AES 0046 Suatu Malam di Sumba
Flavius
Friday August 9 2024, 11:28 PM
AES 0046 Suatu Malam di Sumba

Saat di Sumba, suatu malam setelah kegiatan kelas selesai semua saat aku sedang bersantai di kamar mengecek notification handphone tiba-tiba aku ditelepon oleh Kak Gina. Katanya “Flav sini deh kita kedatengan tamu”, saat aku menghampiri Kak Gina, ada 2 orang random sedang asik mengobrol dengan Kak Gina. Aku langsung menyodorkan tangan untuk bersalaman dan berkenalan. Kak Marten atau biasa dipanggil Kak Ten adalah seorang guru SMP lulusan UNIKA yang sedang memberikan tour universitas tersebut kepada temannya karena adik temannya ingin kuliah disana.

Pada awalnya aku kira Kak Ten adalah kenalan kakak LC atau Kak Gina yang iseng ingin bertemu kita karena kabar kehadiran kita sudah beredar kemana-mana. Ternyata bertemu dengan Kak Ten adalah sebuah hadiah alam semesta karena sepertinya jarang sekali orang Sumba yang senang bercerita secara kritis dan lengkap sambil memahami benar setiap perkataannya. Kak Ten juga bercerita tentang komunitas menulis yang ia ikuti, aku rasa ada hubungan antara keduanya. Malam itu kami berbagi cerita cukup lama, mungkin sekitar 40 menitan sampai kakiku terasa pegal berdiri.

Kak Ten bercerita tentang banyak sekali hal mengenai Sumba. Salah satunya adalah karakter anak-anak Sumba. Kalau Kak Gina ingat saat itu aku sedang mendalami sekali karakter Sumba, dan mencoba mengerti cara berpikir mereka. Sebuah kebetulan yang membuat aku juga cukup kaget tiba-tiba bisa ketemu Kak Ten, dijelaskan tentang cara mereka berpikir.

Anak-anak Sumba memang dididik secara keras, mereka harus diberi hukuman untuk patuh dan paham atas kesalahan yang telah mereka lakukan. Aku menjadi salah satu saksi pemikiran tersebut selama satu bulan. Kak Ten menjelaskan bahwa itulah cara seorang guru untuk menyampaikan rasa kasih sayangnya kepada muridnya supaya mendidik. Sulit sepertinya mengubah ciri khas didikan orang Sumba secara tiba-tiba, walaupun perubahannya sudah cukup signifikan jika dibandingkan dengan 10 tahun yang lalu. Sepertinya Sumba memerlukan lebih banyak guru seperti Kak Ten, yang dapat memahami bahwa mendidik secara keras bukanlah kemauannya melainkan sebuah keperluan. Bahkan murid-muridnya jika tidak dikeraskan akan melawan gurunya dan mempermainkannya mungkin karena rasa benci yang sudah tertanam dalam pikiran mereka dari aksi guru-guru sebelumnya. Jika melihat secara langsung, sedih rasanya dan miris, bahkan aku sudah menegur banyak anak-anak untuk tidak bermain fisik dan untuk tidak membalas. Nampaknya mereka yang aku tegur akan ingat seumur hidupnya pernah ditegur oleh kakak dari Jawa untuk tidak bermain fisik, karena mendengar update dari Kak Nard katanya sih jauh berkurang bermain fisiknya.

Tidak terbayang bagiku kehebatan dari edukasi, memahami akar masalah dari Sumba memerlukan kapasitas berpikir yang mendalam dan kritis. Salah satunya adalah Kak Ten, yang jika aku lihat terbangun pola pikirnya dengan cara menulis, aku rasa literasi adalah salah satu sarana pendidikan yang dapat membangun pola pikir dan kapasitas berpikir seorang manusia. 

You May Also Like