AES18 - The Alan Parsons Project 1
Ara Djati
Sunday November 7 2021, 2:34 PM
AES18 - The Alan Parsons Project 1

Beberapa hari yang lalu, aku sedang pulang dari sekolah luring, ketika di mobil diputar lagu dari grup musik The Alan Parsons Project (populer pada tahun 70an-80an). Aku jadi teringat, dulu, aku sering mengarang semacam cerita dari lagu-lagu ini. Umurku mungkin sekitar 8-9 tahun waktu itu. Dalam bayanganku, lagu-lagu dalam album Pyramid oleh The Alan Parsons Project itu adalah soundtrack film. Kisah yang kubayangkan ada dalam film itu berputar di antara lirik lagu-lagu itu—atau, setidaknya, apa yang kutangkap dari liriknya waktu itu.

Aku masih ingat alur cerita yang kubuat. Lagu-lagu yang muncul pada album itu tidak berurutan sesuai dengan alur ceritanya, tetapi di sini akan kuurutkan saja.

*

Ceritanya dimulai di sebuah kerajaan, di mana stabilitas alam dimonitor dan dijaga oleh seekor Elang Sakti. Elang ini tinggal di menara tertinggi di istana kerajaan. Di istana inilah cerita dimulai, dengan tokoh utama sang Raja. Raja ini sangat kebingungan, karena rakyatnya mulai protes atas ketidaksetaraan di dunia ini. Belum lagi, tiba-tiba, ada banyak bencana alam. Namun, Raja tidak memberi bantuan.

Raja ini sebenarnya orang yang baik, namun juga sangat rumit. Dia terkesan sombong, tapi sebenarnya, dia hanya takut. Selama ini, dengan pemimpin-pemimpin sebelumnya, ada garis yang jelas di antara rakyat dan bangsawan. Raja tidak mau membuat leluhurnya marah dengan mengubah tradisi. Semua penasehatnya memintanya untuk maju dengan perkembangan zaman, tetapi sang Raja masih tidak berani.

Suatu hari, Elang Sakti yang menjaga kerajaan itu sakit parah. Sang Raja dipanggil. Ternyata, sakitnya Elang Sakti itulah yang menyebabkan kerusakan di dunia. Ketika sang Raja kebingungan, datanglah seorang tamu. Dia memiliki jenggot tebal dan tampang kumuh. Dia menyebut dirinya sebagai sang Penjelajah. Sang Penjelajah menjelaskan pada salah satu pelayan Raja bahwa dia tahu cara menyembuhkan sang Elang, yaitu meminta belas kasihan pada para dewa, namun sang Raja harus ikut dalam perjalanan ini.

Penjelajah itu memberitahu sang Raja, dan dia setuju, tetapi dia harus mengikuti tradisi dan membawa mahkotanya. Penjelajah menjelaskan bahwa ini mustahil, tetapi Raja tidak mau. Salah satu pelayan mulai bernyanyi (lagu Can’t Take It With You dari album), membujuk si raja untuk menurut.

And you can't take it with you

No matter what you do

No, you can't take it with you

Not the place you're going to…

Maka sang Raja dan Penjelajah akhirnya berangkat. Berhari-hari mereka berjalan hingga mereka tiba di sebuah daerah dengan ratusan anak sungai. Penjelajah menjelaskan bahwa salah satu anak sungai akan membawa mereka ke rumah teman dewa-dewa, seorang ibu tua yang eksentris. Ada tiga bersaudara yang telah bertahun-tahun berkelana di daerah ini. Mereka dipimpin oleh Si Bungsu, yang selalu ingin menjelajahi sungai yang baru. Si Bungsu inilah yang tahu anak sungai mana yang harus disusuri. Ketika mereka hendak bertanya, mereka mendengar cuplikan pembicaraan tiga bersaudara ini, ketika Si Bungsu membujuk saudara-suadaranya untuk mencari sungai baru (lagu One More River dari album).

One more mile and one more road

One last bridge and one less load

One more river

Mereka menyusuri sungai yang ditunjuk oleh Si Bungsu, menuju rumah ibu tua itu.

*

Sebenarnya ceritanya masih panjang, karena ada tujuh lagu lagi dalam album itu. Namun, aku takut esainya terlalu panjang. Sampai sekarang, aku masih agak heran mengapa aku bisa membuat cerita yang begitu panjang dari lagu-lagu itu. Kesannya tidak panjang dalam kepala, tapi saat ditulis, 25% saja sudah hampir 400 kata. Jadi akan aku potong di sini saja, dan dilanjutkan minggu depan.

You May Also Like