aku pikir ini akan menjadi kenangan untukku saat besar nanti. Sampai jumpa ditulisanku selanjutnya, Adios!

You May Also Like