Terlalu menyenangkan rasanya saat seseorang yang lama menghilang tetiba muncul, menyapa dalam sebaris kalimat apakabar. Seiring laju khayalan melayang ke masa lalu, garis bibir pun ikut tertarik membentuk senyum. Sempurna sudah kenangan dari dua puluh tahun silam tergambar jelas seperti baru terlalui kemarin. Potongan cerita, gerai tawa yang pernah terlupakan akhirnya kembali menjumpai diri, memunculkan rasa yang sama seperti saat itu. Pada sesosok rupa pendiam, berkacamata dengan rambut ikal terkuncir, serta setelan sweater-celana panjang dan satu set tempat pensil terlengkap yang pernah saya lihat. Tawanya renyah, seringkali menertawai saya setiap kali meminta bantuannya di gambar bentuk atau mengajari saya merancang komposisi nirmana.
Dan, hidup memang selalu memberi banyak kejutan. Si anak yang berdaya tarik ini ternyata masih terikat darah dari entah turunan keberapa. Saya dan dia terbengong mengetahui hal itu sebelum jatuh terduduk dalam pingkal kami yang tak kunjung usai. Semesta sudah mengaturnya sebegitu cair, hingga tiba saatnya ia berpindah ke Belanda. Satu-dua tahun pertama kami masih saling berkontak, bahkan saat Neneknya yang menjadi satu-satunya penghubung erat keluarga kami berpulang, saya masih sempat mengucapkan bela sungkawa. Lantas sejak saat itulah perlahan ia menghilang seolah membuktikan kalimatnya setiap ditanya kapan balik Bandung? Katanya, belum ada alasan yang membawanya ingin kembali. Saya merasa ia semakin menjauh.
Disisi lain, hidup nih selalu lucu, siklusnya suka bikin saya terheran-heran sendiri. Seperti malam ini, tetiba muncul notif dari kotak pesan dan hanya gegara sebaris kalimat itu ingatan yang hampir hilang pun menjadi segar kembali. Jangan-jangan, sebenarnya si teman lama ini gak pernah menghilang, tapi karena saya yang mulai lupa mengikuti jejaknya. Hingga semakin lama semakin tenggelam tergeser oleh prioritas lain. Nah, nah, saya jadi malu kalau mau tanya “Kamu kemana aja?” Lah ya dia ada disana kok, beraktivitas dan menjalani harinya seperti biasa. Jadi sebelum terjebak dalam ‘awkward moment’ segera saya tutup lagi kalimatnya dengan harapan-harapan baik.
Ketika saya menceritakan hal ini kepada R, saya malah dapat tips seperti ini :
1. Coba tanyakan apa kegiatannya selama kalian tidak saling bertemu atau bertegur sapa
2. Atau bisa tanya bagaimana situasi di tempatnya tinggal, bisa cuaca atau apa yang sedang ramai terjadi disana
3. Kalau aku biasanya tanya mainan, buku atau tontonan apa yang temanku sukai? Itu jadi seru dan bisa kemana-mana ngobrolnya
Wow! Ternyata saya kalah jauh soal basa-basi seperti ini dari R. Saya memang agak sulit untuk menggiring topik obrolan di awal jumpa. Pasti akan jadi super pendiam layaknya anak baik-baik sebelum akhirnya pecah di sekian jam kedepan jadi anak super garing. Dan akhirnya saya memilih tips nomor 2 untuk melanjutkan obrolan dengannya, meski masih berupa text tapi cukup seru untuk melangkah ke topik-topik lainnya. Senang sekali bisa bertegur sapa kembali dengan teman lama dan tentunya juga senang karena punya teman sharing di rumah untuk hal-hal begini.