Menjadi seseorang yang bermuka seram dan tegas kayanya adalah salah satu hal yang ingin ku hindari. Namun karakter seorang bapak guru disini nampaknya sudah tercetak begitu dan di lihat buruk oleh murid muridnya. Siapa sih yang suka dengan guru bertampang galak, suka marah marah, dan tegas. Sepertinya dibalik karakter seperti itu ada sisi karakter lain yang jauh dari galak dan suka marah marah.
Jujur aku pribadi kurang setuju dengan karakter guru yang ditakuti anak karena walau anak jadi terlihat nurut dan disiplin, mereka melakukan hal tersebut dengan motivasi agar tidak dimarahi guru dan dihukum. Namun nampaknya pendidikan Sumba belum sampai ke titik tersebut. Banyak sekali anak anak yang rasanya memiliki luka batin, luka mendalam yang diperoleh oleh hasil karakter guru tersebut.
Sungguh aku bersyukur bisa mendapatkan pendidikan yang tidak menganut karakter guru sehingga proses pembelajaran ku tidak lari lari ke arah yang salah. Mungkin ada waktunya dimana orang sadar apa arti sebenarnya dari pendidikan, dari jalan ke sekolah tiap pagi, arti dari duduk di kelas mendengar materi 8 jam sehari. Arti dari edukasi dan pendidikan, berapa pentingnya mereka bagi masa depan mereka. Aku berharap pendidikan di Sumba dapat ditingkatkan seiring waktu berjalan sehingga anak anak Sumba bisa setidaknya mendapatkan perlakuan yang pantas di masa kecilnya.