Pernahkah terpikir bahwa kata kewajiban hampir selalu mengandung tekanan atau paksaan? Kewajiban sepertinya menghilangkan makna dari keinginan bebas, free will, yakni melakukan sesuatu karena kehendak bukan karena dipaksa atau ditekan. Seperti ke sekolah, kita wajib mengenakan seragam, wajib berpakaian sopan dan lain sebagainya.
Kewajiban selalu berdampingan dengan aturan, dan dua kata itu bukan merupakan kata favorit. Aturan di kampus misalnya tidak boleh memakai sandal jepit, dilarang memakai celana pendek, atau rok sangat pendek jauh di atas lutut dan lain sebagainya. Memang kalau dituruti dan tidak dipikirkan lagi, maka beban pun agak dikesampingkan. Seperti jaman saya kuliah, harus mengenakan baju berkerah. "Hmm.. apakah dengan memakai T-shirt perkuliahan mejadi tidak efektif dan tidak berhasil dengan baik?" Sama seperti kalau akan jadi anggota supermarket atau nasabah Bank, saya pernah batal jadi nasabah atau jadi member toserba karena wajib mencantumkan agama. Lah apa hubungannya? Sekarang hanya butuh nomor telepon kalau ke toserba, jadi saya buka WA dan pilih salah satu teman saya dan sebutkan nomor teleponnya. Ketika selesai diketik oleh kasir saya sebut nama teman saya itu. Beres! Diskon saya nikmati, teman saya dapat point, dan saya tidak perlu memberitahu agama saya apa! Hahaha.. win win! Kadang melanggar aturan itu seru! (jangan ditiru loh, tidak selalu melanggr aturan itu tidak berisiko!)
Kemarin saya libur, tidak mampir ke tempat ayah. Hari ini bertugas kembali. Satu hal yang saya tidak ambil pusing adalah kata kewajiban. Pernah dengar kalimat,"Kita wajib mengurus orang tua."? Pernah? Saya tidak setuju dengan kalimat itu. Saya sebagai orang tua, tidak mewajibkan anak mengurus saya nanti. Kalau bisa sampai menjelang ajal saya bisa mengurus diri sendiri. Anak saya punya tanggung jawab untuk mengurus dirinya sendiri dan keluarganya, bukan mengurus saya! Kalau dia mau silakan, tapi bukan kewajiban.
Kemungkinan besar banyak orang bahkan teman-teman yang tidak setuju dengan saya soal ini. Tata krama Timur bahkan agama mengatakan bahwa anak wajib menghormati orang tuanya, mengurus orang tuanya dan sebagainya. Hubungan orang tua dan anak bagi saya, menurut saya loh, bukan hubungan bisnis jual beli atau bahkan hutang piutang. Beberapa hari yang lalu ayah saya berkata,"Bayar utang ya." Ketika saya sambil bergurau bahwa kali ini adalah giliran saya untuk membantu ayah. Saya hanya tertawa, tidak menyahut atau bahkan menyangkal. Bagi saya bukan membayar hutang, tapi ini momen untuk menyampaikan rasa kasih sayang. Kapan lagi bisa melakukan itu? Mau menunggu hingga beliau wafat lalu dibuatkan istana untuk makamnya? Tidak! Lakukan itu selagi masih hidup, bukan nanti.
Saya sering protes ketika melihat masyarakat lebih mementingkan orang yang meninggal daripada orang hidup. Tidak percaya? Lihat ketika ada iringan pemakaman, sepeda motor kadang tidak kalah beringasnya membuka jalan. Untuk apa? Orang yang sudah meninggal tidak terburu-buru ingin dimakamkan kok. Tapi lihat ketika ada orang HIDUP yang akan menyeberang, tidak jarang dimaki karena menghambat jalan kendaraan. Mengherankan bukan? Betul tidak kata saya bahwa masyarakat seringkali lebih mementingkan yang sudah meninggal daripada yang hidup? Hahaha.. Ironis! Eniwei. Yang ingin saya sampaikan adalah kita WAJIB menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan, bukan kemayatan!
Saat ini saya tidak memiliki banyak yang bisa dikerjakan karena ayah sedang istirahat. Sebentar-bentar saya intip ke dalam kamarnya. Jika beliau bangun saya akan sapa dan dekati kalau-kalau membutuhkan sesuatu. Yang penting kehadiran saya dapat beliau rasakan walau tidak membutuhkan apa-apa. Masa tua kadang penuh dengan rasa kesepian, apalagi beliau sudah ditinggal ibu saya lebih dari15 tahun yang lalu. Bukan hal yang mudah menjalani hidup sendirian. Saya tidak merasakan semua yang saya lakukan adalah kewajiban, tapi keinginan untuk membuat hidup beliau lebih nyaman, lebih bahagia dalam kesehariannya. Kasih sayang dan perhatian itu tidak mahal, jika saya menimbun dan membanjiri beliau dengan banyak perhatian dan kasih sayang, yang saya miliki tidak akan pernah berkurang bahkan saya merasakan semakin banyak menyalurkan, semakin saya menjadi kaya penuh dengan kasih. Jika semua itu menjadi suatu kewajiban, seperti barter, memberi dan menerima, maka hasilnya adalah impas! Kita tidak akan dapat apa-apa, bahkan kita merasa itu sebagai beban!
Sekedar Ilustrasi, dibawah saya bagikan sebuah lagu tentang hubungan ayah dan anak. Sangat menyentuh.
Foto credit: jenniferbassman.com
Setuju sekali!
Terima kasih. Sudah dengar lagu di atas? Saya menangis tiap mendengar lagu itu sambil membayangkan ayah.