AES355 Tujuh Tahun Lalu
leoamurist
Sunday October 9 2022, 7:03 AM
AES355 Tujuh Tahun Lalu

Dua ribu lima belas, awal tahun di Brastagi. Bangun pagi jalan ke pasar, kopi dan kue-kue bikin segar. Balik beskem jam delapan, mandi brifing berpakaian langsung keliling pengawasan. 5km, 8km, 10km, 15km dari puncak Sinabung. Kolom erupsi jadi pemandangan biasa di sini, hujan abu jadi tak terlalu mengganggu.

Siang makan panggang di ladang, ke arah pulang beli tuak di belokan jalan. Malam, pertemuan dan laporan. Rutinitas yang di luar dugaan tidak membosankan, karena tim yang menyenangkan. Melebihi profesionalitas, integritas tim lapangan ini menenangkan.

Tengah tahun ke Sintang. Bukit Kelam, yang katanya adalah bongkahan batu terbesar di dunia. Yah apapun lah gelarnya, yang penting suasana di sini pun menentramkan. Melebihi profesionalitas, vokasionalitas tim di sini pun menyegarkan. Sampai kami diajak singgah di rumah panjang. Tuak, jelas tak terlewatkan.

Beda di lapangan beda di ruangan. Memang tidak semua menenangkan di lapangan. Namun, di ruangan bisa dibilang selalu menyesakkan. Ketika memindahkan tangan (kepalan) ke kepala tanpa menggunakan hati, hanya ada administrasi dan ambisi. Resign ah.

Tugas terakhir ke Kediri kemudian Purwokerto. Gunung Slamet sudah tenang, jadinya hanya pelatihan & ulasan program. Cukup longgar waktu itu, sampai bisa mampir kedai kopi kekinian setiap malam hari. Di Kediri pun demikian, malahan jadi banyak belajar soal pusaka nusantara dan kisah mistisnya. Menarik.

Pulang Bandung lagi, disambut hujan dan kedai kopi yang berkembang. Sekitar dua puluh kedai saya cobain dalam waktu dua minggu. Sepertinya, bisa lah mengisi akhir tahun dengan buka meja kopi di teras rumah kawan. Hanya tiga bulan bertahan, rupanya memang bukan panggilan juga jadi usahawan. Akhirnya menutup tahun dengan membaca ulang beberapa buku, termasuk Toto Chan.

You May Also Like