Sore hari jam tiga, langit mendung seperti mau hujan, matahari tak terlihat. Di saat itu, aku pertama kali belajar naik sepeda motor. Rasanya aneh, seperti mengendarai sepeda tetapi tidak perlu menggowes. Beberapa lama kemudian, aku nekat untuk pergi ke jalan besar. Karena aku merasa lapar, aku pergi ke suatu tempat makan atau “food court” tetapi besar dan banyak makanannya. Saat pergi kesana, disitulah aku sadar, ini sebuah tempat yang familiar tetapi serasa baru pernah lihat, disinilah perjalananku mulai.
Halo, aku tidak tahu siapa namaku, aku memiliki orang-orang yang tinggal bersamaku di rumah, tetapi aku tidak tahu kalau itu keluargaku atau bukan. Aku tidak bersekolah tetapi aku memiliki banyak teman untuk bermain bersama. Aku sangat menyukai berpetualang tetapi, aku sangat sering dan lebih suka bersepeda. Aku sering bersepeda bersama teman-temanku ke tempat yang jauh di bagian pinggir kota, karena tempatnya sangat menarik. Aku pergi-pergi juga selalu pakai sepeda, aku belum boleh naik sepeda motor jauh-jauh karena berbahaya dan belum punya izin mengendarai motor.
Suatu saat, aku sedang bersepeda di pinggir kota, dari pagi hari hingga siang hari. Matahari pada siang itu terasa sangat terik oleh sebab itu aku tiba-tiba lewat jalan yang ternyata sebuah jalan pintas yang ku sering ku lewati saat dahulu, tetapi aku sedikit lupa. Jalan itu adalah jalan tanah yang kering dan berpasir tetapi masih padat. Di sekitar jalan itu, tidak ada bangunan sama sekali, bagaikan di padang gurun. Karena pohon-pohon disekitar juga tidak banyak dan terlihat kering. Sampai di tengah jalan, ada sebuah gedung tinggi terbengkalai tetapi kokoh.
To be continued...