Pada hari-hari ramai yang sunyi,
suara sudah memiliki mata
jalanan terbuka lebar begitu saja
gelap lebih menyilaukan dari cahaya
getar bisa lebih tenang dari debur dan debar ombak,
dan dermaga tidak pernah menjadi pilihan
.
Pada hari-hari ramai yang sunyi,
kata-kata tak lagi dilahirkan pikiran
ingatan hanya menyimpan satu, atau barangkali dua kata-kata yang tersisa
rintik hujan membasahi tanpa aroma petrikornya
mungkin bukan lagi bumi, tanah yang dipijak
sebab menjejak tak lagi menyisakan jejak
yang tertinggal hanya janggal
rasa-rasa asing yang dilahirkan tanpa nama
bimbang dan senang yang serupa...
.
Jika dituliskan, mungkin huruf-huruf tak lagi mengenal tanda baca
tanda tanya bertanya, di mana kalian temukan ketidaktahuan
koma menerka, mungkin akulah yang dianggap tak mampu mengakhiri
titik mengingkari, bukan, bukan aku asal dan alasan dari segala henti
sebab tanda hanyalah tanda,
sebab tanda baca hanya menyoal membaca,
lagipula banyak mata dan telinga tak lagi mendengar tanda-tanda
yang dibaca, yang percaya, bukan lagi tandanya
hanya prasangka, mengapa kalimat mesti diakhiri
hanya praduga, mengapa koma tak mendatangkan kalimat baru
hanya sesal, mengapa tanya lebih diizinkan untuk mengawali,
ketimbang mahir menjadi akhir.
.
Begitulah kiranya,
pada mula dan akhirnya, semua itu tanda
tidakkah segala pertanda hanya menuju pada ujung jalan sebelum memulai kembali,
tanya dengan jawabnya;
koma membawa anak kalimatnya;
titik beserta awal kalimat barunya.