Sekarang sudah menjelang waktu saya beristirahat dan biasanya saya sudah bersiap-siap menutup hari dan berbaring. Tapi hari ini agak sedikit berbeda karena saya baru tiba di rumah setelah sesorean membantu seorang teman untuk mempersiapkan sebuah acara di akhir pekan nanti, lalu tadi diakhiri dengan makan malam bersama sambil ngobrol.
Tiba di rumah lalu membersihkan diri dan bersiap-siap untuk menulis sebelum kemudian beristirahat. Saya belum punya apa-apa untuk diungkapkan dalam tulisan ini. Yang jelas, saya sedang berpikir dan mencari sesuatu yang "nyambung". Entah apakah kata "nyambung" ini cocok dengan maksud saya dalam upaya mengungkapkan semacam resonance terhadap sekitar saya yang memiliki frekuensi yang sama. Hmm... saya ingin berusaha menjelaskan apa yang saya maksudkan di sini. Mudah-mudahan berhasil.
Saya tidak bisa fisika, bahkan jujur saja saya termasuk yang belet kalau bicara soal fisika. Jadi mudah-mudahan jika saya membahas soal resonansi dalam hal menulis bisa berada di jalur yang tepat dan tidak menyeleweng karena saya salah menginterpretasikan arti dari resonansi itu sendiri.
Maksud saya begini. Seringkali saya terlalu banyak berpikir ketika ingin menulis sesuatu. Saya berpikir apakah yang saya tulis ini akan menarik perhatian orang lain. Apakah topik yang saya ambil ini akan memberikan dampak yang baik bagi orang lain. Pendek kata, saya lebih memikirkan orang lain lalu mulai berpikir dan mengolah topik yang menurut saya "mungkin" baik. Sepertinya tindakan saya itu tidak terlalu tepat.
Ada yang mengatakan bahwa sebaiknya saya justru berpikir tentang apa yang ingin saya katakan pada orang lain. Jadi justru terbalik, bukan memikirkan apa yang orang lain inginkan tapi justru memikirkan apa yang ingin saya utarakan. Hmmm.. ini adalah hal baru yang harus saya benar-benar pertimbangkan.
Saya berpikir tentang resonansi, sejauh yang saya tahu, mudah-mudahan tidak salah dan mohon diperbaiki jika salah. Misalnya jika kita menciptakan suara lalu sekeliling kita bila memiliki frekuensi yang sama, maka sekitar kita akan bereaksi dan membuat getaran yang serupa. Begitu? Ini yang ingin saya angkat dalam tulisan, dan jika istilah resonansi tidak tepat dalam ilustrasi yang saya barusan ungkapkan, sekali lagi mohon dimaafkan hahaha..
Yang paling mudah digambarkan sebetulnya musik. Seperti kemarin ketika saya menjemput Kano dari tempat kerja, kebetulan di mobil terdengar lagunya Labirinth, Jealous, lalu saya cerita ada di sebuah kontes talenta, salah seorang kontestan menyanyikan lagu ini dan dia persembahkan untuk sahabatnya yang sudah wafat karena kalau tidak salah terbunuh. Penyanyi itu merasa iri karena sahabatnya itu sudah berbahagia tanpa dirinya.
"Are you ok?" Tanya Kano
"Yes, I am. This song has touched me." Kata saya sambil mengusap sedikit air mata di sudut mata saya
Entah apakah ini yang disebut dengan resonansi dari sebuah musik. Saya juga ingat ketika dulu sekali, ketika pertama kali saya membaca buku Pramudia Ananta Toer, Bumi Manusia. Ketika mencapai halaman terakhir dan menyelesaikan buku itu, saya harus berhenti sejenak dan keluar rumah karena saya sulit bernapas!
Nah sepertinya akan sulit bagi saya untuk bisa menulis sesuatu yang beresonansi karena sejauh ini saya hanya menyukai prosesnya dan getarannya hanya dinikmati sendiri hahaha..
Foto Credit: craftyourcontent.com