AES 348 Sadness
joefelus
Friday May 6 2022, 2:28 AM
AES 348  Sadness

Dari Jari-jari saya masih tercium bau bawang putih. Barusan untuk makan malam sepulang dari tempat olah raga saya membuat mie goreng. Saya sebenarnya hanya ingin makan telur, tapi agak bosan juga dengan mata sapi. Yang saya butuhkan adalah banyak protein untuk memberi makan otot-otot tubuh sesudah tadi disiksa di gym. Begitu melihat mie telur yang sudah tersimpan sekian lama dan tidak pernah diolah, saya jadi ingin makan mie goreng kampung ala tukang mie tek-tek yang sering lewat rumah mendorong gerobak.

Saya buka kulkas dan melihat ada sisa makanan apa yang berdaging. Ada sebuah kontainer yang sudah beberapa saat tidak disentuh. Kemungkinan Nina dan Kano sudah bosan, jadi itu akan saya manfaatkan jadi bahan tambahan protein disamping telur. Ditambah sambal, chili oil dan bahan-bahan lainnya jadilah mie goreng kampung yang sarat dengan kol, dan karena tidak ada sawi, saya ganti dengan bayam. Itu makan malam saya!

Mungkin perasaan saya terbawa suasana rumah yang tenang karena semua sibuk dan Nina memutar lagu-lagu untuk mengiringi dia mengerjakan sesuatu di depan komputer. Entah mengapa yang biasanya seusai berolah raga, mood saya sangat baik dan bahagia, sesudah makan malam malah jadi sedih. Lalu teringat salah satu esai seorang wanita India (mungkin, kalau melihat namanya, tapi saya tidak yakin) yang pernah saya baca, namanya Prarthana Pai. Dia berkata seperti yang saya kutip di bawah ini:

Look, happiness and sadness co-exist. The point is to experience them both to the fullest without avoiding the other in the pursuit of not being a desirable person. You will love yourself either way. People will love you either way. Well, even if people don’t love you, at least you are being authentic to yourself. I’m not saying it’s going to be easy, it’s not easy. But nothing is as difficult too.

Whatever it is, don’t hold back. When you feel overwhelmed with sadness, experience it in its fullest potential. Cry your heart out or laugh your lungs out. I don’t know. Do your thing. But don’t hold yourself from feeling what you are truly feeling. That’s the whole deal.

Hmm.. saya pikir benar juga. Kalau kita ingin hidup to the fullest, mengapa menolak perasaan yang tidak nyaman? Kita harus mengalami semuanya. Jika senang maka tertawalah hingga dada serasa akan meledak, Jika sedih ya menangislah sepuasnya. Kesedihan dan kegembiraan itu berdampingan. Kebahagiaan tidak akan berarti tanpa kesedihan, demikian pula sebaliknya. Keseimbangan!

Saya sesorean sibuk merespon segala bentuk ucapan dari teman-teman. Di Indonesia memang sudah memasuki hari jadi saya, di sini masih beberapa jam lagi. Tapi saya memang lahir di Indonesia, jadi ya sah-sah saja. Entah karena jauh dari sanak saudara dan teman-teman, saya menjadi merasa agak sepi menjelang hari spesial ini. Ditambah mendengarkan musik yang diputar Nina dengan volume cukup kencang di sebuah speaker wireless, mungkin saya jadi terbawa suasana. Tak apa, saya nikmati saja rasa sedih ini.

Anehnya, menikmati kesedihan justru membuat saya "bahagia". Saya kok senang menikmatinya. Sekilas saya merasa aneh dan juga menjadi bertanya-tanya. Bagaimana ini bisa terjadi? Apakah mungkin seseorang bisa sangat menikmati kesedihan? Lalu ada seseorang yang mengatakan begini: Because by enjoying being sad we are embracing being sad, we are mindful of our state, we are having compassion for ourselves and by not fighting sadness, we can move on to become present to other states as they emerge in our experience. Hmm... menarik juga ternyata ya berbicara tentang perasaan.

Mengeksplorasi perasaan itu seperti sedang meraba-raba dalam kegelapan dalam proses pengenalan diri. Saya membiarkan perasaan itu ada dan menikmatinya sedalam mungkin. Mungkin sama seperti orang yang senang menikmati makanan pedas. Pernah khan saya katakan bahwa pedas itu bukan salah satu rasa makanan? Ya pedas itu tidak sama dan bukan anggota dari rasa manis, asin pahit, gurih dan asam. Pedas sebetulnya adalah rasa sakit, pain! Orang yang menyukai makanan pedas sebetulnya sama artinya dengan orang yang menikmati rasa sakit. Jadi wajar saja jika ada orang yang juga menikmati rasa sedih! Seru ya jika kita pikirkan? Ini cara berpikir orang awam, mungkin kalau saya itu psikolog, saya akan bisa menjabarkannya secara lebih teoritis dan tidak asal-asalan. Yang saya angkat di sini hanya sekedar pendapat dan menganalogikannya dengan bentuk rasa yang lain. Ya model cara berpikir ala ala lah. Dan saya pikir ini sangat menarik dan sengaja saya tulis supaya tidak lupa dan bisa jadi jatah tayang esai saya 2 hari lagi, sebab yang untuk besok saya sudah punya! hahahaha...

innocentiaine
@innocentiaine   4 years ago
Selamat memaknai kembali hari lahir ya pak. Dengan refleksi yang jos banget, semoga semakin mengenal baik diri 🙏🏼
joefelus
@joefelus   4 years ago
Terima kasih, kak :)
Andy Sutioso
@kak-andy   4 years ago
Wah yang ini saya baru baca. Menarik. Soal keseimbangan juga ya. Sekalian juga Selamat mengkhidmati hari lahir🙏😊. Kalo saya malah tidak ingin mengingat2 HUT. Kalo bisa skip aja biar hemat, wkwkwk...
joefelus
@joefelus   4 years ago
hhahaha... kalo bisa angkanya sama juga saya mau! hahaha
admin
@admin   4 years ago
Wah, baru ultah ternyata. Selamat ya, Pak Joe. Semoga panjang umur, bahagia dan sehat selalu. 🎉🎂
You May Also Like