AES 247 Seniors
joefelus
Tuesday January 25 2022, 10:30 AM
AES 247 Seniors

"This looks like need some works!" Kata seorang oma-oma yang baru saja tiba sambil menarik sebuah kursi dan meletakkan tas kecilnya, sebuah roti lapis yang sudah dikemas dengan plastik ditaruh di atas meja yang penuh dengan kepingan-kepingan puzzle yang belum selesai.

"Yes, that moves very slowly" Kata seorang kakek-kakek yang duduk di belakangku.

Saya baru saja selesai berenang dan duduk sambil minum kopi yang barusan saya buat di mesin kopi di lounge Senior center sambil menunggu Nina yang masih di kamar mandi. Lounge masih sangat sepi, hanya ada 2 orang opa-opa yang duduk sambil membaca dan menikmati kopi dan oma yang baru saja tiba. Mereka yang lalu lalang kembanyakan yang akan menghadiri kelas di kolam renang atau hanya berenang atau berendam di spa air panas. Tadi ketika saya berenang saya lihat ada beberapa orang yang berendam. Pagi hari biasanya seperti itu kesibukannya. Agak siang sedikit mulai semakin banyak yang berdatangan, ada yang bermain badminton, atau hanya duduk-duduk ngobrol atau menyelesaikan puzzle yang teronggok di beberapa buah meja. Para manula ini (disebut senior citizens) sibuk menikmati pagi mereka dengan kegiatan yang menarik dan berkumpul dengan peer group mereka. Ya, begitu mereka menghabiskan dan menikmati masa pensiun, dengan melakukan kegiatan yang sehat, menarik dan juga bersama dengan kelompok usia mereka.

Sambil memperhatikan opa-opa dan oma-oma yang mulai sibuk melakukan aktifts mereka, saya mau tidak mau langsung memikirkan ayah saya yang tinggal sendirian di kampung, kota kecil. Saya membayangkan sebuah kehidupan yang sunyi, sendiri karena hampir semua anggota keluarga berada di kota lain, bahkan saya di negara lain. Perasaan saya menjadi terenyuh.

Dalam perjalanan pulang, saya ngobrol dengan Nina mengangkat pengamatan saya terhadap para manula di sini. "Nin, kalau seandainya membuat sebuah pusat rekreasi untuk para manula, apa mungkin kita bisa mendapatkan dana dari organisasi internasional?" Tanya saya. "Wah ga tau, Jo. Mungkin aja. Emang kenapa?" Jawab Nina. Saya lalu menceritakan pengamatan saya, dan membandingkan dengan kehidupan yang sunyi dan agak terisolasi di Indonesia karena fasilitas semacam ini hampir tidak ada. Kalaupun ada ya di rumah manula yang untuk orang Timur masih dianggap seperti "membuang" para manula yang seolah-olah "mengganggu" produktifitas anak-anak mereka. Mungkin salah satu cara agar tidak "dibuang" ya dengan menyediakan fasilitas yang bisa dinikmati oleh mereka untuk melakukan aktifitas bersama tanpa harus tinggal di rumah manula.

"Masalahnya Jo, di Indonesia itu yang seperti ini belum biasa, lalu seringkali dimanfaatkan oleh kelompok yang sebetulnya bukan termasuk kelompok yang menjadi sasaran." Kata Nina lagi. Ya saya memang setuju. Saya jadi ingat dulu ketika masih di awal karir, saya ikut terjun dalam menangani anak-anak jalanan. Ada sebuah organisasi non profit yang berusaha menjamah kelompok anak-anak jalanan ini. Saya bahkan mengajak kelompok ini untuk "bermain" bersama dengan anak-anak di sekolah tempat saya mengajar. Tujuannya adalah mengenalkan kelompok anak jalanan pada anak-anak sekolah, anak-anak dari kelurga mampu, agar rasa sosial mereka menjadi lebih peka, juga agar anak-anak jalanan terpicu untuk kembali ke sekolah. Yang saya tidak perhitungkan adalah efek sampingnya. Anak-anak jalanan ini menjadi bablas dan mulai mendekati lingkaran kehidupan pribadi saya, seperti mulai datang ke rumah dan sebagainya. Nah ini saya tidak siap! Saya merasa tidak nyaman karena saya punya keluarga, dan keluarga saya tidak mempunyai komitmen apa-apa dalam penanganan anak jalanan. Proyek saya terhenti karena keluarga menjadi terusik dan terganggu.

Tapi mimpi untuk melakukan pelayanan pada komunitas dalam diri saya lumayan tinggi. Seandainya saja saya akhirnya berhasil tinggal di desa, kemudian bisa mendirikan pendopo kecil untuk para pensiunan melakukan kegiatan bersama, mempelajari sesuatu yang baru atau hanya sekedar bersosialisasi, akan keren sekali. Mungkin ini hanya mimpi tapi siapa tau mimpi bisa menjadi sebuah kenyataan? Yang jelas, saya tidak mau ketika pensiun nanti saya hidup sendiri dan sunyi. Hehehehe***