Kalau boleh jujur sekarang aku tidak punya ide, aku bingung mau menuliskan apa. Sering hal ini terjadi kepadaku, kehabisan ide, dan tidak tahu mau melakukan apa. Biasanya kalau begini aku pergi tidur, dan saat bangun aku dapat ide baru. Tapi sekarang aku belum mendapat kannya. Aku bingung. Karena itu aku coba menceritakan hari ini saja.
Hari ini aku bangun tidur seperti biasa, tidak ada yang spesial. Masuk sekolah di jam yang sama, dan melakukan kegiatan yang sama. Mengakhiri kegiatan sekolah juga sama, beres mengerjakan jurnal akhir, lalu aku tidur siang. Setiap hari aku menyempatkan diriku untuk tidur siang, karena aku tahu badan ku mudah lelah, jadi aku merecharge tubuhku dengan tidur siang, kalau sempat. Lalu aku turun kebawah untuk bergabung dengan keluarga ku.
Sebelum ku pidah ke rumah nenek ku ini, hari ku biasa saja, tapi sekarang, aku harus punya kesabaran yang ekstra karena nenek ku. Kenapa begitu? Karena nenek ku punya penyakit alzeimer, yang sudah lama dideritanya, dan makin kesini bukannya membaik, malah memburuk. Pikiran nenek ku sudah kacau balau, sudah tidak nyambung dengan bagian tubuh lainnya. kalau makan harus di suapi, mandi harus dimandikan, tidur harus diajak tidur. Kalau tidak begitu, nenek ku tidak akan makan, mandi, dan tidur seharian, karena sudah lupa akan hal itu.
Awal nenek ku alzeimer masih mending, hanya lupa menyimpan barang, sering kali menyembunyikan barang milik orang lain, menanyakan hal serupa ke orang yang sama, lupa orang terdekat bahkan keluarga, dan masih banyak lagi. Tapi sekarang neneku bahkan tidur, makan, mandi, rasa sakit,dan orang pun lupa. Bahkan sekarang yang awalnya nenek ku masih bisa bicara dengan lancar, tapi sekarang sudah tidak jelas, kalau bahasa sundanya “balelol”, mungkin karena nenek ku dulu orangnya aktif dan suka menyuruh-nyuruh orang, sekarang jadinya nenek ku tidak mau diam ‘bolak-balik’ terus jalan kesana kemari didalam rumah, dan ‘tutunjuk’ ke anggota rumah mulu. Sulit sekali untuk menyuruh nenek ku duduk diam santai.
Banyak orang yang menyuruh ini itu, contoh “than ai nenek sok teu sholat? Ajakan sholat atuh” di situ aku masih sabar dan ku jawab tidak bisa, “cepeng we ti tukang, pananganna kan bisa”, seketika aku ingin bicara ‘soktau, gak semudah itu, kamu aja yang lakuin’ tapi tidak mungkin aku begitu, jadi aku hanya terkekeh untuk menjawabnya, dan mencoba sabar. Aku pikir untuk obat dan pengobatan lainnya sudah tidak mempan di nenekku karena untuk minum saja nenek ku sulit sekali, jadi yang ku lakukan hanya berdoa unuk diberikan yang terbaik, dan menambahkan kesabaran anggota keluargaku yang sedang merawat nenek.