AES 1450 What Truly Matters
joefelus
Friday August 22 2025, 2:16 PM
AES 1450 What Truly Matters

"The changing of sunlight to moonlight. Reflections of my life
Oh how they fill my eyes."

Entah bagaimana, tiba-tiba lagu ini mucul di channel Youtube yang sedang saya gunakan. Ini lagu jaman saya kecil dan sering sekali diputar oleh ayah saya. Kalau tidak salah dinyanyikan oleh kelompok penyanyi berjuluk Marmalade sekitar akhir tahun 60-an atau awal 70-an.

Sambil tersenyum-senyum mengenang masa kecil saya dan mau tidak mau memperhatikan liriknya yang pada intinya menceritakan perjalanan hidup yang berat karena dunia sedang tidak baik. Saya langsung mengangguk-angguk karena sepertinya cocok sekali dengan kondisi saat ini. Ketidakadilan ada di mana-mana, orang-orang yang berkuasa sibuk dengan diri masing-masing, di tanah air malah para wakil rakyat membuat sakit hati masyarakat jelata dan miskin karena berjoget ria karena gaji mereka dinaikan, bahkan tunjangan rumah mereka pun sangat fantastis. Ini menyakitkan rasa keadilan jika melihat rakyat jelata yang harus mengais receh di jalan raya menjadi pengendara ojol hanya sekedar dapat menghidupi keluarga.

Anehnya, belum lama ini saya melihat sebuah artikel yang menyatakan bahwa Indonesia adalah salah satu negara terbahagia di dunia! "Yang benar aja!" Kata saya. Topik ini bahkan dibahas di acara kumpul-kumpul menjelang 17-an kompleks tempat saya tinggal bersama beberapa orang profesor yang menjadi tetangga saya. Luar biasa! GDP Indonesiaitu hanya ratusan Dollar, kalah jauh dari negara-negara tertangga. Indonesia bukan negara kaya bahkan entah berapa persen masyarakatnya masih jauh dibawah garis kemiskinan. Kok bisa dianggap sebagai negara terbahagia di dunia? Ada yang bilang Indonesia negara terbahagia di dunia nomor 2, nomor 1 itu United Kingdom. Versi lain memang tetap Finlandia. Pertanyaan saya, kriteria apa yang menjadikan Indonesia sebagai negara nomor 2 terbahagia di dunia?

Saya tidak mau berdebat. Katanya penelitian mereka mengatakan bahwa lebih dari 70% masyaraat Indonesia mengaku hidupnya bahagia. OK. Bagus jika memang begitu. Ada kesangsian? Tentu saja. Walau data yang diperoleh dinilai sangat empirik dengan margin of error rendah, tetap saja data itu diperoleh dari sampel dan yang menjawab penelitian yang mereka lakukan bisa saja tidak mengerti apa yang dimaksud dengan bahagia.

Kebahagiaan memang sulit untuk diuraikan. Banyak yang mengatakan bahwa jika dari faktor finansial baik, maka orang bisa saja disebut bahagia. Jika demikian, mengapa banya orang yang memutuskan untuk mengakhiri hidupnya di Jepang, Korea bahkan di Amerika? Bahkan di Amerika selalu ada telepon khusus (hotline) di tempat-tempat tertentu, seperti jembatan (karena banyak orang yang mengakhiri hidupnya dengan melompat dari situ). Jika negara kaya justru banyak orang yang begitu, apakah bisa dianggap mereka bahagia? Nah di sini pertanyaannya. Jadi jika mengacu dari salah satu faktor, belum tentu dapat menjadi tumpuan utama tentang kebahagiaan. Jadi, mungkin saja, bisa saja negara miskin bisa tetap bahagia. Seperti misalnya Indonesia!

Saya punya sedikit pendapat. Kebahagiaan memang sangat kompleks, tergantung pada banyak sekali faktor dan masing-masing individu memiliki pedapat yang berbeda. Dalam diskusi di kompkes kemarin, saya menyampaikan sedikit opini. Saya katakan, masyarakat Indonesia itu unik. Kita begitu kreatif sehingga hal yang biasa saja dapat menjadi sangat luar biasa. Kita dapat mengubah hal yang sepele menjadi begitu menarik dan menyenangkan. Lihat saja anak-anak di kampung. Mereka tidak perlu memiliki gawai untuk berbahagia, cukup menemukan kulit jeruk bali lalu dibuat mobil-mobilan, atau roda sepeda bekas bisa digelindingkan dengan sebatang tongkat keliling kampung. Saya dulu begitu. Jadi jika ada orang Amerika melihat bahwa anak-anak Indonesia tidak mungkin bisa berbahagia karena tidak punya Xbox atau PS5, itu salah besar. Kebahagiaan tidak bisa semata-mata tergantung pada keberadaan teknologi atau kemampuan finansial. Petani di Jawa tengah cukup berbahagia dengan duduk di bale-bale sambil nyeruput secangkir kopi yang ditaruh di atas pisin, sebongkah kecil gula kelapa serta rebusan pisang atau singkong sambil menikmati hamparan padi yang menghijau. Bagi orang di kota besar ini tidak berlaku! Kenapa tidak? Karena mereka memiliki kepentingan yang berbeda!

Nah, dalam diskusi itu saya katakan orang akan bisa berbahagia jika they know what truly matters! Di sini kuncinya! If I know what truly matters for me and I can get them, then most likely I will be happy. Yang seperti ini khan sulit diukur! Para ahli berusaha menjabarkan kebahagiaan dengan melihat happiness index. Faktor-faktor apa yang menjadi happiness index determinace, dan lain sebagainya. Happiness index digunakan untuk mengukur hal yang sangat sulit diukur. Saya pusing dan juga sekaligus tidak ingin ambil pusing. Yang ingin saya dengar adalah jika seseorang berkata: "Alhamdulillah, pak. Walau sekarang jaman susah, saya masih bisa kerja, anak-anak bisa sekolah tinggi dan tiap hari kami bisa tidur nyenyak, makan cukup dan anak-anak sehat." Nah, kalau sudah begitu, saya bisa melihat bapak tadi punya hal-hal yang bagi dia truly matters. Mungkin (sekali lagi mungkin loh..) orang-orang Indonesia meganggap dirinya bahagia dan menjawab puas dalam hidup yang penuh keterbatasan karena semata-mata yang mereka anggap penting dalam hidup sudah terpenuhi.

Foto credit: visualcapitalist.com

You May Also Like