Bedanya, ada yang banyak yaitu tujuh-an (7) dan ada yang hanya satu aja yaitu sa-saran (1). Hmmm... Hanya, kalau dari aplikabilitas sih yang tujuan baiknya satu aja sedangkan sasaran baiknya lebih dari satu. Begitupun gak perlu sampai tujuh juga kalau bisa lebih sedikit, repot juga kalau banyak. Idealnya memang satu tujuan satu sasaran bisa langsung mendukung visi-misi, karena yang lebih dari satu itu sudah terlalu banyak.
Selalu perlu melihat visi-misi untuk menentukan tujuan dan sasaran biar lebih terisi dan terasa melalui otonomi diri, kecuali memang suka menikmati kehampaan dari otomatisme. Eh, jadi kelintas tulisan itas isme istis. Hmmm... Katakanlah visi diri adalah menjadi (being) master yang dapat terwujud melalui misi menjadi (become) mentor. Tujuan terpilihnya adalah menguasai teknik fasilitator sampai dan membuang teknik fasilitator hanya.
Untuk memenuhi tujuan penguasaan itu, perlu mencapai sasaran-sasaran tertentu yang selaras serasi searah ~ini 3S yang tidak perlu S3 untuk melaksanakannya koq~ Hmmm... Baiklah kita kunci kalau tujuan adalah soal pemenuhan dan sasaran adalah soal pencapaian, sehingga sasaran-sasaran yang ditetapkan antara lain adalah ketuntasan membaca aktif buku estetika paradoks-nya prof Jacob, 17 ribu langkah per minggu kegiatan di ruang terbuka publik, dan interaksi dengan circle baru.
Yak, lanjut ke aktivitas konkrit yang berkarakter terbuka! Inget walaupun ada hirarki visi-misi-tujuan-sasaran-aktivitas, aktivitas itu punya hubungan langsung dengan visi lho.