AES101 Tamasya
yulitjahyadi
Tuesday June 7 2022, 7:10 AM
AES101 Tamasya

Suatu waktu pernah mendengar nasehat bahwa untuk mencapai kesuksesan, seseorang harus menekuni satu hal hingga ia menjadi ahli di bidangnya. 'Menggali sampai paling dalam' kira-kira begitulah ungkapannya. 

Aku pernah berusaha untuk itu di waktu lalu, fokus pada satu bidang dan berusaha konsisten dengan apa yang kutekuni itu hingga di satu titik aku merasa bukan itu yang kucari. Ada hasrat untuk memenuhi kebutuhan lain sehingga aku pun memutuskan keluar dari lubang itu. 

Apa yang kemudian teralami adalah keluasan, sebuah sudut pandang baru yang tak mungkin kunikmati sebelumnya. Seperti anak kecil yang takjub dengan mainan baru lalu tak henti bereksplorasi, aku terus bertemu hal baru yang justru mendorongku untuk kian cair, kian meluaskan sudut pandang dan kian menemui. Memang seolah tak ada yang diraih, tak ada yang dikumpulkan, tak ada yang jadi milik, hanya terus mengamati, mencermati dan mengalami hal demi hal oleh rasa ingin tahu, namun meninggalkan rasa yang mengayakan diri. 

Aneh memang, seperti kian berjalan menuju pelosok, ada rasa tersesat, tapi senang dalam ketersesatan karena kebaruan yang mengasyikan. 

Maka tepatlah jika disebut sebagai petualangan. Hidupku kini bagai petualangan seru yang membuatku betah menghidupinya. Rutinitasku terlewati di antara keseruan aneka kejutan dalam hal-hal sederhana. 

Oh.. aku tetiba teringat pengalamanku snorkeling di Labuan Bajo tahun lalu. 

Saat itu terasa seperti sedang bermeditasi sambil menikmati pemandangan dalam laut. Terapung di permukaan air tanpa menggerakkan badan dan hanya mengatur napas perlahan satu demi satu. 

Indah, luar biasa rasanya ketika tanpa mencari, keindahan itu muncul tersuguhkan dengan sendirinya. Tanpa sibuk berenang dan menyelam kian kemari yang justru mengaburkan.

Tenang dan membiarkan saja tubuh hanyut terbawa arus, mengalihkan diri dari satu segmen pemandangan ke segmen lain. Sesekali gerombolan ikan justru menghampiri, melintas riang kian kemari tanpa terganggu, tak juga menggangguku. 

Damai, saat telinga tak mendengar apapun kecuali deru napas sendiri dan riak air kecil sesekali kala ombak menerpa.

Nikmat, kira-kira itulah kepuasan yang sesungguhnya. Air laut yang dingin tak membuatku merasa panas sekalipun terjemur di bawah terik matahari. Ketika seluruh perhatian tertuju pada keindahan dan kedamaiannya, tak ada rasa butuh keluar daripadanya.

Aku menganalogikan hidup seperti suatu arus yang terus mengalirkan. Aku hanya menumpang mengalir dalam sebuah perahu. Jika menyadari arus yang ada, aku tak perlu sibuk mengayuh apalagi melawan arus dengan sia-sia. Aku hanya sesekali mengayuh kala diperlukan. Usahaku itu perlu ketika terasa kebutuhan perahuku bergeser haluan untuk menghindari sesuatu atau menjaga agar tak oleng bahkan terbalik di saat arus sedang deras. 

Dalam hidup memang tak ada yang pasti, seperti alam yang tak punya rencana kapan terjadi badai. Namun satu kejelasannya ialah, bahwa arus itu terus mengalir hingga bermuara di kumpulan yang luas, yang lebih tenang dan menenangkan. 

Ketika keluar dari lubang, aku akhirnya menemukan hidup yang sesungguhnya. Hidup yang mengalirkanku ke banyak tempat dengan segala pemandangan dan kenikmatannya, sama seperti pengalamanku terapung kala itu. Tak bedanya di kala tamasya, tak mencari namun justru menemukan dan terus menjalani dengan nikmat apa saja yang ada. Rasanya lalu seperti tersandar pada kutipan ini 'Create life you don't need to escape from'

Hidup yang bagai tamasya.

Andy Sutioso
@kak-andy   4 years ago
Asik banget nih esainya... Nuhun Yuli... Senang sekali baca tulisannya setelah sekian lama jeda... 🙏🏼😊
yulitjahyadi
@yulitjahyadi   4 years ago
Nuhun kak Andy, sami² senang juga bisa menulis lagi 😊🙏🏼