“If we were meant to stay in one place, we’d have roots instead of feet.”
― Rachel Wolchin
Sudah 3 kali saya dozed off di meja kerja, di depan layar monitor di kantor saya. Ruangan kantor memang sangat sejuk jika dibandingkan di luar. Barusan saya kembali dari acara president picnic, ini acara di mana pejabat rektor berpidato di depan para dosen karyawan dan mahasiswa. Acaranya dilaksanakan di oval, itu taman besar berbentuk oval di depan rektorat yang penuh dengan pohon-pohon yang teduh. Di oval ini di puncak musim gugur semua pohon akan berwarna kuning. Cantik sekali! Sekarang masih belum, mungkin 2 minggu mendatang baru akan terlihat jelas.
Team dari departemen tempat saya bekerja bertugas sebagai menyedia makanan dan minuman. Saya ke sana untuk membantu membagikan makanan pada para pengunjung yang jumlahnya ratusan. Walau awal musim gugur, cuaca masih cukup panas, hari ini menurut aplikasi cuaca yang saya gunakan menunjukkan sekitar 29 derajat Celcius, dan acara dilaksanakan pukul 11 pagi, jadi memang matahari berada hampir di atas kepala. Panas! Karena masih tersisa kelelahan dan baru saja kepanasan, tiba di kantor sambil medengarkan musik jazz lembut saya terkantuk-kantuk. Semua pekerjaan saya sudah selesai, jadi memang saya hanya menunggu waktu pulang saja.
Saya belum menemukan ide baru. Sepanjang siang atau sore ini berusaha mencari ide, tapi berakhir dengan tertidur beberapa detik, doze off. Lalu saya menemukan sebuah kalimat yang saya kutip di awal esai ini. Kalimat itu begitu mengena sehingga saya yang terkantuk-kantuk sejenak tergelitik untuk berpikir. Hidup adalah petualangan! Itu yang saya maknai sesudah sekian lama merenung karena kalimat tersebut. Jika memang kita ditakdirkan untuk tidak kemana-mana, memang betul sebaiknya kita tidak punya kaki, melainkan akar seperti pohon. Nah sampai di situ saya mulai bersyukur bahwa saya tidak diciptakan sebagai pohon!
Kenapa saya katakan hidup adalah petualangan? Karena apapun yang kita lakukan tidak pernah sama! Seperti misalnya saya tidak pernah bosan jalan kaki ke tempat kerja, rutenya sama tapi perjalanan saya tidak ada yang sama. Petualangan ke tempat kerja saya kemarin tidak sama dengan dua hari sebelumnya dan berbeda pula dengan hari ini. Pohon-pohon yang saya lihat kemarin walaupun ada di lokasi yang sama tapi berbeda. Beberapa hari lalu masih hijau, kemarin mulai menguning dan sekarang lebih banyak lagi kuningnya. Yang saya lamunkan kemarin atau dua hari yang lalu juga tidak sama dengan yang saya lamunkan pagi ini. Jadi kalau ada orang bilang bahwa hidupnya begitu-begitu saja, membosankan karena setiap hari melakukan yang sama, itu salah besar. Pekerjaan saya sejak 5 tahun yang lalu sama hingga sekarang, tapi masalah berbeda-beda, menghadapi orang yang berbeda-beda dan di temani musik yang berbeda-beda juga. Yang penting bagaimana saya melihat keseharian saya! Jika semuanya sama, kesalahan ada di mata dan pikiran saya! itu saja! Life is about attitude! Kita selalu terpaku pada tujuan karena itu kita lupa menikmati perjalanannya. It is not the destination but the journey that matters! Kalau hanya memikirkan tujuan, jelas lah setiap pagi saya akan bosan karena tujuannya sama yaitu kantor untuk bekerja. Tapi kenapa setiap pagi menjadi menarik, karena bukan tujuan yang saya pentingkan melainkan keasyikan saya ketika berjalan kaki setiap hari.
“Man cannot discover new oceans unless he has the courage to lose sight of the shore.”
― Andre Gide
Petualangan seringkali berarti juga menghadapi berbagai risiko. Seperti kutipan di atas, jika kita tidak berani mengambil risiko maka kita tidak akan kemana-mana. Beberapa tahun yang lalu saya juga merasa ngeri membayangkan harus memulai hidup saya dari nol lagi karena pindah dari Bandung ke Fort Collins. Saat itu saya berpikir, bahwa akan sulit sekali memulai karir yang baru jika harus berkompetisi dengan orang-orang yang jauh lebih muda. Jika saat itu saya tidak berani mengambil keputusan karena takut dengan risiko yang mungkin akan dihadapi, petualangan yang saya alami di 6 tahun terakhir ini tidak akan pernah terjadi. Kita harus berani meninggalkan comfort zone jika ingin mengalami petualangan yang maksimal. Life begins at the end of our comfort zone! Itu hanya contoh, bukannya saya ingin membanggakan diri. Tidak ada yang perlu dibanggakan sebab jika mau dibandingkan dengan banyak orang lain, mereka banyak yang jauh lebih hebat dan lebih berhasil. Bukan itu maksud saya. Yang ingin saya tekankan adalah banyak pintu yang tidak akan terbuka jika kita tidak berani mengambil risiko. Life is also about courage!***