AES 002 SIRSAK
leoamurist
Tuesday August 10 2021, 9:17 AM
AES 002 SIRSAK

Tadi pagi.
Ada tupai di atas pohon sirsak, diam mematung.
Ternyata, nona kucing piaraan tetangga ada di bawah dengan posisi siap menerkam.
Diam mematung maksudnya bukan bikin patung, diam bergeming maksudnya.

Bergeming.. ngiiiingg.... ngiiiiinggg..
Bukan juga, kalau begini tonggeret.
Krik.. krik.. Nah ini bergaring.
Bukannya jangkrik ya?

Mau dilanjut ceritanya atau garingannya sih?
Ceritanya!
Oke.
Lanjut ya..LUpa.

Sampai mana tadi?

sama.. LUPA.

Haaa,,,

OH ingat!

Sampai mana?

Sampai lupa.

Bagus.

...

Tiga buah sudah ranum tampaknya dari kemarin sore.
Ada perasaan untuk mengambil, hanya ditunda dulu saja.
Bahkan, penundaan itupun belum ada batas waktu mau diambil kapan.
Bisa jadi paling cepat sore hari nanti ambilnya, kalau ingat itu pun.

Sampai pada kejadian tupai dan kucing tadi mengantarkan padangan pada tiga buah ranum yang tersisa dua setengah.Yaaahh.. setengahnya habis dimakan si tupai.
Yang paling masak buahnya.
Satu baru saja ranum, sedangkan satu lagi baru mengkal muda.Akhirnya, mengambil sapu.
Lha, koq ambil sapu?
Soalnya terasnya kotor, mau nyapu.
OH..

Bukan lah, mau pakai untuk nakutin tupai dan kucing itu biar pada menjauh.
Eh, sebelum sapu dikibas tupainya sudah terbang dan kucingnya sudah hilang.
Yakin terbang?
Lha emangnya ada opsi lain?
Ada, tertelan kucing.

OK.

Akhirnya ambil lah satu sirsak tua yang hampir masak itu, sepertinya lebih baik dipetik dan diletakkan di keranjang.
Satu sirsak yang baru masih mengkal muda menggoda ditinggal, ah tupai pun tau mana yang masak dan tidak.
Kalau pun si satu ini nanti hilang disantap, kemungkinan yang ambil manusia.
Untuk urusan kematangan, hewan sepertinya lebih bijaksana.

Satu lagi, eh maksudnya setengah lagi mana?
Ohiya. Mana tuh?
Bukannya tadi ada?
Iya, ada koq tadi.
Gatau koq sekarang gak ada.
Ah, aneh.

Iya. Aneh.
Sambil mengelap mulut dari sisa sirsak yang sudah ditelan.

Benar memang hewan lebih bijak soal tingkat kematangan buah, manis tanpa asam sisa sirsak setengah itu.
Lalu manusia ini membuat pemaknaan, "Bukan sisa koq, tupai itu memberitahu dan test taste dulu jadi aku bisa menyantap sirsak legit itu. Bersyukurlah."
Ah, entah ini pemaknaan atau pemakluman, entah ini penenang-nenangan atau ketenangan, entah ini keberterimaan atau penerimaan.

Apapun, buka saja semua spasial untuk merasa kesal karena kalah dengan tupai dan rasa senang karena rasa buah yang membahagiakan.

Bersamaan.

Sekaligus iya dan sekaligus tidak, sekaligus ada sekaligus tiada.

Sekaligus biar gak sekalian.

You May Also Like