AES 616 Merencanakan Hari Ini
joefelus
Sunday January 29 2023, 12:14 AM
AES 616  Merencanakan Hari Ini

Bangun pagi, lagi-lagi berita duka. Seorang teman kecil saya menghadap Yang Ilahi. Jauh lebih muda dari saya, dulu bahkan ketika kecil kami sama-sama menjadi putra Altar, misdinar. Saat ini dia sudah mendahului saya karena penyakit autoimmune. Well, saya punya juga punya penyakit autoimmune, tapi termasuknya yang sangat mudah dikontrol selama obat jalan terus, olahraga dan makan yang baik. Teman saya ini termasuknya yang sangat parah sehingga merusak kulit.

Bulan Januari awal tahun ini memang saya seperti juga @kak-andy, didera banyak kedukaan. Silih berganti. Tapi begitulah hidup, siapa sih yang dapat mengatur? Ini hanya sebuah kebetulan, itu menurut saya. Apakah memang sudah diatur? Saya juga tidak tahu. Itu memang yang diyakini, manusia berusaha Tuhan yang menentukan. Saya takut kuwalat jika menentang sebab kalau demikian adanya, saya tidak mau berada di sisi yang tidak benar. Saya harus menerima kuasa alam, kuasa semesta, kuasa Ilahi. Manusia hadir dengan tujuan tertentu lalu selesai ketika tugas sudah purna. Tujuannya apa? Tidak tahu, semua orang berusaha mencari, bukan? Yang bisa saya lakukan sekarang adalah merencanakan perjalanan hidup hari demi hari, mudah-mudahan menuju arah yang tepat.

Nah, hari ini saya ingin membuat rencana. Bukan rencana kegiatan. Itu sih mudah karena saya sudah punya. Hari ini keluar kota, sedikit belanja keperluan sehari-hari, lalu makan siang, dan sebagainya termasuk tugas domestik seperti laundry. Itu sih mudah. Rencana yang saya maksudkan adalah rencana menghadapi hidup saya hari ini.

Seperti yang saya tulis ketika pertama kali saya memutuskan untuk mulai menulis, saya bilang begini:

This is me, jo… just jo who is having fun capturing every moment I choose and I enjoy this blog just as a reminder that moments pass by and never come back. Therefore, I keep them here so they become everlasting.

Ya itu tujuan saya menulis, yang kebetulan karena ikut bergabung dengan AES, saya menulis setiap hari. Saya percaya bahwa momen memiliki keindahan masing-masing, dan dengan menulis saya berusaha menangkap itu dan menjadikannya abadi karena walau suatu waktu nanti saya pergi karena tugas saya sudah selesai, keindahan-keindahan yang saya tangkap tetap abadi dalam bentuk tulisan, selama tulisan itu tidak dimusnahkan, tentunya. Waktu tidak akan pernah kembali, yang sudah lewat maka akan hilang begitu saja jika tidak berusaha ditangkap dan diabadikan.

Saya juga menulis bahwa setiap saat, setiap hari ketika bangun tidur, saya dapat memilih, pilihan bisa berupa kebahagiaan, kasih sayang, kegembiraan, kesedihan bahkan kesakitan. Itu adalah pilihan dan kita mempunyai kebebasan setiap saat untuk memilih itu. Kita bahkan bisa memilih untuk berbuat salah atau membuat pilihan yang salah, itu merupakan bagian dari kebebasan yang dianugerahkan pada setiap insan manusia, itu bagian dari kehidupan. Dan segala bentuk keputusan dan pilihan yang saya lakukan itu berusaha diabadikan dalam bentuk tulisan.

Nah seperti berita duka pagi ini. Apakah saya memilih berduka? Ya, tentu saja. Kehilangan bukan perasaan yang mudah dihapus begitu saja karena sosok yang bersangkutan pernah hadir dalam keseharian saya, walaupun itu dulu di masa kecil. Tapi saya punya pilihan, apakah akan terus berduka? Tidak, saya justru berusaha melestarikan keindahan yang pernah saya rasakan bersama rekan saya pada saat itu.

Bersama beberapa orang teman dalam satu grup WA, kami mengenang masa lalu. Ketika dua orang anak kembar yang cantik, yang satu begitu supel, agak bandel dan suka menggangu adik kembarnya yang pemalu. Ketika salah seorang sahabat saya jatuh cita pada salah satu di antara mereka, tapi keduanya sangat pemalu, walau ibunya begitu lucu tersenyum menyaksikan tingkah laku mereka yang kikuk. Ini adalah masa-masa yang begitu indah untuk dikenang. Sayang si bandel hari ini menghadap Tuhan. Masa kecil, tidak akan pernah kembali lagi karena sudah lewat beberapa dekade. Tapi keindahan tidak pernah pupus jika kita selalu melestarikannya, walau hanya dalam bentuk fragmen-fragmen kenangan. Nah itu ingin saya abadikan. Saya pilih sebagai bentuk kebebasan yang dianugerahkan. Kenapa harus memilih yang menyedihkan?

Hari ini saya berencana ingin membagikan kebahagiaan. Bentuknya bisa berbagai macam: cerita, senyuman, derai tawa, pertolongan, dan berbagai macam hal yang bisa membuat orang lain bahagia.

Saya menyaksikan dua cuplikan video pendek ketika tadi pagi masih berbaring. Yang satu mengenai seorang pengemudi becak. Ada seorang muda yang datang meminta tolong untuk diantarkan ke sebuah tempat. Saya tidak mendengarkan dialognya, tapi pada intinya ketika tiba di tempat yang dituju, anak muda itu memberi imbalan yang sangat besar. Pengemudi becak itu bersyukur hinga berlutut mengucapkan terima kasih. Sebuah kebahagiaan!

Cuplikan kedua mengenai penjual koran yang melakukan kegiatannya untuk membantu orang kelaparan. Seorang pria menanyakan berapa harga koran itu yang dijawab dengan gratis tapi boleh menyumbang untuk orang lapar semampunya. Pria yang bertanya itu lalu sadar bahwa tidak membawa uang.

Penjual koran itu berkata,"This newspaper is yours. I only have 2 dollars in my pocket to donate on your behalf." Pria yang menerima koran itu melihat ketulusan dan kesungguhan pejual koran dan merasa terharu.

"Tunggu di sini, saya akan kembali." Kata pria itu.

Dia kembali dan memberikan sumbangan sebesar $500 untuk penyandang lapar. Lalu dia juga memberi penjual koran itu $500 karena ketulusan dia dalam melakukan kebaikan. Mereka berpelukan dan pria yang menerima koran itu berkata," I love you!"

Penjual koran itu menangis," I haven't heard that for a very long time!"

Mengharukan, saya tanpa sadar menitikkan air mata. Kebahagiaan tidak selalu harus dengan materi, tapi gestur, kata-kata, dan senyuman kadang berharga jauh lebih dari apapun. Saya merencanakan akan berbagi kebahagiaan hari ini, entah dengan cara apa. Tapi itu rencananya.

Foto credit: trackinghappiness.com

You May Also Like