Kita adalah makhluk yang sosial. Pikiran purba kita terlalu takut untuk ditinggal sendirian, sampai-sampai benak kita secara fisik mulai memburuk jika kita menghabiskan waktu terlalu lama tanpa orang lain.
Anehnya, manusia juga makhluk yang amat berbeda-beda. Tidak seperti lebah atau semut, yang pekerjanya berbentuk identik untuk mencapai efektifitas maksimal, tak ada manusia yang sama persis. Begitu banyak variabel di dalam diri manusia, cara kita membaca dunia dan bertindak. Kita individualis. Kita egois. Kita punya sudut pandang yang kita gigit dengan gigi geraham dan pertahankan mati-matian. Kita bisa tidak setuju dan berselisih, kita bisa saling hadang dan sakiti.
Karena itu, kendati harus bersama-sama, kita juga sulit menerima keberadaan orang lain dan menyetujui semua pendapat mereka. Paradoks ini agak lucu, kalau dipikir-pikir, sampai kita teringat kalau sifat kita ini berakibat pada manusia menghancurkan manusia lain berkali-kali sepanjang kera berkaki dua ini sudah berjalan di bumi.
Kita menyayangi pendapat kita jauh lebih dibanding apapun. Mungkin karena pendapat kita merupakan refleksi dari diri kita- jadi masuk akal kalau kita amat protektif terhadapnya. Sayangnya, hal itu membuat kita relatif mengalami kesulitan dalam memahami orang lain. Padahal pengertian adalah hal yang esensial dalam membangun koneksi dan empati yang- seperti sudah kita jelaskan, merupakan bagian penting bagi kehidupan kita.
Empati butuh ditempa dan diasah. Empati butuh diajarkan dan dilatih. Karena itu, butuh ada orang-orang yang membantu. Dan, kalau aku sampai bertemu dengan mereka, aku ingin melihat dan belajar.
Keren... Terima kasih Farzan. Tulisan yang reflektif...