Si ibu bercerita bahwa awal memasuki tahun pendidikan baru ini ia masih tetap merasa hectic dan lelah. Tarik-tarikan antara mendamping dan menyiapkan anak, dengan pekerjaan dan rumah tangga. Penasaran, kok seolah tak ada yang dipelajari dan berubah dari 1 tahun pendidikan yang belum lama berlalu. Sepertinya ini situasi yang saat ini banyak dialami orangtua, khususnya dengan anak-anak usia sekolah. Meski sudah berbagi tugas dan peran dengan pasangan, tidak selalu bisa berjalan lancar juga.
Ketika berbagi rasa dengan teman, ia seperti mendapat insight. Seolah mendapat cermin dan melihat bahwa semua yang dirasa adalah pantulan diri sebagai orangtua. Aku membayangkan saat bercermin, terlihat jelas hal-hal yang sudah baik, dan hal-hal yang perlu diperbaiki. Seperti memandang diri dari luar. Jadi objektif dan dapat memetakan perbaikan yang perlu dilakukan. Mungkin aku terlampau menyederhanakan, karena pastinya proses mendapat peta perbaikan hingga ke tatar terapan bukan hal yang mudah. Namun langkah pertama, menemukan akar dari situasi yang dihadapi sudah didapat; Struktur yang perlu dibangun konsisten menjadi rutin.
Salutnya, ibu ini tak hanya reflektif, tapi juga solutif. Ia mulai dengan memetakan lalu membagi waktu yang ada dengan semua kebutuhan yang perlu diprioritaskan. Jam bangun dan bersiap, waktu masak, waktu gmeet dan bekerja, waktu makan, dst dalam sehari. Tentunya karena masih baru dimulai, masih banyak yang belum terlaksana sesuai jadwal. Lagipula tidak pernah ada hari yang sama dalam hidup. Paling tidak, ada kejelasan tentang apa saja yang harus dilakukan, kapan dan berapa lama, untuk orangtua dan anak.
Mudah-mudahan langkah awal tersebut dapat membantu proses belajar anak, maupun ketenangan diri ibu. Jangan lupa untuk menaruh makna, harapan dan antusiasme di setiap langkah, juga apresiasi diri atau merayakan bersama momen-momen keberhasilan, agar yang rutin tidak menjadi mekanis. Karena struktur berfungsi sebagai patok untuk mengingatkan pada batas, agar tidak banyak belok-belok atau melenceng jauh. Ditentukan berdasarkan kebutuhan dan pengenalan diri. Biasanya jadi berat bila salah dipahami, mungkin malah jadi seperti pagar yang terlalu kerap dan tinggi, hingga tak bisa menikmati perjalanannya juga.